Marie Fredriksson, Gadis Kampung yang Jadi Legenda - Male Indonesia
Marie Fredriksson, Gadis Kampung yang Jadi Legenda
MALE ID | News

Roxette dan mendiang Marie Fredriksson bagai dua nama yang tak bisa dipisahkan. Berawal dari kisah yang cukup menarik, Roxette akhirnya menjadi salah satu nama yang jadi legenda di kancah musik dunia.

Photo: Joerundfp/Wikipedia

Dikenal dengan lagu-lagu patah hatinya, Roxette diperkuat Marie (vokal dan keyboard) dan Per Gessle (gitar). 10 album studio menjadi memorabilia karier duo asal Swedia ini.

Melansir laman top 40 chart, Marie Fredriksson merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang lahir pada 30 Mei 1958 di Össjö, kota kecil di Swedia. Di tengah lingkungannya yang masih kental dengan nuansa perkampungan, Marie kecil mulai tertarik dengan dunia entertainment. Dirinya sering berdiri di depan cermin berpura-pura menjadi bintang.

 
 

 

Bersama dengan saudara-saudaranya, atau anak-anak tetangga, Fredriksson mulai bermain musik dan bernyanyi.  Dia sering diminta oleh ibunya untuk tampil di depan teman-teman yang terkesan dengan suara nyanyiannya yang seperti Olivia Newton-John.

Ketertarikannya semakin kuat pada masa remajanya ketika dia menemukan artis seperti Joni Mitchell, The Beatles dan Deep Purple. Pada usia 17, Fredriksson mendaftar di sebuah perguruan tinggi musik dan tampil di teater lokal. 

Masa Keemasan
Dirinya sempat pindah ke kota Halmstad, dan kemudian terlibat dalam kancah musik lokal. Sebelum menjadi vokalis Roxette, Marie Fredriksson sempat bergabung dengan beberapa band, termasuk Strul yang mengusung musik punk. Marie juga sempat merintis karier solo setelah karier bandnya tak begitu mulus. Di situ ia sempat bertemu dengan Per dan bermusik bareng dalam band.

Pilihan itu ternyata berdampak cukup baik terhadapnya, dengan sejumlah single yang jadi hits di chart musik. Namun ia akhirnya bertemu kembali dengan Per yang sudah sama-sama merintis karier masing-masing. Mereka akhirnya membentuk project duo, Roxette yang menjadi titik balik perjalanan musik mereka.

Terbentuk tahun 1986, Roxette meraih masa keemasan di era 90an. Lagu-lagu mereka di album Joyride! mendapat respon baik dari penikmat musik internasional hingga menembus US Hot 100 dan UK Top Hits.

Pada tahun 1992 Fredriksson kembali ke karier solonya, merekam pencarian jiwa "Den standiga resan." Den standiga resan adalah potret diri musikalnya dan ditulis seperti buku harian, berisi lagu-lagu yang sangat pribadi tentang kehidupan, perasaan, dan hubungannya.

Pada tahun 1996, Fredriksson merekam album balada dalam bahasa Spanyol bersama Roxette dan album solo baru "I en tid som var". Pada tahun 1998 dan 1999, Fredriksson bekerja dengan Gessle di album Roxette Have A Nice Day. 

Terserang Tumor Otak
Pada tahun 2000 Fredriksson merilis album hit terbesar dengan judul Äntligen-Marie Fredrikssons basta 1984-2000. Album hingga saat ini telah terjual lebih dari 350.000 - dua single lagi dirilis dari album, "igenntligen" dan "Det som var nu".

Pada 11 September 2002, Fredriksson pingsan di kamar mandinya dan mengalami gegar otak. Dari hasil ct scan menunjukkan bahwa Fredriksson memiliki tumor otak di bagian belakang kepalanya. Setelah menunggu beberapa minggu agar gegar otaknya mereda, ia menjalani operasi yang berhasil untuk mengangkat tumor.

Karena tumor yang diidapnya ganas dia kemudian menjalani kemoterapi berbulan-bulan dan perawatan radiasi. Dia menerima kerusakan permanen pada otaknya, kehilangan kemampuan membaca dan berhitung, penglihatan di mata kanannya, dan beberapa kehilangan gerakan di sisi kanannya. Di tengah perjuangannya mengahadapi kanker. 

Namun Roxette tetap menjalani tur dan menelurkan album hingga tahun 2016. Di tahun itu mereka vakum dari tur, untuk Marie memulihkan kondisinya. Tahun 2019 menjadi momen yang menyedihkan di mana sang vokalis mengembuskan napas terakhirnya. Marie Fredriksson akan dikenang sebagai salah satu wanita yang jadi ikon musik 90an. ***

SHARE