Konflik Cinta dan Hasrat Seksual dalam Hubungan - Male Indonesia
Konflik Cinta dan Hasrat Seksual dalam Hubungan
MALE ID | Men Scope

Ketika kita berpikir tentang cinta kepada lawan jenis, banyak dari kita juga berpikir tentang hasrat seksual. Bagi sejumlah pasangan, cinta dan seks berjalan bersama. Menurut psikiater dan ilmuwan saraf dari Universitas Chicago di Illinois, Stephanie Cacioppo PhD, ada tumpang tindih antara cinta dan hasrat seksual.

Male IndonesiaPhoto by Anastasia Sklyar on Unsplash

Dalam makalah yang pernah dia tulis menyebutkan bahwa ketika seseorang melihat gambar seseorang yang membangkitkan gairah seksual, beberapa area otak yang sama akan mengaktifkan rasa kasih sayang. Area-area tersebut meliputi insula dan korteks cingulate anterior, yang juga merupakan bagian yang memperkuat perilaku manusia untuk bertahan hidup, seperti makan dan minum.

Namun, para peneliti lain menunjukkan bahwa cinta dan hasrat, meskipun mereka tumpang tindih di otak namun tidak sepenuhnya berlaku. Para peneliti dari Concordia University di Quebec, Kanada, melakukan tinjauan terhadap studi yang "memetakan" lokasi cinta versus dorongan seksual di otak. Tim menyimpulkan bahwa meskipun cinta dan keinginan terhubung dengan area otak yang disebut striatum, namun masing-masing mengaktifkan lokasi spesifik yang berbeda di area itu.

Para peneliti menjelaskan bahwa keinginan mengaktifkan bagian dari striatum itu terkait dengan respons seperti makan, minum, dan berhubungan seks. Cinta mengaktifkan bagian-bagian striatum yang terkait dengan respons atau hal-hal berupa sensasi pengalaman menyenangkan. Namun ini juga merupakan bagian dari striatum yang terkait dengan kecanduan. Sehingga para peneliti berpendapat bahwa cinta dapat bermanifestasi seperti kecanduan di otak.


"Cinta sebenarnya adalah kebiasaan yang terbentuk dari hasrat seksual ketika hasrat dihargai," kata Prof Jim Pfaus, peneliti dari Universitas Concordia, Kanada.
Ia merefleksikan "lokasi" cinta versus hasrat seksual di otak. "Ini bekerja dengan cara yang sama di otak seperti ketika orang menjadi kecanduan narkoba," ujarnya dilansir dari medicalnewstoday.com.

Bisakah kendalikan cinta?
Karena cinta adalah pengalaman yang begitu kompleks dan sering mengejutkan, timbul pertanyaan apakah orang bisa mengendalikannya atau tidak? Sandra Langeslag Ph.D, asisten profesor ilmu saraf perilaku di University of Missouri, St Louis, yang juga pakar neurokognisi, mengatakan bahwa beberapa orang berpikir bahwa cinta adalah proses alami yang tidak boleh dikendalikan, atau bahwa pengaturan cinta sangat sulit atau bahkan tidak mungkin.

“Bagaimana orang benar-benar dapat menambah atau mengurangi perasaan cinta mereka pada seseorang? Jawabannya cukup sederhana, jika Anda ingin mengurangi perasaan cinta Anda kepada seseorang, Anda harus memikirkan kualitas negatifnya, misalnya sering bertengkar. Atau Anda juga bisa membayangkan skenario negatif di masa depan, misalnya pasangan Anda akan menipu Anda,” kata Langeslag.

Pikiran negatif seperti itu, menurut dia, akan mengurangi kegilaan dari cinta yang penuh gairah dan keterikatan pada perasaan yang menyertainya.  Sedangkan sebaliknya, dia berpendapat, jika Anda ingin meningkatkan perasaan cinta kepada seseorang, Anda harus memikirkan kualitas positif pasangan, misalnya si dia sangat lucu. Atau kualitas positif dari hubungan Anda, misalnya Anda dan pasangan banyak memiliki nilai kesamaan.

“Dalam penelitian saya, asumsi saya adalah setidaknya ada tiga jenis cinta yang berbeda yaitu hasrat seksual, kegilaan (atau cinta yang penuh gairah), dan kemelekatan (atau cinta yang saling mendampingi),” jelas Langeslag.

SHARE