Tembakau Bisa Cegah Covid-19 Hanya Mitos - Male Indonesia
Tembakau Bisa Cegah Covid-19 Hanya Mitos
MALE ID | Sex & Health

Beberapa bahan alami diyakini bisa cegah bahkan menangkal virus corona tipe baru, SARS-CoV-2 dengan meningkatkan imunitas tubuh. Di antara bahan alami yang belakangan sering disebut berkhasiat melawan virus penyebab Covid-19 itu adalah tembakau dan cengkih, khususnya dalam rokok.

Male IndonesiaPhoto by Bianca Berg on Unsplash

Dalam kuliah melalui grup Whatsapp yang diinisiasi PP Nasyiatul Aisyiyah, Dr Feni Fitriani Taufik SpP(K) mengungkapkan informasi tersebut hanyalah mitos. Kandungan dalam rokok yang diasumsikan akan bermanfaat bagi tubuh justru sangat keliru. "Itu mitos. Dengan merokok, tembakau dirasakan dengan dibakar, nah pembakaran yang tidak sempurna itu yang berbahaya untuk kesehatan," kata Feni.

Panas asap rokok yang diklaim bisa melindungi orang dari virus, ucap Feni, juga tidak benar. Menurut Feni, apabila ada satu atau dua penelitian yang mendukung klaim itu, sejatinya lebih banyak atau setidaknya 12 penelitian besar yang membantah hal tersebut.

Asap utama maupun sampingan dari rokok berbahaya, baik bagi perokok aktif maupun pasif. Begitu juga rokok elektronik yang tetap berisiko menjadi sarana penularan virus, terlebih jika selang atau tabung dipakai beramai-ramai.

 
 

Feni merekomendasikan masyarakat untuk menghalau Covid-19 dengan tetap mengikuti anjuran yang berlaku umum. Bagi perokok, sebaiknya memilih berhenti dan mengikuti anjuran pemerintah. "Ikuti jarak sosial, pakai masker, sering cuci tangan, jaga kebersihan, ganti baju setelah dari luar, cuci dengan sabun agar kalau ada virus menempel bisa musnah Jangan stres karena bisa menurunkan daya tahan tubuh," jelas Feni.

Kemudian, dr Feni Fitriani Taufik SpP(K) juga mengungkapkan, merokok juga ada kaitannya dengan dengan risiko terkena Covid-19. Ia menjelaskan, merokok dapat merusak sistem pernapasan maupun imunitas secara keseluruhan. "Sementara itu, virus Covid-19 juga pertama masuk pernapasan dan bisa menyerang organ tubuh lainnya," papar dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Jakarta, sekaligus anggita Pokja Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Ada alasan yang menyebabkan perokok menjadi lebih rentan terinfeksi virus corona. Kebiasaan merokok meningkatkan kadar reseptor ACE2, protein yang terletak di permukaan sel di seluruh tubuh, termasuk di saluran pernapasan. Jadi reseptor seorang perokok 40 sampai 50 persen lebih banyak  dibandingkan orang yang tidak merokok. “Kalau yang sudah tidak merokok kadar ACE 2-ya sudah lebih rendah, yakni 30 persen," ujar Feni.

Perlu diketahui, reseptor ini adalah tempat menempelnya virus corona tipe baru penyebab Covid-19 sebelum menyebar ke organ lain. Orang yang merokok memiliki risiko terkena Covid-19 sebanyak 2,25 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. "Virus Covid-19 masuk ke saluran napas atas, kemudian ke bawah. Menempel berikatan dengan reseptor ACE 2. Menurut penelitian, perokok memiliki ACE 2 lebih banyak dibandingkan yang tidak merokok," ungkap Feni.

Merokok juga meningkatkan transmisi virus akibat kontak tangan dengan mulut. Perokok juga dua kali lipat lebih mudah tertular penyakit influenza, memiliki gejala yang lebih berat, dan memiliki mortalitas lebih tinggi pada wabah sindrom pernapasan Timur Tengah yang disebabkan oleh MERS-CoV pada 2002.

Feni turut memaparkan meta analisis hubungan rokok dengan Covid-19. Meta analisis terhadap 12 hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 9.025 orang pasien positif Covid-19, terdapat 878 orang (9,7 persen) mengalami sakit dan 495 orang (5,5 persen) memiliki riwayat merokok. "Sebanyak 17,8 persen riwayat merokok mengalami gejala penyakit Covid yang berat dibandingkan bukan perokok (9,3 persen)," ungkap Feni.

SHARE