Cashless Praktis dan Aman di Tengah Wabah Covid-19 - Male Indonesia
Cashless Praktis dan Aman di Tengah Wabah Covid-19
MALE ID | Works

Tak hanya manusia menjadi korban, dampak wabah virus corona (Covid 19) juga membuat perekonomian global maupun nasional terpuruk. Tak sedikit para pebisnis skala besar, maupun pelaku usaha kecil dan menengah, menjerit dan gelisah karena omzet produk mereka jauh menurun lantaran sepi pembeli.

Male IndonesiaPhoto:Pexels.com

Kita ketahui, sejumlah negara, termasuk Indonesia, menekankan kepada rakyatnya menerapkan physical distancing (jaga jarak aman secara fisik) yang berarti tetap di dalam rumah kecuali harus pergi bekerja atau membeli bahan makanan. Physical distancing dimaksudkan agar memutus mata rantai penyebaran Covid 19.

Maka tak heran, suasana di pasar tradisional, pasar modern (mal/plasa), rumah makan dan kafe-kafe yang biasa menjadi tempat nongkrong, saat ini terlihat sunyi dari konsumen. Transaksi langsung antara penjual dan pembeli kini tak seramai ketika Covid 19 belum mewabah.

Belum lama ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pernyataan bahwa uang tunai (permukaannya) dapat menjadi salah satu alat yang bisa membuat virus corona cepat menyebar. Perputaran uang setiap harus memang terus terjadi di penjuru dunia. Namun dari pernyataan WHO tersebut cukup membuat orang jadi khawatir karena ternyata uang juga berpotensi menyebarkan virus. Sebagai antisipasi agar tak terjadi kontak secara langsung, antara penjual dan pembeli kemudian memilih melakukan transaksi secara cashless.


Cashless adalah cara bertransaksi atau proses pembayaran tanpa menggunakan uang fisik. Kehadiran teknologi keuangan dan digitalisasi, serta alat komunikasi smartphone di Indonesia, pelan-pelan mengubah kebiasaan masyarakat dalam menggunakan alat pembayaran, dari yang semula tunai menjadi nontunai. Proses pembayaran dilakukan dengan sistem semacam digital money, sehingga penggunanya akan lebih mudah melakukan pembayaran atau transaksi keuangan kapanpun dan di manapun. Contohnya seperti credit card, kartu electric money, maupun dompet digital atau digital wallet (OVO, Gopay, Dana, Doku, LinkAja, dll). Dompet digital ini memungkinkan penggunanya untuk menyimpan uang di aplikasi, kemudian memanfaatkannya untuk transaksi pembayaran di merchant offline maupun online.

Peralihan dari pembayaran tunai atau cash ke pembayaran non tunai atau cashless awalnya diinisiasi oleh Peraturan Bank Indonesia (PBI No. 11/12/PBI/2009) tentang uang elektronik pada tahun 2009. Kemudian gagasan transaksi non tunai kembali diperkuat dengan dicanangkannya Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) oleh Bank Indonesia pada tahun 2014. Selanjutnya secara perlahan dalam perekonomian Indonesia, layanan dan fasilitas pembayaran cashless semakin menjamur sejak saat itu. Menurut data dari Bank Indonesia, selama tahun 2019 saja telah terjadi 4,7 juta jumlah transaksi cashless, dan 128 triliun volume transaksi cashless di Indonesia.

Transaksi nontunai memang memiliki beberapa keuntungan. Bersifat praktis dan efisien karena Anda tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar. Transaksi pun relatif aman. Sebab, jika pengguna ingin bertransaksi melalui smartphone maka dibutuhkan kode atau pin khusus yang hanya diketahui oleh pengguna. Seandainya smartphone Anda hilang, tetapi uangnya tidak hilang. Berbeda dengan dompet hilang maka uangnya juga hilang. Cashless juga menghindarkan adanya penggunaan uang palsu dalam bertransaksi.

Perencana keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menjelaskan, penggunaan transaksi nontunai sama halnya ketika memakai uang tunai. Kunci utamanya bukan pada produknya tapi bagaimana Anda bijak menggunakan dan mengelola uang. Intinya kalau Anda mengeluarkan uang, harus mengutamakan kebutuhan dan kewajiban dulu, baru keinginan. Jadi jangan mendahulukan keinginan yang mengakibatkan Anda menjadi boros.

SHARE