Efek Sentuhan Intim Non-Seksual Bagi Pasangan - Male Indonesia
Efek Sentuhan Intim Non-Seksual Bagi Pasangan
MALE ID | Sex & Health

Penelitian yang dipimpin mahasiswa doktoral bidang psikologi, Samantha Wagner, di kampus tersebut mengatakan tindakan yang dimaksud bukan melulu mengarah pada seks. Melainkan lebih mengacu pada ikatan sosial suatu hubungan dan bagian dari spektrum manusia, misalnya individu yang menghindar terhadap pasangan lebih suka menjaga jarak antarpribadi, sementara individu yang cemas justru ingin mempererat kebersamaan dengan pasangannya.

Male IndonesiaPhoto by Morteza Yousefi on Unsplash

Gejala ini telah berkembang di masa kanak-kanak, tetapi dapat berubah seiring waktu dan variasi hubungan yang dialami oleh individu yang bersangkutan. "Itu semua tergantung pada seberapa terbuka, dekat, dan amannya perasaan Anda dengan orang itu, yang dipengaruhi oleh banyak faktor," kata Wagner, dilansir dari sciencedaily.

Para peneliti tersebut menggunakan sampel hormonal dari 184 pasangan di atas usia 18 tahun. Mereka diwawancarai secara terpisah tentang kecenderungan keterikatan mereka, jumlah sentuhan dan afeksi (rasa kasih sayang) dalam hubungan dan kepuasan hubungan.

Penelitian itu menemukan bahwa individu yang menghindar lebih suka jarang bersentuhan, sedangkan orang yang gelisah justru lebih suka. Dengan kata lain, parameter kasih sayang yang dialami pasangan, memengaruhi tingkat kepuasan mereka saat bersentuhan dengan pasangan.

Sampel dari kalangan pria menunjukkan bahwa tingkat kasih sayang fisik yang rendah dan yang selalu merasa cemas akan kurang puas dengan sentuhan yang mereka terima. Sebaliknya, sampel dari kalangan wanita, jika mereka cemas justru memilih mencari kasih sayang yang hilang dengan cara bersentuhan dengan pasangannya.

Perbedaannya, bagi pria, tingkat afeksi yang rutin berkaitan dengan kepuasan hubungan. Sementara bagi wanita, tingkat afeksi rutin berkorelasi dengan ketidakpuasan hubungan, yang berarti bahwa sentuhan adalah unsur penting dan ketidakhadiran pasangan adalah hal yang buruk.

Persepsi tentang bagaimana pasangan mereka menyentuhnya, memiliki hubungan terbesar dengan kepuasan sentuhan. Artinya, lebih banyak sentuhan akan lebih baik karena mereka bisa lebih mudah melihat bahwa pasangan mereka berusaha untuk mempererat hubungan.

"Menariknya, ada beberapa bukti, dengan memegang tangan pasangan saat Anda berdebat dengannya bisa melemahkan argumen pasangan dan membuatnya lebih produktif," kata Wagner.

Dia menekankan bahwa penelitian ini hanya berfokus pada sentuhan konsensual yang sehat, bukan untuk memanipulasi atau pelecehan. Karena memang, sentuhan memiliki makna berbeda pada setiap orang. Seseorang dengan gangguan spektrum autisme mungkin tak paham pada kepekaan sentuhan. Atau seseorang dengan riwayat trauma pelecehan, mungkin akan merasa benci saat disentuh.

Wagner pun berpendapat, di saat pandemi virus corona (Covid 19) masih berlanjut sekarang ini, suatu pasangan yang terpisah jarak akan mempertimbangkan perlu tidaknya meningkatkan kasih sayang dengan bersentuhan untuk mengurangi stres saat berdiam diri di rumah. Hal itu tergantung pada pasangan mereka, mau menerimanya atau tidak.

Tetapi dia juga mencatat bahwa pandemi Covid 19 bisa menyebabkan berkurangnya sentuhan pada pasangan yang terpisah jarak karena konsekuensi pembatasan jarak sosial membuat mereka secara fisik akan membatasi momen momen kebersamaan.

SHARE