Memperbaiki Hubungan Setelah Bertengkar - Male Indonesia
Memperbaiki Hubungan Setelah Bertengkar
MALE ID | Relationships

Menjalin hubungan dengan pasangan ada pasang surutnya. Kadang dijalani dengan bahagia, kadang juga terjadi pertengkaran hingga berujung pada perpisahan. Sesekali bertengkar dengan pasangan sebenarnya sesuatu yang normal. Beradu beragumen adalah wajar jika tujuannya untuk kebaikan hubungan semakin erat, bukan untuk saling menghancurkan.

Male IndonesiaPhoto by Charlie Foster on Unsplash

Bila ingin memperbaiki kembali hubungan dengan pasangan usai bertengkar, ada beberapa hal yang mesti diingat dan dilakukan. Seperti apakah itu, berikut ini uraiannya dilansir dari readersdigest canada.

Jangan bersikap seperti tidak ada yang terjadi
Mengabaikan apa yang memulai pertengkaran atau berpura-pura tidak pernah terjadi bukanlah ide yang bijaksana. “Tetapi buatlah upaya yang jelas untuk memperbaiki kembali hubungan, ini adalah solusi untuk hasil yang sukses. Berbagi cerita dan perasaaan kepada pasangan dari pembelajaran yang Anda dapatkan setelah perkelahian, dapat membantu memperbaiki kerusakan,” kata Lesli MW Doares, seorang konsultan pernikahan di Cary, North Carolina.

Jangan umbar masalah ke publik
Ada orang setelah bertengkar dengan pasangan, kemudian menceritakannya di media sosial, atau kepada teman, keluarga, dan siapa saja yang mau mendengarkan. Semestinya masalah ini bukan untuk konsumsi publik. “Ini bisa sangat merusak kepercayaan pasangan Anda terhadap Anda,” kata Marni Feuerman, seorang psikoterapis di Boca Raton, Florida.

Begitu Anda mengumbarnya ke forum publik, Anda tidak dapat menariknya kembali. Dan orang-orang yang tahu masalah Anda, akan menilai hubungan Anda menurut argumen mereka masing-masing. Akibatnya, problem Anda dengan pasangan malah bisa menjadi tidak semakin baik.

Jangan terlalu lama didiamkan
Semakin lama Anda saling diam-diaman dengan pasangan usai bertengkar, dampaknya semakin buruk pada diri Anda. “Dengan membiarkan waktu berlalu, Anda akan memperpanjang keretakan hubungan, dan bisa menderita stres karenanya,” kata Stacey Laura Lloyd, penulis tentang hubungan yang sehat dalam berpasangan.

"Selain itu, dengan berlalunya waktu, lebih sulit untuk mengingat penyebab konflik pertama terjadi. Ini membuat sulit untuk diselesaikan. Semestinya, setelah Anda punya waktu untuk menenangkan diri, tinjau kembali masalah tersebut dan selesaikan,” ujar Stacey.

 
 


Jangan keras kepala dan tak mau memaafkan
"Dengan tidak menerima permintaan maaf dari pasangan, Anda berarti terus menghukumnya dan mengisyaratkan tidak peduli lagi dengan apa yang dia lakukan atau katakan. Ini tidak baik untuk memperbaiki hubungan," kata Laurel House, konsultan hubungan berpasangan dan pemberdayaan.

"Mengabaikan pasangan Anda hanya akan memperkuat rasa sakit dan kemarahan," kata Antonia Hall, MA, seorang psikolog dan pakar hubungan. Pasangan Anda mungkin jadi merasa dihukum jika Anda tidak memaafkan, mengabaikan, atau mengucilkannya.

Jangan gunakan kata-kata menyakitkan
Setelah Anda selesai berselisih, jangan melontarkan nama panggilan tak bagus dan kata-kata yang menyakitkan kepada pasangan Anda. Mike Goldstein, pendiri tempat pelatihan hubungan berkencan EZ Dating Coach, menyarankan agar menggunakan kalimat yang sederhana, mudah dipahami dan yang lembut untuk membantu pasangan memahami perasaan Anda usai bertengkar. Misalnya, Anda berkata, "Ketika kamu mengabaikan saya saat saya pulang kerja, saya merasa seorang diri memperbaiki hubungan kita menjadi lebih baik."

SHARE