Alasan Asia Tenggara Masih Jadi Target Phishing - Male Indonesia
Alasan Asia Tenggara Masih Jadi Target Phishing
MALE ID | Digital Life

Asia Tenggara masih menjadi target pelaku kejahatan siber yang mencoba menginfeksi jaringan dan perangkat melalui trik phishing. Seperti diketahui, phising adalah suatu metode yang digunakan penjahat siber untuk mencuri password dengan cara mengelabui target menggunakan fake form login pada situs palsu yang menyerupai situs aslinya.

phising-Male IndonesiaPhoto by Bench Accounting on Unsplash

Perusahaan keamanan siber global Kaspersky mendeteksi ada total 14 juta upaya phishing terhadap pengguna internet di kawasan tersebut selama paruh pertama 2019. “Ancaman lama, tetapi efektif, ini nyata di Asia Tenggara dan tidak menunjukkan tanda-tanda memudar dalam waktu dekat,” kata GM Kaspersky untuk Asia Tenggara Yeo Siang Tiong dalam keterangan tertulisnya.

Kaspersky menyebut upaya phishing selama paruh pertama 2019 tertinggi ditempati Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Terdapat lebih dari 11 juta upaya gabungan yang terdeteksi dari tiga negara tersebut.

Selain itu, Thailand mencatat hampir 1,5 juta upaya phishing terdeteksi, dan Filipina memiliki lebih dari satu juta insiden. Kemudian, Singapura hanya mencatat sebanyak 351.510 upaya phishing sejak Januari hingga Juni pada tahun ini.

Di sisi lain, peringkat negara-negara Asia Tenggara secara dinamis mengalami perubahan, ketika berbicara tentang persentase pengguna yang terinfeksi serangan phishing. Dalam statistik phishing Kaspersky, paruh pertama pada 2019, menunjukkan Filipina memiliki persentase korban phishing tertinggi, yakni 17,3 persen. Persentase itu menunjukkan peningkatan 6,556 persen lebih tinggi dibandingkan data untuk periode yang sama pada tahun lalu, yakni 10,449 persen.

Sementara Malaysia, mencetak angka tertinggi kedua dengan 15,829 persen upaya phishing, dari sebelumnya 11,253 persen pada paruh pertama 2018. Kemudian, Indonesia mengalami 14,316 persen upaya phishing dari sebelumnya 10,719 persen pada tahun lalu.

Kemudian, Thailand mengalami 11,972 persen upaya phishing dari sebelumnya 10,9 persen, serta Vietnam dengan selisih tipis sebanyak 11,703 persen dari sebelumnya 9,481 persen. Singapura mencatat persentase sebanyak 5 persen pada tahun ini, dibandingkan sebelumnya 4,142 persen.

Upaya phishing merujuk pada frekuensi pelaku kejahatan siber yang mencoba mengarahkan para pengguna Kaspersky, agar mengunjungi situs web palsu untuk mencuri informasi mereka. “Boleh diakui atau tidak, wilayah ini terdiri dari banyak populasi muda dan sangat mobile, kita perlu memberikan edukasi tentang risiko serangan dasar seperti phishing,” ujar Yeo.

Menurut dia, kondisi itu merupakan fakta yang harus diterima. Selama ini, dia menjabarkan para pengguna muda akan membeli telepon baru, tetapi hanya berpikir untuk mengamankannya secara fisik, tidak secara virtual. Selama individu masih belum mempertimbangkan penjagaan keamanannya dengan baik saat menggunakan internet, maka korban phishing terus berjatuhan. *** (SS)

SHARE