Pembunuh Keji di Tengah Kecamuk Perang Dunia II - Male Indonesia
Pembunuh Keji di Tengah Kecamuk Perang Dunia II
MALE ID | Story

London Blitz, atau bombardir pasukan udara Nazi Jerman ke ibu kota Inggris adalah masa di mana Inggris dengan berani menentang operasi militer Nazi di Britania pada 1942 atau fase awal Perang Dunia II.

Photo: pingnews/flickr

Kehidupan sehari-hari di kota London yang dilanda bom adalah perjuangan yang konstan. Dan kehadiran Gordon Frederick Cummins hanya memperparah keadaan.

Gordon Frederick Cummins meneror London dalam pembunuhan dan penyerangan selama enam hari. Sebanyak tujuh wanita diserang. Empat dari mereka meninggal.

Cummins, yang telah mendaftar di Angkatan Udara Kerajaan, ditempatkan di Pusat Penerimaan Pesawat di London utara. Namun selama di sana, ia justru menyerang pekerja seks komersil, dan kota itu menjadi tempat perburuannya selama seminggu.

Korban pertamanya, Evelyn Oately, diserang secara seksual, dirampok, dicekik, dan dibuang dalam selokan. Hampir dua puluh empat jam kemudian, tubuh Evelyn Oately yang terpotong ditemukan.

Di samping mayatnya yang cacat, ada pembuka kaleng yang digunakan dalam serangan itu. Sidik jari pada pegangan pembuka kaleng tersebut agak pudar.

Keesokan harinya, tubuh Margaret Florence Lowe ditemukan dengan organ-organnya terlepas dari perutnya. Dan kemudian, untuk hari keempat berturut-turut, polisi menemukan kembali wanita tuna susila yang tewas, yakni Doris Jouannet.

Satu korban, Haywood, 32 tahun, berhasil selamat ketika seorang portir malam menyorotkan senternya ke Cummins di tengah serangan. Ini terjadi pada 13 Februari 1942, satu hari sebelum Valentine.

Selama perkelahian, Cummins meninggalkan sebuah alat respirator militernya di TKP. Polisi melacak nomor seri barang itu yang mengarah pada Cummins. Cocok dengan jejak Cummins pada pembuka kaleng.

Para penyelidik tak berhenti menggeledah Cummins. Mereka menemukan berbagai barang korban pembunuhan sang psikopat. Seperti pena yang diukir dengan inisial Doris Jouannet, dua buah kotak rokok masing-masing milik Margaret Lowe dan Evelyn Oatley, serta kemeja penuh darah.

Pada 27 April 1942, ia melewati proses pengadilan yang cukup cepat. Hakim mendakwanya atas pembunuhan Evelyn Oatley. Usai 35 menit musyawarah, ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati.

Pihak keluarga telah mengajukan permohonan agar pengadilan membatalkan hukuman Cummins. Namun permohonan tersebut ditolak. Blackout Ripper, sebagaimana Cummins dijuluki, digantung pada 25 Juni 1942. [GP]

SHARE