Teknologi Kecerdasan Buatan Jadi Sahabat Manusia - Male Indonesia
Teknologi Kecerdasan Buatan Jadi Sahabat Manusia
MALE ID | Whats Up

Mendampingi masyarakat yang merupakan konsumen layanan birokrasi agar mulai terbiasa menggunakan teknologi, serta memonitor kualitas data yang diinput oleh masyarakat kedalam sistem, adalah contoh pekerjaan yang nantinya dapat lebih banyak dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya yang saat ini menjabat sebagai eselon 3 dan 4.

Hanya saja untuk dapat melakukan pekerjaan tersebut, diperlukan peningkatan keterampilan ASN dari yang semula hanya sebatas menginput data secara manual. Hal tersebut justru membuat para ASN tersebuk ‘naik kelas’. 

Demikian pendapat Nazim Machresa selaku praktisi dan konsultan teknologi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dijumpai di tempat kerjanya pada Senin, 2 Desember 2019.

Penerapan teknologi AI pada sistem kerja administrasi pemerintahan diyakini sangat menolong dalam hal efektifitas, efisiensi waktu dan biaya, serta transparansi dan ketepatan kebijakan sehingga memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat. 

Saat ini, hal-hal yang menyebabkan kurang adilnya proses verifikasi atau persetujuan perizinan hingga adanya pungutan liar dapat terjadi karena sebagian besar proses masih dilakukan secara manual oleh manusia yang tidak terlepas dari subyektifitas. 

Segala hal memiliki aturan, seperti kondisi-kondisi tertentu untuk memperoleh atau tidak memperoleh perizinan, dapat dikunci aturan mainnya dalam sistem sehingga seluruh elemen pelaksana menjadi disiplin.

Adanya basis data dan rekam jejak yang tersimpan dalam sistem juga memungkinkan pengambilan kebijakan yang lebih akurat dan tepat sasaran kedepannya. Selain itu, integrasi antar lembaga dan elemen birokrasi menjadi semakin dimungkinkan sehingga mempercepat proses layanan.

Pada intinya, menurut Nazim, semua teknologi terlebih AI dibuat oleh manusia untuk menjadi sahabat manusia itu sendiri. Untuk membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan klerikal sehingga waktu dan tenaga yang dimiliki manusia dapat dialokasikan untuk mengerjakan hal lain yang bernilai lebih.

“Tinggal bagaimana strategi transformasi yang mudah diterima masyarakat. Karena pada dasarnya tanpa ada kebijakan  dari Pak Jokowi pun perubahan akan tetap terjadi karena perkembangan teknologi tidak akan berhenti, kebutuhan manusia juga terus meningkat. Justru itulah kebijakan ada untuk menjadikan proses transformasi tersebut berjalan baik dengan memperhatikan segala aspek,” kata Nazim Machresa.

Sebagai praktisi penerapan AI yang bekerja sebagai Development Manager di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan layanan dan teknologi AI, Nazim memberikan 3 (tiga) aspek yang wajib diperhatikan disetiap proses implementasi teknologi baik pada perusahaan maupun lembaga Negara.

“People (SDM), proses, dan teknologi. Teknologi hanya alat bantu atau enabler dari proses yang akan dilakukan oleh SDM, jadi sama sekali bukan pesaing,” Imbuhnya.

SHARE