Memprediksi Hubungan Asmara Sejak dari Awal - Male Indonesia
Memprediksi Hubungan Asmara Sejak dari Awal
MALE ID | Relationships

Permulaan suatu hubungan seringkali penuh dengan hasrat dan kegembiraan, tetapi terkadang emosi itu dibayangi oleh pemikiran yang lebih rasional. 

Photo by Cody Black on Unsplash

Tidak jarang khawatir tentang seberapa kompatibel Anda dengan pasangan baru Anda, atau bertanya-tanya berapa lama hubungan itu akan berlangsung. Namun, penelitian baru dapat membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Developmental Psychology menemukan cara untuk menentukan seberapa besar kemungkinan hubungan itu berlangsung berdasarkan tingkat kebahagiaan individu sejak awal.

Psikolog dan penulis penelitian Christine Finn, Ph.D., mengevaluasi lebih dari 2.000 pasangan selama tujuh tahun. Berdasarkan percakapannya dengan mereka, Finn mampu memprediksi pasangan mana yang akan menjadi 16% yang putus.

"Tepat di awal suatu hubungan, seseorang dapat menemukan variabel prediksi tertentu yang memberikan informasi apakah hubungan itu akan bertahan lama atau tidak," katanya dalam laman Mind Body green.

Cara Memprediksi Hubungan yang Langgeng.
Setelah mewawancarai pasangan itu, para peneliti dari Universitas Friedrich Schiller dan Universitas Alberta melihat dua model psikologis yang sudah lama ada. 

Semua pasangan memulai sama bahagia, tetapi masalah yang muncul dari waktu ke waktu akhirnya membuat pasangan berpisah. Pasangan memiliki tingkat kebahagiaan yang berbeda di awal, tetapi semakin negatif perasaan itu, semakin kecil kemungkinannya untuk bertahan lama. 

Apa yang membuat perbedaan antara hubungan jangka panjang dan jangka pendek, adalah tingkat ketidakbahagiaan. "Yang berarti bahwa seseorang yang memulai dari ketidakbahagiaan menjadi semakin tidak bahagia," jelas Christine Finn.

Selain itu, pasangan yang merasa masing-masing kebutuhan mereka terpenuhi, serta mereka yang memiliki kebutuhan serupa, tampaknya tetap bersama paling lama. 

Terlepas dari penemuannya, Finn berkata, tidak ada hubungan yang pasti gagal sejak awal. Faktanya, mengenali kelemahan pada awal hubungan mungkin memotivasi orang untuk melakukan intervensi lebih awal daripada membiarkan ketidakbahagiaan berkembang.

Jika ada ketidakbahagiaan yang terlihat, pasangan bisa secara sadar melakukan hal-hal terbaik untuk kepentingan bersama dan memupuk kedekatan, serta kemandirian. "Namun, jika hubungannya tidak berhasil, masih ada nilai dalam hal itu," kata Finn.
 

SHARE