Peninggalan Pasukan Jepang di Bukit Tinggi - Male Indonesia
Peninggalan Pasukan Jepang di Bukit Tinggi
MALE ID | Relax

Dari 14 destinasi wisata di Nagari Koto Gadang alias Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, salah satunya adalah Lobang Jepang (Japanese Tunnel) yang berada di Jalan Panorama, Bukit Cangang Kayu Ramang, Guguk Panjang.

Male Indonesia

Menurut sejarah, lubang dengan kedalaman sekitar 60 meter dari permukaan tanah itu dibuat Jepang setelah bala tentaranya merebut kekuasaan dari tangan Belanda di negeri ini pada Maret 1942 dan selesai dibangun pada Juni 1944.

Lubang itu berupa lorong/terowongan yang digunakan sebagai basis pertahanan pasukan Jepang dalam menghadapi serangan tentara sekutu saat Perang Asia Timur Raya. Sekaligus menjadi tempat penyimpanan bekal dan peralatan perang. Konon, lorong ini mampu menahan getaran ledakan bom seberat 500 kg.

Penggalian lorong dilakukan oleh puluhan ribu rakyat pribumi Indonesia yang semula bekerja di tambang batubara yang didatangkan dari pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Mereka dipekerjakan secara paksa (romusha) oleh tentara Jepang di bawah Pemerintahan Militer Angkatan Darat Jepang untuk wilayah Sumatera Tengah yang berkedudukan di Bukittinggi, dipimpin Letjen Moritake Tanabe.

Sementara penduduk asli Bukittinggi sendiri, pada masa itu oleh Jepang dipekerjakan ke daerah Jawa dan Kalimantan. Mereka juga dijadikan romusha untuk membuat benteng pertahanan Jepang di sejumlah daerah tersebut.

“Taman Panorama Wisata dan Lobang Jepang Bukittinggi”, demikian tulisan di atas pintu masuk objek wisata ini. Jam kunjungan bagi umum dibuka mulai pukul 08.00 WIB hingga 18.00 WIB. Anda harus membayar tiket masuk Rp 15.000 per orang (anak di bawah usia 6 tahun tidak membayar) untuk melihat ke dalam lorong bersejarah peninggalan pasukan negeri matahari terbit itu.

Setelah melalui gerbang tiket, Anda langsung disambut pemandangan indah Taman Panorama yang berhawa sejuk. Dari taman ini Anda juga bisa menatap objek wisata alam lainnya di Bukittinggi dari kejauhan, yakni tebing jurang Ngarai Sianok dengan latar belakang Gunung Singgalang.


Terdapat tangga menurun untuk masuk ke Lobang Jepang. Di sekitar area itu terlihat sejumlah lelaki yang menawarkan jasa pemandu wisata (guide) bagi Anda yang perlu dipandu selama menelusuri lorong sekaligus mendengarkan cerita sejarah Lobang Jepang darinya.

“Pemerintah Kota Bukitinggi mulai mengelola Lobang Jepang sebagai tempat wisata tahun 1984. Kemudian diresmikan menjadi objek wisata sejarah oleh Menteri Pendidikan Fuad Hasan pada 11 Maret 1986. Lobang Jepang merupakan situs cagar budaya yang dilindungi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010,” papar seorang guide kepada pengunjung.

Male Indonesia

Dia pun bercerita, lorong Lobang Jepang ini seperti labirin atau mirip rumah semut di dalam tanah, karena banyak jalur berkelok dan bercabang. Total panjang jalurnya sekitar 8 kilometer. Di dalam lorong yang berdiameter sekitar 3 meter itu terdapat 21 ruangan yang dulunya oleh pasukan Jepang digunakan sebagai ruang pengintaian, ruang penyergapan, gudang amunisi, barak tentara, ruang sidang, penjara tahanan, kamar mandi, ruang makan, dapur, dan sebagainya.

Menurut guide itu, ada tiga hal dari sejarah Lobang Jepang yang masih misteri hingga sekarang. Pertama, tidak diketahui nasib atau keberadaan arsitek Lobang Jepang bernama Saiki Saikan Kaka Wako Watanami. Kedua, belum ada yang tahu ke mana dibuangnya tanah bekas galian lubang. Ketiga, tidak diketahui pasti jumlah pekerja romusha yang menggali lubang dan mereka yang tewas dalam lorong tersebut.

SHARE