Reli Dakar, Ganasnya Ajang Balap di Gurun Pasir - Male Indonesia
Reli Dakar, Ganasnya Ajang Balap di Gurun Pasir
MALE ID | Sport & Hobby

Reli Dakar disebut-sebut sebagai ajang balap terganas. Karena ajang balap satu ini taruhannya, bukan hanya cidera, tetapi juga nyawa. 

Image by WikiImages from Pixabay

Reli Dakar sendiri adalah balapan tahunan sejak 1979 dan dikenal sebagai salah satu ajang balap paling berbahaya di dunia. Sudah puluhan nyawa melayang selama pertarungan manusia dan mesin yang menantang ganasnya alam tersebut.

Hampir 38 tahun eksis, Reli Dakar tercatat sebagai ajang balap yang banyak menelan korban jiwa. Tercatat sudah 64 nyawa melayang sejak 1979 hingga sekarang. Dua korban diantaranya terjadi di edisi ke-38 saat pereli melakukan perjalanan dengan rute Buenos Aires-Arica-Buenos Aires atau jarak tempuh sejauh hampir 9000km.

Di bulan Januari 2020 sendiri, yang berlangsung di Arab Saudi itu, telah terjadi kecelakaan dan menewaskan satu pembalap dalam reli tersebut dalam kategori motor, pembalap tersebut adalah Paulo Goncalves. Pembalap Portugal itu menjadi peserta ke-29 yang meninggal dunia.

 
 

Goncalves mengalami kecelakaan fatal di kilometer ke-276 etape ketujuh yang menghubungkan Riyadh dengan Wadi ad-Dawasir. Usai terjatuh, ia mengalami serangan jantung. Ia pun segera ditransfer ke Rumah Sakit Laylah dengan helikopter, namun nyawanya tak tertolong.

Ini merupakan Reli Dakar ke-13 bagi Goncalves, dan hasil terbaiknya adalah runner up di belakang Marc Coma pada 2015. Ia juga merupakan juara dunia Reli Cross-Country pada 2013 dan punya 23 gelar di motocross, supercross, dan enduro

Melihat ke belakang dengan mengutip dari berbagai sumber, ini bukti lain bahwa Reli Dakar benar-benar ganas.

Korban Pertama Reli Dakar 2015
merupakan korban pertama Reli Dakar 2015. Pembalap sepeda motor asal Polandia itu ditemukan tewas pada 6 Januari karena dehidrasi. Ia ditemukan tak bernyawa di kilometer 206 antara San Juan-Chilecito saat berlangsungnya etape ketiga. Padahal ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti Rali Dakar sejak di Paris.

Kecelakaan Helikopter
yang turut menciptakan reli Paris-Dakar mengalami kecelakaan tragis yang menghilangkan nyawanya di ajang tersebut pada 14 Januari 1986. Ketika sedang melakukan pengecekan rutin jalur, helikopter yang ditumpangi pereli asal Prancis jatuh akibat badai gurun di Mali. Ia tewas bersama pilot dan tiga penumpang lain termasuk jurnalis Nathalie Odent.

Libya 2003
Bruno Cauvy tewas setelah mengalami kecelakaan di Libya. Menurut informasi, pereli Prancis itu kehilangan kendali saat melaju dengan kecepatan tinggi dan mobil yang dikendarainya terguling. Ia tewas dinyatakan tewas dalam usia 48 tahun setelah dokter tiba dengan menggunakan helikopter.

Tiga Korban Sekaligus
Ajang Reli Dakar 2013 menyisakan kesedihan yang mendalam bagi keluarga Thomas Bourgin. Pereli asal Prancis itu dinyatakan meninggal pada 11 Januari 2013 ketika ia sedang melahap etape ketujuh di daerah pegunungan Chile. Ini adalah kematian ke tiga di Reli Dakar 2013, setelah sebelumnya dua nyawa juga melayang di awal etape. Dua korban itu dilaporkan tewas dalam peristiwa kecelakaan yang melibatkan tiga mobil.

Penonton Jadi Korban
Tidak hanya pembalap, penonton pun tak luput dari peristiwa mencekam ini. Fakta itu terungkap ketika Reli Dakar 2016 edisi ke-18 merenggut dua korban jiwa. Peristiwa tragis pertama terjadi di etape ketujuh dari Bolivia menuju Argentina. 

Kendaraan Mitsubishi yang dikemudikan Lionel Baud menewaskan kakek berusia 63 tahun. Panitia melaporkan kejadian itu terjadi di kilometer 82, pereli asal Perancis yang kehilangan kendali menabrak kerumunan penonton dan salah satu dari mereka dikabarkan meninggal seketika saat mobil Baud menabrak dirinya.

Nasib naas kembali menghampiri Baud. Truk yang membawa mobilnya menuju Eropa terlibat kecelakaan beruntun di pinggiran kota Cordoba. Satu orang dilaporkan tewas akibat insiden ini.

SHARE