Alasan Foto Zaman Dahulu Jarang Ada yang Tersenyum - Male Indonesia
Alasan Foto Zaman Dahulu Jarang Ada yang Tersenyum
MALE ID | Story

Pernahkah Anda memperhatikan foto-foto zaman dahulu? Di mana setiap objek di dalamnya, tak ada bibir yang mengembang alias tersenyum. Dan hal tersebut seolah menjadi ciri khas zaman dahulu, tanpa ekspresi dan kaku.

Photo: Fae/Wikipedia

Memang ada satu atau dua foto lawas yang menunjukkan senyum lebar. Namun hal ini termasuk jarang ditemui. Foto dengan senyuman baru mulai populer di tahun 1920-an hingga 1930-an. Sedangkan menurut laporan TIME, foto-foto pertama yang ditemukan berasal dari tahun 1820-an. Sejak itu fotografi pun berkembang menjadi bagian dari seni, aktivitas sosial, dan dokumentasi sejarah.

Masalah Kesehatan Gigi
Menurut Angus Trumble, direktur National Portrait Gallery Canberra, Australia dan penulis A Brief History of the Smile One, salah satu kemungkinan alasan orang-orang zaman dahulu tak pernah tersenyum di dalam foto adalah masalah kesehatan gigi.

Zaman dahulu kesehatan gigi termasuk kemewahan tersendiri. Gigi berlubang, hitam, atau bahkan ompong merupakan hal biasa pada masa itu. Walaupun dianggap biasa, bukan berarti orang-orang zaman dahulu bangga dengan kondisi kesehatan mulut mereka. Terutama jika harus dipamerkan di depan kamera.

"(Saat itu) orang-orang memiliki gigi jelek, atau malah tidak punya gigi sama sekali, jadi inilah yang menghalangi mereka membuka mulut di lingkungan sosial," katanya.

Trumble juga berpendapat meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya kesehatan gigi ikut menjadikan senyum di foto semakin populer.

Kecanggihan Teknologi Fotografi yang Masih Terbatas
Satu lagi penjelasan atas langkanya senyuman di foto-foto abad 19 adalah lamanya proses pengambilan foto. Karena teknologi fotografi yang masih belum secanggih sekarang, orang-orang zaman dulu lebih memilih pose standar yang lebih mudah dipertahankan lebih dari beberapa detik. Berpose sambil tersenyum jelas kurang nyaman.

"Sebagian dari penjelasan itu memang benar," tutur Todd Gustavson, kurator teknologi di George Eastman Museum. "Jika Anda menilik proses-proses awal di mana Anda menggunakan waktu eksposur yang lama, Anda akan memilih pose yang nyaman."

Namun, Gustavson menambahkan kurangnya kecanggihan kamera pada zaman itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pasalnya teknologi yang memungkinkan waktu eksposur dalam hitungan detik sudah ada di tahun 1850-an, meskipun belum dikenal luas.

Norma dan Tradisi yang Berlaku
Lebih jauh, para pakar menyebut norma dan tradisi yang berlaku saat itu sebagai alasan kelangkaan senyuman di foto-foto jadul. Menurut mereka, saat itu konsep fotografi masih mengadopsi pakem yang digunakan pada seni lukis tradisional. Terutama pakem seni lukis potret.

Banyak orang pada zaman dahulu beranggapan senyuman di foto atau lukisan kurang pantas. Lukisan para santo mungkin digambarkan dengan senyum lembut nan samar. Namun senyuman lebar kerap dikaitkan dengan hal-hal negatif.

"Senyuman lebar diasosiasikan dengan kegilaan, mesum, berangasan, mabuk, semua kondisi yang tidak dianggap sopan," jelas Trumble lagi.

Agar Tampak Terhormat
Orang-orang zaman dahulu menganggap fotografi jauh lebih serius daripada manusia modern. Demi mendapatkan selembar foto diri atau keluarga, mereka akan pergi ke studio. Fotografer akan menyiapkan latar elegan dan meminta klien untuk berpose serius.

Lewat pengaturan seperti ini fotografer diharapkan untuk memproduksi foto bernuansa formal. Klien menginginkan foto diri yang membuat mereka tampak terhormat dan berwibawa, sesuai dengan biaya yang mereka keluarkan untuk sesi pemotretan. *** (SS)

SHARE