Wiski Sempat Jadi Obat saat Pandemi 1918 - Male Indonesia
Wiski Sempat Jadi Obat saat Pandemi 1918
MALE ID | Story

Ketika influenza mulai melanda Amerika Serikat pada tahun 1918, sebuah negara yang ketakutan mencari obat yang belum terbukti tetapi sudah dikenal, yaitu wiski. Tapi kala itu wiski pun susah didapat, karena ada larangan undang-undang untuk beredarnya minuman keras.

Ilustrasi: by Dylan de Jonge on Unsplash

Ketika warga negara bagian yang "kering" meminta wiski untuk mencegah atau mengobati virus yang mematikan itu, beberapa pejabat yang memiliki banyak akal mendapat solusi, bebaskan toko besar minuman keras bajakan yang telah disita sejak undang-undang di seluruh negara bagian diberlakukan.

Dalam laman History, surat kabar di seluruh AS melaporkan bahwa dokter militer memberikan wiski yang disita di kamp-kamp Angkatan Darat, yang terkena flu parah. Di Richmond, Virginia, dua gerbong kereta api dilaporkan melaju ke Camp Lee yang terkepung. Di Camp Dodge, Iowa, di mana lebih dari 500 tentara telah tewas, dan ratusan liter wiski telah dikirim untuk melawan influenza.

Angkatan Darat sebagian besar bungkam tentang apa yang dilakukannya, sementara pasukan pro-Larangan menyatakan bahwa kisah-kisah itu dibesar-besarkan, jika tidak sepenuhnya salah. Beberapa menyebut mereka propaganda Jerman. Tapi tak lama, para pejabat juga mengeluarkan wiski bajakan mereka untuk rumah sakit sipil. 

Rumah sakit di Omaha, Nebraska menerima 500 galon, milik sheriff setempat. Sementara itu, komisaris Internal Revenue Service di Washington, memerintahkan agen pendapatannya di North Carolina untuk mendistribusikan wiski yang disita ke rumah sakit di seluruh negara bagian.

Perdebatan Manfaat Wiski Sebagai Obat
Komunitas medis terpecah, mereka mempertanyakan apakah wiski benar-benar bermanfaat dalam memerangi influenza atau apa pun. Farmakope Amerika Serikat yang sangat disegani, yang menerbitkan standar untuk resep dan obat-obatan bebas, telah menjatuhkan wiski, brendi, dan anggur dari daftarnya pada tahun 1916. 

Tahun berikutnya, Dewan Delegasi Asosiasi Medis Amerika telah menjatuhkan bobotnya. di balik Larangan, atas keberatan dari beberapa delegasi, bahwa "penggunaan alkohol sebagai agen terapi harus dicegah."

Namun, banyak dokter terus merekomendasikan dan meresepkan wiski untuk pandemi influenza dan berbagai macam penyakit lainnya. Ketika AMA menyurvei dokter pada masalah ini di tahun 1922, 51 persen mengatakan mereka menganggap wiski sebagai "agen terapi yang diperlukan." 

Beberapa dokter percaya alkohol membantu merangsang jantung dan sistem pernapasan pasien yang lemah karena penyakit, sementara yang lain berpikir efek penenangnya membuat pasien yang menderita lebih nyaman. Bahkan di negara-negara di mana minuman beralkohol dilarang, dokter sering menulis resep yang di dalamnya terdapat wiski dan apoteker dapat mengeluarkannya, tapi dengan batasan tertentu. 

Di Colorado, misalnya, dokter harus mendapatkan formulir resep bernomor dari negara bagian, dan resep dibatasi hingga empat ons. Di Michigan, dokter dapat meresepkan hingga delapan ons, tetapi harus menunjukkan berapa banyak resep yang telah diterima pasien pada tahun sebelumnya. Apoteker kemudian harus meneruskan formulir itu ke jaksa wilayah. Di Indiana, dokter hanya bisa meresepkan alkohol gandum murni.

SHARE