Soulmate, Hanya Fantasi yang Merusak Hubungan - Male Indonesia
Soulmate, Hanya Fantasi yang Merusak Hubungan
MALE ID | Relationships

Soulmate atau belahan jiwa adalah tujuan akhir ketika seseorang mencari cinta. Sehingga banyak yang tidak bisa menjaga hubungannya dalam jangka waktu lama. Dari sekian banyak alasan, mencari belahan jiwa adalah salah satunya.

soulmatePhoto by Pexels from Pixabay

Meskipun gagasan tentang soulmate atau belahan jiwa begitu memikat bagi setiap pasangan, sebenarnya merusak individu dalam sebuah hubungan, apalagi bagi pria. Mengutip laman Psychalive, berikut ini dampak negatif jika terlalu dalam percaya pada seuah pencarian soulmate atau belahan jiwa.

Mengedepankan Bentuk Cinta daripada Substansinya
Pasangan yang terjebak dalam ikatan fantasi (soulmate) biasanya fokus pada bentuk daripada substansi. Artinya, mereka lebih menghargai simbol-simbol persatuan mereka daripada mempertahankan keintiman sejati secara real time.

Mereka sangat mementingkan atau menghormati rutinitas, ritual, dan tradisi yang sudah mapan, seperti merayakan ulang tahun, peringatan, malam tanggal spesial, dan liburan reguler yang diharuskan. Selama kegiatan simbolis ini dipertahankan, fantasi cinta ditegakkan, terlepas dari apakah pasangan tersebut benar-benar dekat secara emosional dan penuh cinta atau tidak.

Mengorbankan Individualitas
Ketika ikatan fantasi menjadi lebih kuat, kedua pasangan mengorbankan lebih banyak individualitas mereka untuk mempertahankan ilusi menjadi satu. Mereka secara bertahap mengasumsikan sikap saling memiliki, dengan sedikit perhatian terhadap pasangan sebagai orang yang terpisah. Akhirnya masing-masing dari mereka secara efektif mengorbankan waktu pribadi.

Anda sebagai pria tentu banyak hal yang perlu dilakukan daripada sekadar berduaan dengan pasangan setiap hari. Misalnya mengembangkan diri untuk kehidupan masa depan, bersosialisasi dengan teman-teman di luar, atau memainkan hobi yang bisa melepaskan stres Anda di kantor.

Bisa Merusak Komunikasi
Pembentukan ikatan fantasi biasanya mengarah pada gangguan komunikasi dalam pasangan. Ketika kehidupan pasangan bersama-sama menjadi lebih fokus pada aspek dangkal dari hubungan mereka, percakapan mereka juga menjadi lebih dangkal dan praktis.

Ketika mereka terlibat dalam perilaku yang rutin dan dapat diprediksi, mereka cenderung mencari kenyamanan dalam diskusi tentang topik yang sama sempitnya. Bahkan dapat berbicara satu sama lain dan memperlakukan satu sama lain dengan tidak hormat.

Ketika masing-masing pasangan tidak lagi memiliki rasa hormat antar satu yang lainnya, maka keduanya kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi seperti yang mereka lakukan dengan orang lain. ***

SHARE