Duff Tattoo, Jadi Tattoo Artist Harus Disiplin - Male Indonesia
INTERVIEW
Duff Tattoo, Jadi Tattoo Artist Harus Disiplin
Sopan Sopian | Sport & Hobby

Dunia tattoo kini sudah menjadi gaya hidup atau lifestyle. Sehingga bagi sebagaian orang, khususnya pria, tidak berattoo tidak keren. Di Indonesia sudah banyak tatto artist yang namanya telah dikenal di kancah Internasional, salah satunya Duff Tattoo.

MALE Indonesia belum lama ini berbincang langsung bersama Duff di studio tattoo-nya yang juga satu atap dengan bengkel Harley Davidson miliknya bernama Shoveland, di kawasan BSD, Tangerang, Banten. Banyak hal yang dibicarakan, mulai dari pertama kali belajar tattoo hingga bagiamana menjadi tattoo artis yang bisa terjun ke kancah Internasional.

Awalnya sebagai tattoo artist, lalu buka bengkel Harley, hobi yang jadi bisnis?
Sebenarnya ini lebih ke hobi.

Ngomong-ngomong soal tattoo, cerita awalnya bagaimana?
Dari kecil sudah suka seni, saya salah satu penggemar Pak Tino Sidin. Dan saya pernah dipertemukan dengan beliau, saya akhirnya terus suka dengan seni, melukis,  dan saya juga sempat kuliah desain di Bandung walau cuma seminggu masuk.

Ngakunya masuk sama orang tua, tapi sampai saat ini saya terus mendalami, saya masih mencari seminar-seminar lukis di luar negeri.

Akhirnya lulus kuliah atau drop out (DO)?
Waktu itu saya selesai kuliah apa DO ya, saya lupa waktu itu. Kayaknya lebih pasnya DO. Karena senimankan egoisnya tinggi. Jadi saya masuk kampus tapi karena sudah bisa, akhirnya terjun disaat kuliah belum beres saya sempet kerja di salah satu TV. Tapi rasanya tidak cocok saya keluar. 

Mungkin karena egois saya yang tinggi lebih baik punya pekerjaan sendiri. Karena saya sudah men-tattoo sejak SMA (Sekolah Menangah Atas). 

Terus men-tattoo siapa waktu itu?
Dulu masih di Sumatera, masih bawain bule-bule surfing dulu. Karena dulu Sumatera terkenal dengan surfingnya. Jadi saya waktu itu sambil men-tattoo mereka. Dari sana kepikiran, dengan kerja sendiri hasilnya sama dengan gaji sebulan ditambah disuruh-suruh orang, jadi mending kerja sendiri.

Jadi saya banting setir mencoba tattoo, dan terjebaklah di sini. Tapi terjebak dalam arti kata, okelah. 

Waktu men-tattoo saat kuliah, siapa pertama kali yang di-tattoo?
Pertama teman-teman sendiri dulu. Itu adalah sasaran paling empuk. Karena kalau kita bikin jelek, kalau dia marah pasti enggak enak. 

Saya sebenarnya sudah men-tattoo sejak 1996. Saya masih inget banget, gambar tattoo pertama yang saya buat waktu itu wayang. 

Waktu itu kenapa wayang, karena Indonesiakan inikan kaya dengan budayanya, jadi saya suka ada sesuatu bentuk yang seharunya saya angkat. Jadi saya lebih suka seperti wayang dan motif-motif yang ada di Indonesia. Itu kan banyak banget. 

Belajar tattoo otodidak atau belejar formal?
Awalnya sih belajar secara otodidak. Tapi semenjak tahun 2000, saya sempet memperdalam bersama Kang Kent Kent di Bandung. Itu salah satu orang yang dituakan di Indonesia. Selain itu saya juga belajar ke artist tattoo di luar negeri juga. Semacam seminar-seminar. Samapai detik ini saya masih ikutin.

Saat men-tattoo sempat dimarahin sama temen yang jadi kelinci percobaan?
Sama temen sih tidak. Malah sama warga paling sering (dimarahin). Tattoo itu kan tabu bagi masyarakat awam, karena mikirnya tattoo itu identik dengan kriminal, mabok-mabokan, narkoba, padahal sebenarnya itu tidak seperti itu. 

Emang apa sisi positifnya?
Banyak sisi positifnya. Pertama dari sisi kedisiplinan. Kalau kita jadi tattoo artist kita harus disiplin. SOP kita, pertanggungjawaban kita secara profesional harus disiplin. Misalnya harus steril, dan tahap-tahap lainnya itu dibutuhkan kedisiplinan yang sangat tinggi.

Jadi, saat men-tattoo itu tidak boleh dalam keadaan mabok atau tidak sadar. Harus dalam keadaan segar dan bersih darah juga.

Dalam tattoo pasti ada aliran seni di dalamnya, Anda lebih ke aliran mana, surealis atau realis?
Saya lebih ke realis. Cuma untuk tuntutan pekerjaan itu apapun yang diminta, ya sudah palugada (Apa Loe Mau, Gua Ada). 

Alasannya kenapa lebih spesifik ke realis, karena ketika dilihat itu bisa lebih hidup, ada bentuk volume gambarnya, ada pencahayaannya dan itu lebih puas bagi saya sendiri. Karena saya penyuka realistik.

BISNIS DAN EDUKASI

Sebenarnya tattoo ini dijadikan bisnis, sudah menjadi cita-cita yang sudah dibayangkan sejak dulu?
Sebenarnya saya bercita-cita ingin jadi pilot. Dan sekarang saya sudah bisa nerbangin, tapi lisensinya yang belum ada. Dan saya masih terus mendalami sampai saat ini.

Bisa ceritain bagiamana kemudian tattoo bisa menjadi fokus bisnis Anda?
Awalnya ini sebenarnya sebagai tuntutan ekonomi sih. Karena saya sebenarnya tidak menyangka kalau bisnis tattoo bisa seperti ini. Ditambah sekarang tattoo itukan lifestyle, sudah jadi kebutuhan. Karena ketika saya ke luar negeri, di sana orang-orang menabung hanya untuk tattoo.

Bukan hanya di luar negeri. Walau di setiap negara berbeda-beda, tapi di Indonesia sendiri saya lihat sudah menjadi lifestyle. Walau dulunya memang tabu, tapi seiring perkembangan zaman jadi suatu kebutuhan, di mana kalau tidak ada tattoo tidak keren. 

Lalu setelah melihat hal tersebut?
Nah, di situlah saya tergeraknya dengan teman-teman komunitas saya, yaitu Indonesian Subculture untuk lebih memberikan edukasi kepada teman-teman. Karena di Indonesia ini, tattoo banyak yang harus diangkat nilai-nilai budayanya. 

Seperti ada motif Kalimantan yang terkenal di dunia, tapi kenapa di Indonesia tidak begitu terkenal. Kenapa orang kita lebih suka gambar dari Amerika atau Eropa, sementara kita kaya banget dari hasil budaya daerah. Nah, beberapa teman sudah mempopulerkan motif budaya daerah di luar negeri. Ada Durga tattoo dan Itameda tattoo, dua di antaranya.

Kemudian untuk di Indonesia bagaimana?
Disitulah kita bergerak untuk edukasi lagi. Karena di tattoo itu tidak hanya dituntut untuk bisa menggarmbar saja, tapi juga dengan SOP-nya, bagaimana bekerja dengan bersih, kita tidak menularkan penyakit. Karena kalau saya di Eropa, saya ikut International Tattoo itu, dan saya juga ada studio bisnis (tattoo) di sana, itu ada diploma dari Dinas Kesehatan dan segala macamnya.

Sementara di sini (Indonesia), dilepas begitu saja. Nah kitalah yang turun ke bawah untuk teman-teman yang masih baru. Memberi edukasi, memberi lisensi dari Indonesian Subculture. Sebagai profesional tattoo artist

Anda sudah jadi bagian dari tattoo artist Internasional, sebenarnya apa perbedaan mentatto di Indonesia dan di luar negeri?
Perbedaannya itu kalau kita buka bisnis studio tattoo, perbedaannya itu banyak. Yang saya alami itu kalau di luar negeri adalah izinnya. Perizinan itu tidak gampang. Banyak banget syaratnya. Untuk studionya juga memiliki standarisasinya. Mulai dari pintunya seperti apa sampai pembuangannya seperti apa, dan lain sebagainya.

Nah, sebagai tattoo artist berpengalaman, apa yang bisa dibagi untuk para tattoo artist pemula?
Untuk pertama sih bagi saya itu kedisiplinan. Karena kalau tidak disiplin, kita akan kesulitan untuk mengikutip step-step berikutnya, seperti cara bersih-bersihnya studio dulu, badan juga. 

Terus untuk benar-benar ingin menjadi tattoo artist yang profesional, kita juga harus cek darah, cek kesehatan, karena pekerjaan kita ini rentan dengan penularan penyakit. Jadi sebelum kita memutus rantai penyebaran penyakit, kita sendiri harus proteksi diri kita sendiri. 

Nah, kalau kita sudah siap secara personalnya, baru kita bersentuhan dengan customernya. Itu pasti akan lebih percaya diri lagi. Setelah ini sudah bisa diterapkan, barulah buat saya bicara soal gambar. Jadi memang tattoo ini gambarnya keren-keren, tapi kalau kerjanya tidak bersih dan tertular penyakit, buat apa. 

Setelah itu harus terus mengembangkan ide. Karena tidak semua orang yang bisa gambar memiliki ide yang terus berkembang. Karena inovasi baru kan dari masing-masing individunya. 

Lalu ada step-stepnya tidak untuk bisa menjadi seperti Anda, yang bisa sampai ke manca negara?
Tidak ada step-stepnya sebenarnya. Jadi siapa pun bisa. Tapi begitu ke suatu negara tertentu, mereka (customer) akan cek sendiri kok. Kalau ingin terjun ke kancah Internasional, siapapun bisa. Dan saya akan ikut suport. Sekalian kita promosikan budaya kita yang ada di Indonesia. *** (SS)

SHARE