Hindari Saling Menatap Lama Bareng Pasangan - Male Indonesia
Hindari Saling Menatap Lama Bareng Pasangan
MALE ID | Relationships

Menatap mata seseorang bisa menimbulkan berbagai perasaan. Jika Anda menatap mata orang yang Anda cintai, Anda mungkin akan melihat kupu-kupu berterbangan di sekitarnya. Selain itu, saling menatap juga membuat suasana terasa romantis.

Photo by Matt W Newman on Unsplash

Ya, kontak mata sangat kuat dan mengungkapkan banyak arti yang tidak setiap orang sadari. Kenyatannya, orang tidak pernah menatap seseorang lebih dari beberapa detik. Durasi kontak yang benar dan membuat orang nyaman adalah tidak lebih dari 3,3 detik. Tapi, apa yang terjadi jika Anda menatap seseorang selama 9 menit, 57 detik, atau lebih dari itu?

Dilansir Your Tango, menurut hasil penelitian yang dilakukan pada 2015, menyebutkan menatap seseorang dengan durasi waktu tersebut bisa menyebabkan halusinasi dan keadaan disosiatif. Penelitian yang dilakukan oleh Giovanni B. Caputo dari University of Urbino di Italia, melibatkan 20 orang (15 di antaranya wanita) dalam cahaya rendah, yang memungkinkan peserta memberikan persepsi rinci tentang karakter wajah yang halus sekalipun.

Dia kemudian meminta 10 pasangan untuk saling menatap selama 10 menit. Caputo juga membuat kelompok yang terdiri dari 20 orang untuk menghadap ke tembok dan menganggapnya sebagai orang lain.

Setelah 10 menit, peserta dalam kedua kelompok melaporkan pengalaman mereka menggunakan kuesioner yang menanyakan tentang potensi keadaan disosiatif serta wajah pasangan mereka. Hasilnya, kelompok pasangan yang saling memandang mata cenderung mengalami gejala disosiatif, persepsi wajah dysmorphic dan melihat penampakan aneh seperti halusinasi.

Disosiasi terjadi ketika seseorang terputus dari kenyataan. Sementara gejala disosiatif biasanya bervariasi, orang-orang yang terlibat dalam penelitian juga mengeluhkan beberapa gejala lain, seperti intensitas warna berkurang, suara terdengar lebih tenang atau lebih keras dari yang diharapkan, dan waktu terasa sangat lama.

Di sisi lain, peserta juga melihat penampakan wajah aneh, termasuk wajah terlihat seperti ada cacat, seperti monster, melihat wajah mereka sendiri di wajah pasangan atau wajah kerabat.

Menurut Caputo, gejala aneh mungkin ada hubungannya dengan rebound ke realitas dari keadaan disosiatif yang disebabkan oleh kekurangan sensorik. Dia menduga bahwa penampakan wajah aneh disebabkan oleh proyeksi psikodinamik.

"Obat-obatan yang dikonsumsi mungkin memengaruhi setiap orang secara berbeda. Dan saya tidak pernah merekomendasikan penggunaan obat apapun yang tidak sah. Namun, sejauh yang saya tahu, menatap mata seseorang belum dilarang, jadi lanjutkan dengan risiko Anda sendiri," kata Caputo.

SHARE