Empat Pilar Penting dalam Mengatasi Diabetes - Male Indonesia
Empat Pilar Penting dalam Mengatasi Diabetes
MALE ID | Sex & Health

Menyandang diabetes bukan berarti Anda tidak bisa menjalankan hidup yang lebih baik dan berkualitas. Dengan menjalankan 4 pilar manajemen penting ini, Anda bisa mengatasi diabetes.

Gambar oleh Ylanite Koppens dari Pixabay

Dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi dan aktivitas fisik) bersamaan dengan minum obat sesuai anjuran dokter dan edukasi, diabetesi dapat mengontrol gula darahnya dengan baik dan terhindar dari risiko komplikasi akibat diabetes.

Penyandang diabetes sering menganggap bahwa pemberian obat dan insulin sesuai anjuran dokter merupakan hal pertama yang harus dilakukan dalam manajemen diabetes. Padahal, menurut Konsensus Perkeni, manajemen diabetes dianjurkan dimulai dari memodifikasi gaya hidup yaitu dengan pengaturan pola makan dan aktivitas fisik. 

“Perubahan gaya hidup, seperti mengatur pola makan, aktivitas fisik, dan mengontrol berat badan akan membantu kinerja obat yang dikonsumsi sehingga lebih maksimal untuk mengelola kadar gula darah,” papar Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MS, MSc, SpGK (K), Dokter Spesialis Gizi Klinik di RSCM, MRCCC dan Jakarta Heart Centre.

Percuma saja jika penyandang diabetes hanya mengandalkan obat-obatan, tanpa memperhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh. Tentunya tidak sembarang dalam menjalankan pola makan untuk diabetes. Anda perlu memilih pola makan dengan gizi seimbang yang mengandung karbohidrat baik yang memiliki indeks glikemik rendah, tinggi serat, vitamin dan mineral.

Dukungan Keluarga, Kunci Sehat Bagi Penyandang Diabetes
Selain dari empat pilar di atas ada satu hal penting lain bagi penyandang diabetes, yakni dukungan dari keluarga. 

Data Riskesdas Litbangkes 2018 dan Konsensus PERKENI 2015, menyebutkan bahwa di Indonesia sebanyak 75% dari total penyandang diabetes belum menyadari dirinya menyandang diabetes. Sementara itu, dari 25% penyandang diabetes yang sudah menyadari dirinya menyandang diabetes, hanya 17% yang menjalani terapi diabetes. 

Tak heran bila semakin banyak penyandang diabetes yang mengalami komplikasi sebagai akibat dari risiko diabetes. Fakta lainnya, data Riset Kesehatan Dasar Dasar (Riskesdas) di Indonesia menunjukkan peningkatan angka prevalensi diabetes yang cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018. 

Alhasil, estimasi jumlah penyandang diabetes di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang yang kemudian berisiko terkena penyakit lain. Sebut saja di antaranya, serangan jantung, stroke, kebutaan, gagal ginjal bahkan kelumpuhan dan kematian. 

Maka perlu disadari bahwa diabetes merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi serius dan mampu menggerus harapan hidup. Namun tak perlu khawatir dengan ‘horor’ diabetes ini karena sebenarnya dapat dikendalikan dengan baik.

Kenapa dukungan keluarga sangat penting? Pasalnya, diabetes merupakan suatu kondisi kronis yang membutuhkan perawatan seumur hidup. Maka perlu upaya manajemen diri yang baik, hingga perubahan gaya hidup.  Dalam hal ini, orang tua, pasangan, dan anggota keluarga lainnya atau teman memiliki peran yang bisa memberikan dampak positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan psikologis penyandang diabetes. 

Intinya, dukungan dari pihak lain ini menjadi kunci agar penyandang diabetes juga tidak sampai mengalami komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Terkait pentingnya dukungan keluarga, para peneliti di Finlandia, mengamati lingkungan keluarga penyandang diabetes selama satu dekade. 

Hasil riset yang diterbitkan dalam Journal of Family Nursing, ternyata mengungkapkan anggota keluarga berperan penting dalam membantu keberhasilan pengelolaan manajemen diabetes dan perubahan gaya hidup seperti peningkatan diet yang baik dan olahraga.

Selain itu, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Western Journal of Nursing Research, menyebutkan bahwa kurangnya dukungan keluarga sebagai hambatan untuk keberhasilan mengelola diabetes. 

"Beberapa anggota keluarga merasa itu hanya masalah pribadi bagi penyandang diabetes sehingga tak perlu ada orang lain yang mendukungnya untuk harus berubah," kata Susie Villalobos, MPH, LDN, RD, ahli diet, pendidik diabetes, dan koordinator program di Tulane Pusat Program Manajemen Berat Badan, Diabetes & Endokrin di New Orleans.

Namun, ketidakpedulian seperti itu mungkin bukan satu-satunya masalah. Para peneliti Finlandia juga menemukan bahwa banyak anggota keluarga kurang memiliki respons emosional dan psikologis terhadap orang yang mereka cintai yang didiagnosis diabetes, suatu masalah yang harus didiskusikan secara terbuka sebagai bagian dari membangun dukungan keluarga.

“Jika satu keluarga makan sehat dan olahraga bersama-sama, penyandang diabetes terbantu untuk beradaptasi dengan cepat pada gaya hidup sehat, seluruh anggota keluarga mendapat manfaatnya dan mendorong perilaku yang dapat mencegah diabetes di anggota keluarga lainnya," jelas Kiki Maria Sembiring, selaku Group Business Unit Head of Special Needs Nutrition Kalbe Nutritionals.

"Mengelola diabetes membutuhkan perawatan harian, gaya hidup sehat dan edukasi terus-menerus tanpa henti. Ini cuma bisa terjadi secara konsisten dan terus menerus jika ada dukungan keluarga,” Kiki menambahkan. ***

SHARE