Wisata ke Astana, Kota Bekas Penjara Uni Soviet - Male Indonesia
Wisata ke Astana, Kota Bekas Penjara Uni Soviet
MALE ID | Relax

Astana merupakan ibukota Kazakhstan, dengan luas sekitar 1.200 km yang berkembang di atas padang rumput terluas di dunia. Di tengah rimbun pepohonan, Astana berkembang sebagai kota dengan gaya arsitektur futuristik. Salah satunya Khan Shatyr, bangunan berbentuk tenda yang dirancang oleh Norman Foster.

Photo: wikimedia commons

Ada juga Central Concert Hall yang bangunannya mirip bunga merekah, kantor presiden seperti Gedung Putih, hingga menara lolipop setinggi 100 meter Baiterek. Bangunan-bangunan ‘unik’ tersebut baru ada sekitar tahun 2004.

Pada 1997, Presiden Kazakhstan kala itu, Nursultan Nazarbayev, memindahkan ibu kota dari Almaty ke Astana --kota yang sebelumnya bernama Akmola.

Awalnya, Astana berupa padang rumput hijau datar dan luas. Hanya Sungai Ishim melintas di tengahnya. Kawasan ini tadinya adalah penjara Soviet.

Sekarang, Astana dikenal sebagai kota fiksi ilmiah karena keberadaan bangunan ajaib. Turis mancanegara, terutama yang menyukai arsitektur, semakin sering berdatangan. Terutama setelah Kazakhstan memberlakukan bebas visa ke beberapa negara, salah satunya Indonesia.

Mengutip dari CNN, iklim di kota Astana membuat proses pembangunan gedung lebih rumit. Di musim dingin, suhunya bisa turun hingga minus 40 derajat Celcius, menjadikannya ibu kota terdingin kedua di dunia. Sementara pada musim panas, suhunya mencapai 30 derajat Celcius.

Dari kejauhan, arsitektur Astana terlihat tidak umum, namun tema Kazakh sebenarnya meliputi setiap bangunan yang ada.

Baiterek dibangun dengan tema legenda lokal ‘Pohon Kehidupan’ yang memiliki telur berwarna emas di puncaknya. Central Concert Hall dibuat menyerupai instrumen tradisional Kazakh yang dikenal sebagai dombra.

Kendati kota ini terus berkembang, bangunan besar masih sedikit ketimbang gedung atau rumah berukuran kecil. Central Concert Hall adalah salah satu gedung konser terbesar di dunia dan mampu menampung 3.500 penonton.

Banyak arsitek turut andil membentuk nuansa sebuah ibu kota baru, namun satu-satunya orang yang punya dampak terbesar dalam transformasi Astana adalah Presiden Nazarbayev.

Pada banyak hal, Astana terlihat seperti proyek ‘hobi’ Nazarbayev. Di puncak Baiterek, yang dibangun dari sketsa dirinya, wisatawan dapat menyentuh sidik jarinya yang berlapis emas. Dan terakhir, hari ulang tahun kota Astana bertepatan dengan ulang tahun Nazarbayev.

Walau begitu, orang-orang berpendapat bahwa Astana bukan simbol ego Nazarbayev, melainkan ambisinya untuk bangsa Kazakhstan.

Desain futuristik kota ini seolah menegaskan ambisi dan keinginan Kazakhstan untuk menjauhkan diri dari warisan Soviet yang telah memengaruhi banyak negara di kawasan Asia Tengah. [GP]

SHARE