5 Musisi Ini Bicara Proses Ciptakan Lagu Barunya - Male Indonesia
5 Musisi Ini Bicara Proses Ciptakan Lagu Barunya
MALE ID | News

Dalam proses menciptakan sebuah lagu. Seorang musisi memiliki prosesnya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang membutuhkan kesendirian, bahkan ada pula yang memang membutuhkan observasi sebelum lagu itu ditulisnya.

Photo: muzz/YouTube

Selain itu, tidak hanya dalam hal mencari inspirasi. Saat proses perekaman lagunya sendiri pun, musisi memiliki keunikannya sendiri. Ada yang mengombinasikan dengan unsur alat musik lain, seperti alat rumah tangga dan lain sebagainya. Nah, begitu juga dengan beberapa musisi berikut ini.

Moby-All Visible Object 


Album ke-17 yang berjudul "All Visible Object" direkam di studio Eastwet yang legendaris. Moby merekamnya di studio 3 dimana suara hewan peliharaan ikut direkam dan menggunakan alat yang sama seperti yang dipakai dalam pembuatan Ziggy Stardust dan piano yang digunakan Sinatra untuk merekam beberapa lagu hitsnya. 

Album ini berisi pesan tentang menjaga bumi serta habitat didalamnya. Keuntungan dari  penjualan album yang dirilis dalam format CD, LP dan digital ini juga akan didonasikan ke berbagai badan amal diantaranya adalah Brighter Green, Mercy for Animals, dan Rainforest Action Network.

Single andalan dari album ini adalah ‘Power Is Taken’. Dalam single ini, Moby berkolaborasi dengan D.H Peligro (drummer Dead Kennedys) dan rapper Boogie. Single ini mendapat respon positif dari media dan pengamat musik.

Album “All Visivle Object” berisi 11 lagu. Seluruh lagu ditulis dan diproduseri oleh Moby, kecuali untuk ‘My Only Love’ oleh Bryan Ferry dan ‘Refuge’ oleh Moby dan Linton Kwesi Johnson. Single terbaru dari album ini adalah 'My Only Love'.

Perfume Genius-Set My Heart on Fire Immediately


Michael Alden Hadreas adalah musisi Amerika yang dikenal dengan nama Perfume Genius. Ia telah merilis 4 album sejak tahun 2010 yaitu "Learning" (2010), "Put Your Back N 2 It" (2012), "Too Bright" (2014), dan "No Shape" (2017). Di tahun 2020, ia merilis single 'On The Floor' sebagai pembuka album terbarunya.

Masih di tahun 2020, ia juga merilis "Set My Heart on Fire Immediately" bareng Matador Records. Pada saat perilisannya, Hadreas melakukan interview bareng Editor-in-Chief Pitchfork, Puja Patel, di Pitchfork’s livestream Listening Room yang dilanjutkan dengan penampilan Perfume Genius secara live. Album ini juga mendapat review yang positif dari Pitchfork, Variety, Rolling Stone dan New York Times. 

Album ini mengeksplorasi konsep maskulinitas dan peran tradisional, serta memperkenalkan pengaruh musikal Amerika. "Saya ingin merasa lebih terbuka, lebih bebas, dan liar secara spiritual," kata Hadreas.

"Dan saya sekarang berada di tempat di mana perasaan itu terasa sangat dekat, tetapi hal itu dapat membatasi banyak hal. Saya menulis lagu-lagu ini sebagai cara untuk menjadi lebih sabar, untuk lebih dipertimbangkan dalam membuat semua kekacauan disekitar saya menjadi sesuatu yang hangat, kuat dan nyaman,” jelas Hadreas. 

Circa Waves-Sadder Happier


Circa Waves merilis EP “Sadder Happier” yang berisi 5 lagu akustik via Profilica Inc/[PIAS]. EP ini berisi 5 lagu yang belum dirilis, termasuk versi akustik ‘Sad Happy’, yang memperkenalkan dimensi baru yang lekat akan emosi dan rasa kedekatan yang menjadi favorit para fans.  

Sad Happy’ adalah single andalan yang diambil dari album terakhir Circa Waves yang berjudul sama, “Sad Happy”. Yang menjadi rilisan dengan hasil fantastis, menjadi debut di no 4 pada UK Official Album Charts. Lagu lainnya dalam EP ini adalah ‘Gun In My Hand’, ‘The Only One Who Lets Me In’, ‘Sugar Side’ dan ‘Anti Social Anxiety’. 

Muzz-Muzz


Band ini bisa dibilang band baru muka lama. Anggotanya adalah Paul Banks (Interpol), Matt Barrick (The Walkmen) and Josh Kaufman (Bonny Light Horseman) yang sudah bersahabat sejak lama. Di tahun 2020 ini, mereka merilis album debut berjudul "Muzz" dibawah naungan Matador Records. 

Beberapa single telah dirilis dalam rangka menyambut debut album ini. Ada ‘Broken Tambourine’, ‘Bad Feeling’ yang sempat di-upload secara anonym di Soundcloud, serta  ‘Red Western Sky’. Perjalanan rekaman Muzz dimulai pada tahun 2015. Demo music Banks atau Kaufman diperdengarkan bersama. Ketiganya menyumbangkan lirik dan membantu membentuk hal-hal secara vocal, karena biasanya Banks menjadi penulis lirik tunggal.  

“Josh memiliki lebih banyak teori music sementara Paul berasal dari sebuah perspektif yang berbeda. Anda tidak akan pernah tahu bagaimana Paul akan menyelami sebuah lagu, secara lirik dan melodi. Hal-hal ini yang membuat proses kami menjadi tidak biasa dan terasa menarik," ungkap Barrick.

Setiap orang, lanjut Barrick, terbuka terhadap gagasan orang lain. Barrick merasa, 3 adalah jumlah yang pas untuk sebuah band. "Kami semua memiliki andil besar dalam segalanya," kata Barrick.

Album “Muzz” ini ditulis, diatur dan dilakukan oleh ketiganya. Terasa gelap dan indah, luas dan penuh perasaan. Tidak peduli kemana arah sonik, Muzz menjangkaunya dengan mudah dan dengan muatan emosi maksimum.

Bruno Major-To Let a Good Thing Die


Bruno Major akhirnya merilis album keduanya, “To Let A Good Thing Die”, sebuah kumpulan berbagai kisah indah yang terjalin dengan narasi abadi tentang hubungan manusia, cinta dan patah hati, serta renungan eksistensial. Melalui rilisan ini, Bruno menunjukkan keahliannya dalam merangkai lirik dan musik secara kontemporer yang menjadi landasan bagi kisah klasik masa kini di jaman modern. 

Single yang sudah dirilis Bruno adalah ‘Old Soul’, sebuah lagu yang menggambarkan periode fana dan letih yang sering muncul setelah hubungan berakhir, serta penerimaan akan seseorang yang baru dengan realita yang ada. Dilanjutkan dengan 'The Most Beautiful Thing' hasil kolaborasinya dengan Finneas, dan terakhir adalah 'Figment of My Mind'. 

SHARE