Alasan Mengapa Hubungan Berubah Menjadi Obsesi - Male Indonesia
Alasan Mengapa Hubungan Berubah Menjadi Obsesi
MALE ID | Relationships

Menjalin hubungan dengan wanita adalah perasaan yang positif. Namun pada prosesnya, beberapa faktor mampu menggesernya menjadi obsesi.

Photo by Mahkeo on Unsplash

Seperti dilansir dari Bustle, pada sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine menemukan bahwa proses menjalin hubungan sama seperti orang menggunakan kokain. Ini karena ada bagian otak yang diaktifkan.

“Dalam beberapa hal, Anda bahkan dapat berkeinginan untuk bersama pasangan Anda dari waktu ke waktu, dan itu dapat memengaruhi kemampuan Anda berfungsi dalam kegiatan sehari-hari,” ujar Judy Ho, neuropsikolog klinis.

Bagi sebagian orang, kehilangan pasangan mereka bahkan bisa menjadi obsesi. Menurut Ho, kombinasi faktor sosial, kepribadian, dan biologis semuanya berperan. Semua orang terkena efek jatuh cinta secara berbeda.

Misalnya, beberapa orang lebih cenderung ke arah pemikiran obsesif, sementara lainnya lagi memiliki sifat kepribadian yang menyebabkan mereka memikirkan hal-hal yang sama berulang-ulang.

Jika Anda merasa kehilangan pasangan dengan cara yang memengaruhi rutinitas harian Anda, penting menemukan cara sehat untuk menanganinya.

Namun bila Anda sekadar rindu saja, itu adalah hal yang wajar dan Anda tak perlu khawatir. Para ahli mengatakan bahwa perasaan tersebut sepenuhnya normal. Terdapat bahan kimia di otak yang berperan di sini. “Emosi cinta mengubah neurobiologi otak Anda,” kata psikoterapis Puja Parikh, LCSW.

“Perasaan baik neurotransmitters dilepaskan ketika Anda memeluk, mencium, bercinta, dan berbagi momen intim dengan pasangan Anda. Anda membentuk ikatan dan Anda mengasosiasikan pasangan Anda lewat kesenangan dan kebahagiaan,” katanya lagi.

Saat Anda menjalin hubungan dengan lawan jenis, otak Anda melepaskan bahan kimia seperti dopamin, oksitosin, dan serotonin. Ho mengatakan, bahwa bahan kimia tersebut tidak hanya membuat Anda merasa baik dan membantu Anda mempertahankan rasa kesejahteraan.

Itu juga menuntun Anda untuk mencari stimulus yang memberi kesenangan di tempat pertama. Dalam hal ini, stimulus yang dimaksud adalah pasangan Anda.

Oleh karenanya, ketika Anda dan si dia terpisah, Anda secara otomatis ingin bertemu dia lagi. Ketika ini tidak bisa dilakukan, Anda jadi merasa rindu.

“Ketika Anda terpisah dari mereka, otak Anda secara naluriah akan mencari mereka untuk mendapatkan imbalan itu lagi,” tutur Ho. [MI]

SHARE