Sempat Dianggap Terjelek, Menara Eiffel Jadi Ikon Perancis - Male Indonesia
Sempat Dianggap Terjelek, Menara Eiffel Jadi Ikon Perancis
MALE ID | Story

Menara Eiffel merupakan sebuah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine di Paris. Menara tertinggi di Perancis ini dibangun untuk memeringati seratus tahun Revolusi Perancis dan untuk menunjukan kehebatan industri Perancis kepada dunia saat itu.

menara eiffel pixabay.com 

Selain itu, Ketika menara selesai dibangun tahun 1889, struktur ini menjadi yang tertinggi di dunia. Dan gelar itu bertahan hingga tahun 1930. Sebagai menara yang keseluruhannya besi ini ini memeliki perawatan spesial.

Perawatan menara ini terdiri dari pengadaan 50 hingga 60 ton cat setiap tujuh tahun untuk menjaganya dari karatan. Untuk menjaga penampilannya terhadap pengunjung, ada tiga warna berbeda digunakan pada menara ini, dengan warna gelap di bawah dan warna terang di atas.

Kindahan dan kunikannya Menara Eiffel yang menjadi ikon Perancis ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dunia. Semenjak beridirinya menara ini, sudah miliaran orang dari seluruh dunia mendatanginya. Selain itu, Menara Eiffel juga sudah menjadi saksi bisu sekian banyak pria untuk menyatakan cinta dan melamar kekasihnya.

Meski begitu, Anda perlu tahu, di awal-awal pembangunannya, menara ini adalah "bangunan terjelek di Paris". "Meskipun di awal itu dilihat sebagai 'bangunan terjelek dan aneh di Paris,' segera menjadi simbol kota," kata Teh Gudek Snajdar, seorang sejarawan seni pemandu museum berbasis di Amsterdam dan blogger di dan Blogger Culture Tourist.

Sebagian Orang Paris Tidak Senang dengan Pembangunan Menara Eiffel

Meski nama menara ini dinamai persis dengan nama Gustave Eiffel, seorang seorang insinyur sipil Perancis yang disebutkan sebagai perancangnya. Namun sebenarnya nama Maurice Koechlin dan Emile Nouguier yang sebenarnya memiliki gambar asli awal moneumen itu.

Kochlin dan Nouguier adalah chief engineer untuk Compagnie des Etablissements Eiffel (nama perusahaan teknik Gustave Eiffel). Kemudian mereka bersama arsitek Perancis lainnya, yakni Stephen Sauvestre menyampaikan rencana untuk membuat tempat sebagai pusat komntes Dunia di Paris pada tahun 1889.

Pada 1887, Perusahaan Won desain Eiffel memulai pembangunan mernara besi ini. Namun pada saat itu, dikutip dari laman livescience, meski mata orang-orang saat ini melihatnya sebagai bangunan unik, tapi tidak untuk semua orang di Paris sangat senang dengan ide sebuah monumen logam raksasa menjulang di atas kota.

"Arsitektur modern itu muncul sedikit di Paris sebelum Menara Eiffel. Tapi itu melakukannya dengan cara yang sangat pemalu," kata Gudek Snajdar.

Selain itu, besi yang pada masa itu adalah sebuah bahan property baru di zaman Revolusi Industri awalanya hanya sebagai pendukung pembangunan gedung-gedung. Melihat hal itu, sebelum pembangunan menara besi ini, para insinyul masih bingung untuk membuat apa dengan material baru tersebut.

"(Awalnya) mereka akan mencoba untuk mengulangi struktur batu bersejarah seperti pilar di Bibliotheque Ste.-Genevieve di Paris. Namun, dengan Menara Eiffel semuanya berubah total, itu adalah hasil dari cara mereka menggunakan materi baru. Struktur, penampilan adalah benar-benar baru dan modern," jelas Gudek Snajdar.

Ironisnya, ketika pembangunan menara dimulai di Champs de Mars, 300 seniman, pemahat, penulis dan arsitek mengirim petisi kepada komisaris Paris Exposition, memohon untuk menghentikan pembangunan "tower konyol" yang akan mendominasi Paris seperti sebuah "cerobong asap hitam raksasa".

Namun, pihak pembangunan tidak mendengarkan aksi protes yang dilakukan para seniman dan pemahat, serta arsitek itu. Malah, pembangunan menara terus berlanjut dan hebatnya selesai hanya dalam waktu dua tahun, pada 31 Maret 1889. Hingga akhirnya, Menara Eiffel menjadi bangunan ikonik Perancis.

"Menara Eiffel adalah salah satu contoh pertama dari arsitektur modern dengan material besi. Dan faktanya bahwa bangunan itu tidak memiliki tujuan apapun pada khususnya. Itu murni untuk menunjukkan kreativitas arsitektur Perancis dan keterampilan dengan bahan-bahan untuk dunia; itu dijiwai dengan makna tapi tidak utilitas," ucap kata Gudek Snajdar.**

SHARE