Kelenturan Tubuh, Pertanda Kelainan Tulang? - Male Indonesia
Kelenturan Tubuh, Pertanda Kelainan Tulang?
MALE ID | Sex & Health

Cara duduk menyilang Presiden Jokowi saat tengah mengenalkan menteri-menteri di Kabinet Indonesia Maju jadi perhatian netizen. Dokter kesehatan olahraga Michael Triangto, SpKO mengungkapkan, kondisi itu kemungkinan disebut sebagai hyperlaxity.

Photo by Isabell Winter on Unsplash

Hyperlaxity adalah kondisi di mana seseorang punya elastisitas atau kelenturan tubuh yang tinggi. Ini seperti urat dan otot yang kendor,” kata dia, seperti dikutip dari CNN.

Hyperlaxity bisa diibaratkan sebagai kelenturan tubuh yang lebih tinggi dibanding elastisitas. Dengan kata lain, orang yang hyperlaxity punya fleksibilitas yang lebih tinggi daripada orang yang bertubuh fleksibel.

Hanya saja, kata Michael, orang yang hyperlaxity bukan disebabkan karena latihan atau olahraga. “Ini bukan hasil latihan. Mau latihan sampai kapan pun juga enggak mungkin mengubah fleksibility ke hyperlaxity.”

Seperti dilansir dari Mayo Clinic, hyperlaxity disebut juga sebagai sendi atau otot longgar, atau sendi hypermobile (hypermobility joint).

Kondisi ini menggambarkan kemampuan sendi untuk bergerak di luar rentang gerak normal. Kondisi ini biasanya terjadi pada usia muda dan kemampuannya menurun seiring bertambahnya usia.

Menukil Healthline, kondisi ini sebenarnya tidak berbahaya, namun dianggap juga terkait dengan kelainan perkembangan tulang yang diturunkan yaitu sindrom Ehlers-Danlos, dan gangguan jaringan ikat yaitu sindrom Marfan.

Hyperlaxity ini disebabkan oleh bentuk tulang dan kedalaman soket sendi yang berbeda dan riwayat keluarga. Tapi kondisi ini bukanlah double joint.

Melihat kondisi hyperlaxity saat duduk menyilang, diungkapkan Michael, ada beberapa hal yang bisa dianalisis.

“Apakah dia merasa sakit saat melakukan hal tersebut? apa wajahnya terlihat kesakitan? apakah dia berusaha atau memaksakan diri untuk mempertemukan jari-jari di kedua kakinya? Jawabannya tidak. Ini adalah salah satu ciri hyperlaxity.”

“Saat duduk menyilang, ada banyak sendi yang terlibat. Dari sendi angkle, lutut, panggul, sampai pinggang. Dianalisis dari posisi duduknya dan sendinya, dia juga terlihat nyaman dan tidak kesakitan, berarti ada kemungkinan sendi-sendi lain bisa, karena dari sekian banyak, sendi itu saja sudah elastis.”

Terkait hyperlaxity atau kelenturan tubuh tinggi ini, disebut Michael tak ada pengaruhnya dengan berat badan dan lingkar tubuh.

“Di posisi kaki saja, kalau orang biasa (tidak hyperlaxity) pasti tumit kakinya terangkat. Tapi orang dengan hyperlaxity tidak.” [GP]

SHARE