Ternyata Sering Pelukan Bisa Bikin Kecanduan Seks - Male Indonesia
Ternyata Sering Pelukan Bisa Bikin Kecanduan Seks
Sopan Sopian | Sex & Health

Memberi pelukan adalah salah satu cara pasangan mengungkapkan rasa sayang dan cintanya satu sama lain. Pelukan dapat membuat seseorang merasa nyaman berdekatan dengan pasangannya. Sebab pelukan mengeluarkan hormon oksitosin yang dikenal juga dengan hormon cinta.

berpelukan - male IndonesiaPhoto by Anastasia Sklyar on Unsplash

 

Selain itu, tentu memberikan pelukan juga memberikan manfaat lain, seperti menghilangkan stres, karene pelukan mengurangi jumlah hormon stres kortisol yang diproduksi oleh tubuh. Juga dapat memberlancar komunikasi, alasannya pelukan merupakan alat komunikasi non verbal yang dapat membantu untuk menciptkan setiap pasangan menjadi lebih hangat.

Dan tentunya pelukan memberikan kehangatan satu sama lain, antara Anda dan si dia. Satu kali pelukan dalam sehari kepada pasangan, sama dengan memberikan kehangatan sepanjang hari.

Namun penelitian baru mengungkapkan jika pelukan ternyata bisa membuat seseorang kecanduan seks. Peneliti dari Karolinska Institute di Swedia mengamati kondisi darah dari 60 orang yang dirawat karena kecanduan seks. Sebagian besar peserta penelitian tersebut adalah pria.

Seperti mengutip laman Daily Mail, para peneliti menemukan perbedaan susunan genetik pada mereka yang menjadi pecandu seks. Menurut peneliti, terlalu sering pelukan dapat membuat kadar oksitosin seseorang berlebih. Akibatnya, ia merasa terikat dan memiliki keinginan untuk tetap bersama. Pada saat yang sama, kondisi itu membuat dirinya secara kompulsif mencari seks.

Dalam penelitian ditemukan perbedaan penting dalam materi genetik 'microRNA' peserta yang kelebihan hormon oksitosin. Meskipun perbedaan itu sangat kecil, tetapi cukup untuk mengubah microRNA yang berdampak pada kecanduan seks.

Menurut penulis senior penelitian, Profesor Jussi Jokinen, banyak peserta yang tidak dapat mengendalikan perilaku karena kelebihan hormon. Efek buruknya pada kehidupan adalah hubungan yang terputus, mengalami depresi, dan kecemasan.

"Berdasarkan temuan penelitian kami, ada bukti yang menunjukkan bahwa kecanduan seks adalah diagnosis medis yang memiliki penyebab neurobiologis. Hasil dari temuan ini dapat menjelaskan alasan terapi perilaku kognitif diperlukan untuk menurunkan oksitosin," ungkap Profesor Jussi.

Dirinya menambahkan, terapi perilaku kognitif dapat membantu pecandu seks mengubah cara berperilaku kepada pasangan atau mendapatkan obat untuk membatasi hormon oksitosin. Sebab WHO telah menetapkam kecanduan seks sebagai bentuk penyakit mental. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Epigenetics. *** (SS)

SHARE