Raksasa yang Tenggelam itu Bernama AC Milan - Male Indonesia
Raksasa yang Tenggelam itu Bernama AC Milan
MALE ID | Sport & Hobby

Sepanjang musim 2019/2020, AC Milan berada di papan tengah dan sulit merangsek naik ke papan atas. Bahkan, Milan sering kesulitan menghadapi tim-tim kecil, seperti Atalanta.

Photo: wikimedia

Tanda kemerosotan AC Milan bisa dilihat hanya dengan melihat siapa pemegang kostum nomor 10. Dengan kostum nomor 10 diberikan pada Hakan Calhanoglu, bisa dilihat memang Milan tidak baik-baik saja.

Nomor 10 selama ini selalu identik dengan nomor keramat di sepak bola. Hanya pemain yang dianggap paling jago di tim atau punya peran vital yang ‘diizinkan’ memakai nomor punggung tersebut.

Kehadiran Calhanoglu sebagai pemegang nomor 10 adalah fakta yang mencengangkan, bila melihat sejarah panjang AC Milan sebagai klub besar.

Sebelumnya, Nomor 10 Milan dikenakan Clarence Seedorf, Rui Costa, Zvonimir Boban, Dejan Savicevic, Roberto Donadoni, Jean Pierre Papin, Ruud Gullit, hingga Nils Liedholm.

Nama-nama di atas adalah nama besar di dunia sepak bola. Mereka punya tempat di level elit dunia meski tak semuanya cemerlang ketika bersama Milan. Namun setidaknya itu jadi gambaran bahwa Milan adalah muara pemain-pemain terbaik Eropa.

Kondisi tersebut berbanding terbalik sekarang. Milan dihuni pemain-pemain yang tak banyak dikenal orang. Penggemar Milan tentu sedih melihat formasi tim diisi oleh nama-nama macam Suso, Giacomo Bonaventura, hingga Fabio Borini yang tidak termasuk pemain kelas A di Eropa.

Perlahan tenggelam

Kini, pemain yang dianggap bintang seperti Suso sempat diisukan ingin pergi dengan alasan memperbesar peluang meraih gelar. Leonardo Bonucci yang sempat masuk dalam proyek kebangkitan Milan bahkan lebih rela menjadi ejekan suporter untuk bisa kembali ke Juventus, dibandingkan harus bertahan di Rossoneri.

Kehadiran Bonucci awalnya merupakan bagian dari proyek ambisius Milan. Mereka menggelontorkan dana besar dengan memborong pemain-pemain macam Andre Silva, Calhanoglu, Lucas Biglia, dan Mateo Musacchio. Namun proyek transfer gila-gilaan itu tidak berlanjut.

Setelah jadi juara Liga Italia di 2010/2011 dan menjual Andrea Pirlo, perlahan tapi pasti Milan mulai merosot.

Mulai dari runner up di musim berikutnya, Milan lalu turun ke peringkat ketiga di 2012/2013. Setelah itu, Milan melorot drastis dan baru bisa mencatat finis terbaik dalam enam musim terakhir saat mereka finis di peringkat kelima musim 2018/2019.

Kondisi ini bakal sulit diatasi karena merujuk beberapa faktor. Pertama, Milan dalam kondisi keuangan yang tidak bagus. Mereka bahkan berencana menjual pemain bintang secara terpaksa, yang sebetulnya belum masuk kategori bintang papan atas di Eropa, demi menyeimbangkan neraca keuangan.

Pamor Liga Italia juga tengah kalah dari Liga Inggris, baik dari segi reputasi dan uang yang beredar, sehingga kini pemain-pemain top dunia berharap bisa bermain di Liga Inggris.

Dengan kondisi Milan dan Liga Italia yang meredup, Milan butuh usaha ekstra untuk merayu pemain. Mereka butuh pemain yang benar-benar berhasrat tinggi mengembalikan kejayaan. [MI]

SHARE