Keperkasaan Pria Hilang Karena Polusi Udara - Male Indonesia
Keperkasaan Pria Hilang Karena Polusi Udara
MALE ID | Sex & Health

Banyak penyakit bisa muncul akibat polusi udara. Salah satu yang umum ditemukan adalah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Bahkan beberapa studi menemukan, polusi dapat meningkatkan depresi dan memicu seseorang untuk bunuh diri.

Photo by Ilya Shakir from Pexels

Akan tetapi, selain menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), pria yang terpapar polusi udara juga dapat membahayakan organ vitalnya. Benar sekali, keperkasaan pria bisa hilang alias mengalami disfungsi ereksi.

Hal itu dibuktikan dalam hasil penelitian di Universitas Guangzhou, Cina, yang telah diterbitkan di Journal of Sexual Medicine.

Penelitian ini menganalisis dampak buruk dari asap knalpot kendaraan bermotor terhadap kinerja ereksi. Sebagaimana dinukil dari World of Buzz, hasil penelitian menunjukkan polusi udara secara positif memengaruhi fungsi ereksi dan kesehatan umum.

Studi ini dilakukan pada tikus sehat berumur 12 minggu yang dipecah menjadi empat kelompok dan masing-masing terdiri dari 10 hewan.

Dari analisis tersebut ditemukan, semakin lama tikus terpapar polusi, maka semakin banyak masalah yang timbul.

Setelah tiga bulan berlalu, peneliti menguji fungsi ereksi menggunakan stimulasi listrik dan fungsi paru-paru dengan Forced Pulmonary Maneuver System.

Berdasarkan hasil penelitian, mereka menemukan tikus yang terpapar polusi selama empat atau enam jam mengalami 'pengurangan fungsi ereksi yang signifikan dalam hal tekanan intracavernous (ICP).

Menurut peneliti, kemungkinan ini disebabkan oleh peradangan sistemik, disfungsi paru, dan berkurangnya kadar oksida nitrat sintase dalam jaringan ereksi.

Selain itu, dipengaruhi pula oleh kapasitas paru-paru yang berkurang, alveoli hancur, dan adanya perubahan hormonal pada jaringan organ vital.

Perihal hubungan antara polusi udara dari asap knalpot ke fungsi seksual, peneliti mengakui perlu ada lebih banyak penelitian yang dilakukan, terutama karena tes baru dilakukan pada hewan.

“Keterbatasan utama dari studi pendahuluan kami adalah model paparan polusi kendaraan yang kami berikan. Meskipun knalpot kendaraan adalah sumber utama pencemaran udara perkotaan, kami tidak dapat sepenuhnya meniru kondisi alami pencemaran udara yang sebenarnya,” ujar tim peneliti, mengutip World of Buzz.

“Di sisi lain, kami mengakui bahwa konsentrasi polutan dalam penelitian kami terlalu tinggi dan tidak memiliki ‘tanggapan dosis’,” ujar mereka. [GP]

SHARE