Penderita Jantung Lebih Waspada Terhadap Virus - Male Indonesia
Penderita Jantung Lebih Waspada Terhadap Virus
MALE ID | Sex & Health

Virus yang disebut SARS-CoV-2 sebagai penyebab COVID-19, dikenal akan efeknya pada paru-paru dan saluran napas sehingga tergolong membahayakan. Namun, jurnal dari JAMA Cardiology juga menjelaskan bahwa infeksi pernapasan akut merupakan salah satu pemicu untuk penyakit jantung. Selain itu, sebagian besar pasien meninggal saat terjadi epidemi influenza terjadi akibat gangguan jantung. 

Photo by Ashkan Forouzani on Unsplash

Pemahaman tentang COVID-19 masih terus berkembang, dan para peneliti masih terus mencari tahu lebih banyak mengenai virus ini. Ahli penyakit jantung dari Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk Jakarta dr Leonardo Paskah Suciadi SpJP meminta penderita penyakit jantung untuk menjaga kondisi kesehatannya pada saat pandemi Covid-19.

"Kita memang perlu waspada dengan Covid-19, namun jangan lupa waspada juga bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit jantung," ujar Paskah dalam telekonferensi. "Virus corona bisa menyerang secara langsung ke otot jantung melalui reseptor yang ada. Lalu dapat mencederai jantung, juga menyebabkan peradangan otot jantung," tambahnya.

Penyakit jantung, kata dia, merupakan penyakit yang tidak bisa ditunda dalam penanganannya. Ia memberi contoh dalam beberapa waktu terakhir, cukup banyak tokoh publik yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut. "Jadi memang tidak bisa ditunda penanganannya dan tidak boleh ada toleransi waktu. Semakin cepat penanganannya maka semakin baik," kata dia. 

Dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini, lanjut dia, penderita penyakit jantung harus tetap menjaga kesehatan jantungnya. Termasuk harus mengonsumsi obat-obatan yang berfungsi menstabilkan fungsi jantung.

Jika kondisi tersebut tidak dijaga, maka dikhawatirkan jika penderita penyakit jantung tersebut terinfeksi Covid-19, maka akan mengakibatkan kondisi kesehatannya semakin menurun.

"Terutama pada minggu kedua setelah terinfeksi virus. Pada minggu pertama mungkin gejalanya belum terlalu berat, namun pada minggu kedua gejalanya mulai berat dan pada saat itu terjadi badai sitokin yang mana sel-sel tubuh merespon berlebihan. Misalnya jika kondisi itu dialami penderita penyakit jantung, maka pada fase itu akan terjadi serangan jantung," terang dia.

Dia meminta penderita penyakit jantung untuk tidak takut untuk mendatangi rumah sakit dalam rangka mengontrol kesehatannya. Sejumlah protokol kesehatan diterapkan untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan rumah sakit. "Sejauh ini tidak ada obat-obatan standar di bagian jantung yang meningkatkan risiko terkena Covid-19," jelas Paskah.

Tidak hanya virus corona, ungkap Dokter Leonardo, beberapa laporang juga menyebutkan bahwa virus lain dapat mampir ke otot jantung secara langsung. Dampaknya tentu bisa menyebabkan gangguan secara langsung.  "Kalau di awal bisa terjadi komplikais yang bisa tercetus oleh COVID-18, nantinya bisa menjadi serangan jantung," terangnya.

Maka agar tidak membahayakan diri, Dokter Leonardo meminta Anda untuk menjaga kedisiplinan diri dalam melakukan pola hidup bersih dan sehat. Terutama untuk menjaga kebersihan diri, seperti rajin cuci tangan pakai sabun, menggunakan masker saat bepergian, hingga mengganti cuci tangan dengan memakai hand sanitizer bila terpaksa. "Paling penting tetap stay at home, jaga imunitas, usahakan hindari keramaian," tegasnya. 

SHARE