Menulis Kegagalan di Masa Lalu Punya Efek Positif - Male Indonesia
Menulis Kegagalan di Masa Lalu Punya Efek Positif
Gading Perkasa | Sex & Health

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa menulis kegagalan atau kejadian negatif di masa lalu bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi stres dan memberikan kehidupan baru yang lebih baik.

Photo by Startup Stock Photos from Pexels

Memahami dan menganalisis apa yang salah di masa lalu memberikan seseorang pandangan baru serta membantu mereka menangani stres di masa depan.

Orang-orang biasanya mendapat saran untuk melihat sisi yang lebih cerah ketika mereka gagal dan tidak bisa melupakan kegagalan di masa lalu. Namun, studi terbaru ini menunjukkan, berpikir kritis tentang kejadian negatif sebenarnya dapat mengarahkan kita pada hasil yang lebih baik di masa depan.

Menurut para peneliti di Rutgers University-Newark, berpikir tentang peristiwa kurang mengenakkan bisa membantu seseorang menangani stres dengan lebih baik dan meningkatkan kemampuan di beberapa area.  

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa memperhatikan dengan seksama kejadian atau perasaan negatif yang pernah dialami, baik dengan meditasi atau menulis hal tersebut, akan memberikan hasil positif ke depannya.

“Stres akut bisa mengganggu kehidupan kita. Paradoksnya, menulis tentang kejadian yang membuat kita stres, seperti kegagalan di masa lalu, justru bisa memperbaiki fungsi kognitif. Terutama untuk pekerjaan yang membutuhkan perhatian lebih,” kata Brynne DiMenichi, peneliti dan doktor di Rutgers University-Newark, mengutip National Geographic.

Dalam kolaborasinya dengan peneliti dari University of Pennsylvania dan Duke University, DiMenichi meneliti pengaruh menulis kegagalan di masa lalu dengan kinerja di masa depan pada 86 orang.

Para peneliti membagi partisipan ke dalam dua grup, penguji dan pengontrol. Mereka yang berada di grup penguji diminta untuk menuliskan kegagalan di masa lalu. Sementara, partisipan di kelompok lainnya menulis hal-hal yang tidak berhubungan dengan diri mereka.

Jumlah hormon stres (kortisol) dalam air liur mereka diukur di awal penelitian. Para peneliti lalu menemukan bahwa partisipan yang menulis kegagalan di masa lalu, memiliki kadar kortisol lebih rendah dibanding mereka yang tidak.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience, orang-orang yang menulis tentang kejadian negatif di masa lalu lebih hati-hati saat mengatasi situasi penuh stres di masa depan. Secara keseluruhan, mereka bisa menanganinya dengan baik. [GP]

SHARE