Pengembang Aplikasi Indonesia dan Sistem Low-Code - Male Indonesia
Pengembang Aplikasi Indonesia dan Sistem Low-Code
MALE ID | Digital Life

OutSystems, platform pengembangan aplikasi Low-code dan perusahaan riset teknologi IDC menerbitkan hasil studi IDC mengenai pengalaman para pengembang dalam transformasi digital di Asia-Pasifik. 

Photo by Jonas Lee on Unsplash

Studi ini mengungkapkan bahwa 59% organisasi atau perusahaan di Asia-Pasifik telah mengadopsi platform Low-code, dan 13% dari mereka yang disurvei mengatakan ingin mengadopsi sistem ini dalam waktu 18 bulan ke depan.

Tingkat Adopsi di Indonesia
Berdasarkan hasil gabungan riset Outsystem dan Studi IDC, saat ini tingkat adopsi penggunaan platform Low-code di Indonesia adalah salah satu yang tertinggi di Asia Pasifik dengan mencapai tingkat adopsi sebesar 86%. 

Walau demikian, masih banyak bisnis di Indonesia mengandalkan infrastruktur teknologi lama yang sudah ketinggalan zaman, sehingga masalah kompatibilitas pasti muncul ketika apa yang disediakan oleh platform yang lebih baru, seperti Low-code, harus diintegrasikan dengan perangkat lunak lama. 

Integrasi merupakan kunci untuk mewujudkan efisiensi operasional. Mengintegrasikan aplikasi dengan kumpulan data yang ada dapat membantu bisnis mengumpulkan informasi baru untuk meningkatkan proses dan alur kerja.

Tantangan dalam Pengembangan Aplikasi
Tantangan yang biasa dihadapi dalam pengembangan aplikasi perangkat lunak  hampir sama ditemukan juga di beberapa negara lain di Asia Pasifik, yaitu: Mengintegrasikan berbagai sistem, teknologi dan lingkungan; Kelangkaan SDM; dan Kurangnya keterlibatan pengguna bisnis. 

Para Pengembang lokal juga ingin menghabiskan lebih sedikit waktu untuk melacak bug, men-debug, dan melakukan coding.

Dengan begitu Para Pengembang dapat lebih memusatkan fokus mereka dalam membangun proses dan manajemen aplikasi, melakukan analisis kebutuhan perangkat lunak dan menguji fungsi, unit dan integrasi. 

Karena pada dasarnya, Low-code adalah cara untuk merancang dan mengembangkan aplikasi software dengan cepat, dan kode manual minimal yang memungkinkan pengembang memberikan hasil maksimal yang cepat dan handal.

Indonesia Bisa Memperbaharui Teknologi yang Menua
Peraturan pemerintah tahun 2016 mengenai perlindungan data pribadi membuat banyak organisasi atau perusahaan mengevaluasi alternatif hemat biaya seperti Low-code.

Organisasi atau perusahaan di Indonesia mulai memandang IT sebagai keharusan strategis untuk mengatasi masalah teknologi yang ketinggalan zaman, sehingga meningkatkan daya saing mereka terhadap perusahaan digital native seperti Gojek dan Tokopedia, dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendorong adopsi transformasi digital seperti penghematan biaya, efisiensi operasional dan keunggulan kompetitif.

“Ada kebutuhan bagi perusahaan untuk menemukan cara yang lebih cepat dan lebih sederhana untuk membangun fitur dan aplikasi baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang berkembang. OutSystems memahami tantangan yang dihadapi bisnis dan akan terus mendukung mereka dalam upaya transformasi mereka.”  Kata Mark Weaser, Wakil Presiden, Asia-Pasifik, OutSystems. 

SHARE