Riset: Frekuensi Hubungan Intim Tidaklah Penting - Male Indonesia
Riset: Frekuensi Hubungan Intim Tidaklah Penting
MALE ID | Sex & Health

Berbagai penelitian telah menemukan kaitan antara hubungan intim dengan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat. Rutin bercinta juga terbukti dalam berbagai studi bisa menurunkan tekanan darah, mengurangi risiko serangan jantung, meningkatkan kualitas tidur, hingga mengurangi kecemasan dan depresi.

Photo: Pixabay

Dan satu lagi, rutin melakukan hubungan intim memang bisa memengaruhi kebahagiaan seseorang. Berdasarkan studi terbaru, pria yang tidak melakukan aktivitas seks memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah dibandingkan yang bercinta sebanyak 2 - 3 kali setiap bulan.

“Sebanyak 33 % pria melaporkan tingkat kebahagiaan yang tinggi,” tulis Tim Wadsworth, seorang sosiolog di University of Colorado Boulder, sebagaimana dikutip dari Medical Xpress.

Pria dan pasangannya yang bercinta satu kali dalam kurun waktu seminggu sebanyak 44 % melaporkan tingkat kebahagiaan yang tinggi. Apalagi bercinta 2 - 3 kali per minggu, sebanyak 55 % juga melaporkan bahagia.

Jumlah hubungan intim bisa kurangi kebahagiaan

Penelitian yang dilakukan oleh Tim juga menemukan bahwa jumlah hubungan intim dapat memengaruhi kebahagiaan.

“Ada peningkatan menyeluruh dalam hal kesejahteraan lebih sering terkait dengan melakukan hubungan seks. Melakukan lebih banyak seks membuat kita bahagia,” kata Tim.

Namun, George Leowenstein, ekonom di Carnegie Mellon University, Amerika Serikat beserta rekan-rekannya menemukan dampak negatif ketika berhubungan intim terlalu sering.

“Bertolak belakang dari apa yang orang harapkan. Kami mengamati dampak negatif dari mendorong orang untuk melakukan lebih banyak seks terhadap suasana hati,” tulis Leowenstein dalam penelitiannya, menukil Medical Xpress.

“Dengan kata lain, meningkatkan jumlah seks sebenarnya bisa mengurangi kebahagiaan, hasrat, dan kenikmatan bercinta.”

Lebih kepada kualitas, bukan frekuensi

Leowenstein melakukan penelitian terhadap dua kelompok pasangan. Satu kelompok diminta untuk memperbanyak frekuensi hubungan intim mereka, sementara yang lain tidak mendapatkan instruksi apapun.

Penelitian ini berlangsung selama kurun waktu tiga bulan. Kedua kelompok mendapat survei sebelum, selama, dan setelah penelitian.

“Dari temuan itu, berhentilah mencemaskan kuantitas, lupakan tentang seberapa banyak seks. Mulailah berfokus pada kualitas. Hal itu lebih memengaruhi kebahagiaan,” sebut Leowenstein. [MI]

SHARE