Serangan Siber yang Melumpuhkan Wikipedia - Male Indonesia
Serangan Siber yang Melumpuhkan Wikipedia
Gading Perkasa | Digital Life

Wikipedia di beberapa negara terpaksa offline setelah mengalami serangan siber. Serangan DDoS (distributed denial of service) menjadi penyebab kelumpuhan situs tersebut.

Photo: wikimedia commons

Beberapa negara yang tak bisa mengakses Wikipedia antara lain Britania Raya, Polandia, Prancis, Jerman, dan Italia.

Akun Twitter Jerman Wikimedia mencuitkan pernyataan bahwa server Wikimedia lumpuh diserang DDoS. “Server Wikimedia saat ini sedang lumpuh oleh serangan DDoS besar-besaran dan sangat luas,” kata akun tersebut.

Sebagaimana dinukil dari Techtimes, server Wikemedia dari Wikimedia Foundation adalah organisasi pusat dari Wikipedia, Wiktionary, Wikiquote, Wikibooks, Wikisource, Wikispecies, dan Wikiversity.

Wikipedia mengaku, serangan masih berlangsung dan tim teknis dikerahkan untuk menghentikan serangan dan menghidupkan kembali situs Wikipedia.

“Wikipedia dipukul dengan serangan jahat yang menjadikannya offline di beberapa negara selama periode sementara waktu. Kami mengutuk serangan semacam ini,” kata Wikimedia Foundation.

Mengutip Techcrunch, serangan DDoS kali ini bukan hanya melumpuhkan Wikipedia, tapi juga mengancam hak semua orang untuk mengakses dan berbagi informasi.

“Sebagai salah satu situs paling populer di dunia, Wikipedia terkadang menarik aktor yang beritikad buruk,” kata Wikimedia.

DDoS sendiri merupakan teknik serangan dengan membanjiri server menggunakan paket data berkapasitas besar. Serangan ini dilakukan secara terus menerus hingga sistem tidak dapat menampung data dan akhirnya rusak.

Laporan DDoS kuartal kedua 2019 meningkat sebesar 18 % dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Kaspersky, berdasarkan laporan DDos kuartal 2 tahun 2019, jumlah serangan memang turun hingga 44 % jika dibandingkan kuartal pertama 2019.

Tipe serangan terbanyak berupa lapisan aplikasi uang sulit dikelola dan dilindungi. Serangan tipe ini meningkat hingga 32 % dibandingkan kuartal 2 tahun sebelumnya.

Jenis serangan ini menargetkan fungsi atau API aplikasi tertentu, tidak hanya menggunakan jaringan, melainkan juga sumber daya server. Mereka juga lebih sulit untuk dideteksi dan dilindungi, karena memiliki permintaan yang terlegitimasi.

Bila dibandingkan Q2 2018, jumlah jenis serangan ini telah meningkat hampir 32 % dan penyebaran serangan semacam itu di Q2 2019 telah meningkat menjadi 46 %. Ini merupakan peningkatan sebesar 9 % dalam penyebaran dari kuartal pertama tahun 2019, dan 15 % lebih tinggi pada periode yang sama pada 2018.

Alexey Kiselev, Business Development Manager, Kaspersky DDoS Protection mengungkap bahwa secara tradisional, para aktor ancaman yang melakukan serangan DDoS di waktu luang selama musim liburan tidak mengaktifkan serangan hingga September.

“Namun, statistik kuartal ini menunjukkan bahwa penyerang profesional, yang melakukan serangan DDoS kompleks, bekerja keras selama musim liburan,” ujarnya. [GP]

SHARE