Sering Tertawa dan Sedih Tanpa Sebab, Kenapa? - Male Indonesia
Sering Tertawa dan Sedih Tanpa Sebab, Kenapa?
Gading Perkasa | Sex & Health

Tertawa karena melihat hal yang lucu atau menangis di saat merasa sedih memang hal yang terbilang wajar. Lantas, bagaimana kalau Anda sama sekali tidak bisa mengendalikan tawa ataupun tangisan?

tertawa-Male IndonesiaPhoto by Eduardo Dutra on Unsplash

Menariknya, tidak sedikit orang yang sering tertawa secara tiba-tiba bahkan terhadap sesuatu hal yang sama sekali tidak layak ditertawakan. Sebagian dari mereka juga tidak mampu mengendalikan tawanya.

Sebagaimana dikutip dari WebMD, setidaknya ada satu juta orang di Amerika Serikat yang tidak bisa mengendalikan tawa dan tangisannya. Mereka bisa sering tertawa dan sedih secara tiba-tiba, di luar kendali, dan biasanya terjadi pada waktu yang kurang tepat.

Respon ini bukan tanda suasana hati yang bahagia atau sedih, melainkan gangguan sistem saraf yang disebut Pseudobulbar Affect (PBA).

Ada beberapa gejala umum yang menunjukkan bahwa seseorang menderita PBA. Gejala itu antara lain:

1. Tiba-tiba menangis atau tertawa dan tidak bisa mengendalikannya.

2. Gejala tidak terkait suasana hati. Dengan kata lain, Anda mungkin merasa bahagia tetapi mulai menangis dan tidak bisa berhenti atau merasa sedih namun malah tertawa.

3. Merasa cemas atau malu di depan umum.

4. Ledakan frustrasi dan kemarahan.

5. Ekspresi wajah yang tidak cocok dengan emosi.

Secara sepintas, gejala PBA hampir mirip dengan gejala depresi atau gangguan bipolar. Para ilmuwan meyakini, PBA terjadi akibat kerusakan pada korteks prefrontal, yaitu area otak yang membantu mengendalikan emosi.

Cedera atau penyakit yang memengaruhi otak juga dapat memicu PBA. Sekitar setengah dari orang yang terserang stroke mengalami penyakit tersebut.

Melansir dari Hello Sehat, penyakit yang sering dikaitkan dengan PBA meliputi tumor otak, demensia, multiple sclerosis, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), serta penyakit parkinson.

Bagaimana mengobatinya?
PBA biasanya bisa dikendalikan lewat obat-obatan. Pada tahun 2010, FDA menyetujui dextromethorphan atau quinidine sebagai terapi obat pertama untuk penderita PBA.

Dokter akan meresepkan obat antidepresan untuk mengendalikan gejala PBA. Sebuah studi menunjukkan, obat antidepresan membantu meredakan seseorang yang sering menangis dan tertawa tak terkendali karena PBA. Hanya saja, obat ini tidak selalu bekerja dengan baik. [GP]

SHARE