Terjebak Aksi Demonstran, Memicu Gangguan Mental - Male Indonesia
Terjebak Aksi Demonstran, Memicu Gangguan Mental
Gading Perkasa | Sex & Health

Aksi demonstran di sekitar Gedung DPR pada 23 September 2019 berujung ricuh. Terjadi saling lempar antara massa dan polisi. Bukan hanya mahasiswa, aparat keamanan dan jurnalis juga menjadi korban dalam demo tersebut.

Photo by Spenser on Unsplash

Hal itu menimbulkan trauma pada beberapa korban. Beberapa pakar kesehatan menyebut, aksi demonstran yang ricuh bisa memicu dampak traumatis.

“Kondisinya bisa disebut PTSD jika gejala trauma terus bertahan dengan intensitas tinggi, berlangsung lebih dari satu bulan sejak peristiwa traumatis terjadi dan memengaruhi individu dalam menjalankan rutinitas sehari-hari,” kata Linda Setiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth.

Seperti dilansir dari Hello Sehat, PTSD atau post traumatic stress disorder adalah gangguan kesehatan mental yang terjadi setelah seseorang mengalami trauma berat. Trauma ini biasanya disebabkan oleh kejadian yang mengancam keselamatan dirinya seperti bencana alam, atau menyaksikan kericuhan demonstrasi.

Tidak semua orang yang trauma akan mengalami PTSD. Seringkali gejala yang timbul justru mengalami perubahan, seiring berjalannya waktu. Pada beberapa kasus, setelah lebih dari 12 bulan, persentase pasien yang telah didiagnosis mengidap PTSD justru mengalami penurunan dan perubahan status.

Sejatinya, memori tak akan pernah benar-benar terlupakan. Sesekali suatu hal akan mudah memicu memori lama untuk kembali teringat, meskipun Anda sudah melupakannya. Hal ini pun berlaku untuk memori yang ternyata merupakan sebuah trauma masa lalu.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menunda penanganan traumanya, namun lamanya waktu bukanlah penghalang dalam mengatasi trauma.

Bahkan di sejumlah kasus, jauh lebih mudah menangani peristiwa yang lama berlalu ketimbang kasus yang baru terjadi kurang dari satu tahun. Sebab, masih terlalu melekat peristiwa penyebab trauma tersebut di benak penderitanya.

Mengatasi trauma dengan melupakannya
Berdasarkan bukti peristiwa, melupakan adalah salah satu jenis terapi PTSD, tapi bukan satu-satunya. Terapi PTSD masih bisa dilakukan dengan memahami apa yang dirasakan tubuh.

Pada sebuah kasus, pasien hanya mampu mengingat saat dia dikurung di suatu ruangan gelap dalam waktu lama, tanpa dapat mengingat kelanjutan dari kisah tersebut. Namun tubuhnya masih bisa merasakan teror yang dialami pada waktu itu. Dengan kombinasi dua hal tersebut, terapi pun dapat dijalankan.

Tidak berbahaya
Kenyataannya, menjadi agresif bukan salah satu dari gejala PTSD. Beberapa gejala PTSD adalah bermimpi buruk, kesulitan berkonsentrasi, mencegah hal-hal yang berkaitan dengan trauma masa lalu, mengalami flashback, merasa bersalah, sulit terlelap, dan sebagainya.

Beberapa studi justru mengungkapkan bahwa hanya kurang dari 8 % pasien PTSD yang diindikasi berlaku anarkis. [GP]

SHARE