Rebecca Schaeffer, Mati di Tangan Fansnya Sendiri - Male Indonesia
Rebecca Schaeffer, Mati di Tangan Fansnya Sendiri
Gading Perkasa | Story

Rebecca Schaeffer sedang dalam perjalanan untuk menjadi bintang Hollywood. Pada 1989, ia sudah muncul di beberapa film dan acara TV. Namun, pada hari dia ditetapkan mengikuti audisi dalam The Godfather III, hidupnya berakhir tragis.


Photo: wikimedia commons

Pagi hari di 18 Juli 1989, Rebecca Schaeffer mondar-mandir di apartemennya. Ia menunggu pengiriman naskah The Godfather III yang akan dibaca di hadapan sutradara pemenang Penghargaan Academy, Francis Ford Coppola.

Schaeffer mengikuti audisi untuk peran Mary Corleone, putri Michael Corleone; peran yang pasti mengubah kariernya di dunia hiburan. Ketika bel pintu berbunyi, Schaeffer bergegas turun, tetapi dia tidak disambut kurir yang diharapkan.

Melansir dari All Thats Interesting, pria di ambang pintu rumahnya membawa tas berisi salinan buku The Catcher In The Rye, foto Schaeffer bertanda tangan, dan kartu yang diterima dari padanya sebagai tanggapan atas surat yang telah ditulisnya. Kartu Schaeffer untuknya berbunyi, “Anda adalah salah satu terbaik yang pernah kumiliki.”

Schaeffer tersenyum dan mengatakan padanya bahwa dia harus bersiap-siap. “Tolong jaga dirimu,” ia menjabat tangannya, lalu menutup pintu. Pria bernama Robert John Bardo itu telah melakukan perjalanan 500 mil dari Tucson, Arizona ke Hollywood Barat hanya untuk melihat Schaeffer.

Setelah interaksi singkat di ambang pintu, Bardo berjalan ke restoran dan sarapan. Dia sadar bahwa dia lupa tentang CD dan surat yang dia bawa untuk Schaeffer, dan memutuskan kembali ke apartemen Schaeffer.

Kali ini, Schaeffer tidak sabar, dia tampak kesal. Bardo menjawab, “Saya lupa memberi Anda sesuatu.” Dia mengeluarkan pistol Magnum .357 dan menembak dada Schaeffer.

Schaeffer berteriak, “Mengapa, mengapa?” Bardo berbalik dan berlari, meninggalkan pujaannya berdarah. Ketika mendengar suara tembakan dan teriakan, seorang warga memanggil ambulans, tetapi sudah terlambat. Schaeffer meninggal tak lama setelah tiba di rumah sakit.

Awal karier

Schaeffer sulit menemukan pekerjaan sebagai model karena tingginya kurang dari tinggi rata-rata. Ia pergi ke Jepang, berharap lebih beruntung. Masih gagal, Schaeffer kembali ke New York dan mengalihkan perhatiannya ke dunia akting.

Pekerjaan akting stabil bagi Schaeffer dan tidak lama sebelum berusia 18 tahun, ia mendapatkan peran utama dalam program CBS My Sister Sam.

Pada 1987, Schaeffer mulai berkencan dengan Brad Silberling. Singkatnya, ia lebih merasakan gaya hidup selebriti dan mulai menerima surat penggemar.

Setahun berselang, Schaeffer berperan dalam Scenes From The Class Struggle In Beverly Hills. Film ini membawanya ke tingkat bintang baru.

Upaya fans keji

Robert Joh Bardo jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Schaeffer di My Sister Sam. Pria itu menulis surat kepada Schaeffer. Dia semakin yakin bahwa dia terhubung dengan idolanya lewat setiap surat yang dia kirim. Tapi tetap saja, Bardo tidak tahu apa-apa tentang Schaeffer di luar acara TV-nya.

Saat menerima surat dari Schaeffer pada musim panas 1987, Bardo naik penerbangan ke Burbank dari Tucson. Dia berjalan ke Warner Brothers Studios sembari membawakan bunga dan boneka untuk sang pujaan.

Kepala Keamanan Warner Brothers kala itu, Jack Egger, mengingat Bardo memohon padanya untuk diizinkan masuk, “Aku harus melihatnya. Seandainya aku bisa melihatnya sebentar.”

Egger prihatin pada Bardo. Ia menawari Bardo tumpangan kembali ke hotel tempat dia menginap. Keduanya berbicara selama perjalanan dan Egger mengatakan bahwa akan lebih baik bagi Bardo kembali ke Tucson. Namun, satu bulan kemudian, Bardo kembali ke studio dengan sebilah pisau. Dia pun dicegah masuk.

Perasaan Bardo berubah menjadi benci ketika melihat Schaeffer bermain di film Scenes From The Class Struggle di Beverly Hills. Pasalnya, ada adegan di mana idolanya berada di ranjang bersama pemeran pria.

Bardo lalu pergi ke Anthony Agency, firma investigasi swasta Tucson, dengan foto Schaeffer. Dia mengatakan kepada penyelidik swasta, Schaeffer adalah teman lamanya dan mereka telah berkorespondensi di masa lalu. Namun dia butuh alamatnya saat ini agar bisa mengirimkan hadiah.

Mendapatkan akses ke alamat rumah Schaeffer terbukti mudah. Bardo membayar 300 USD kepada penyelidik swasta dan menghubungi Departemen Kendaraan Bermotor California atas namanya.

DMV California memberikan alamat rumah Schaeffer. Tindakan ini terbilang legal, mengingat informasi SIM adalah catatan publik kala itu. Bardo juga tidak lupa membeli sepucuk pistol yang akhirnya menewaskan Schaeffer.

Sebelum Bardo naik bus menuju LA, ia menulis surat kepada saudaranya di Knoxville, Tennessee. Isinya, “Saya memiliki obsesi dengan hal yang tidak mungkin tercapai. Saya harus menghilangkan apa yang tidak bisa saya dapatkan.”

29 Oktober 1991, Bardo dihukum karena pembunuhan tingkat pertama. Dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat. Kini, ia dipenjara di Penjara Negara Bagian Avenal, California, Amerika. [GP]

SHARE