Dari Sales Bangun Marketplace B2B Online - Male Indonesia
STARTUP
Dari Sales Bangun Marketplace B2B Online
Sopan Sopian | Works

2013 menjadi titik awal seorang Joseph Aditya membangun sebuah startup bernama Ralali.com, yakni marketplace B2B (Business-to-Business) online di Indonesia. Padahal saat itu, ia sudah menduduki posisi direktur pengelola di sebuah perusahaan peralatan uji dan pengukuran untuk industri bernama PT. Tridinamika Jaya Instrument.


Photo: Sopian/Male Indonesia

Ditemui dalam acara “Rise of Digital Enterprise”, Joseph Aditya menuturkan, pada masa awal, ia hanya dibantu oleh tiga orang, yakni seorang operator, web-update, dan tenaga pemasaran. 

Sebelum menjadi marketplace B2B, mulanya adalah sebagai toko industrial online atau penyediaan barang kebutuhan industrial dan operasional perusahaan (MRO). Misalnya peralatan untuk cleaning service. "Awalnya ini iseng-iseng saja. Untuk modal pakai dana sendiri. Tapi ternyata responsnya bagus,” ucapnya.

Ralali kemudian bertransformasi menjadi marketplace B2B dengan misi memberikan kemudahan bagi penjual (Mitra Ralali) dan pembeli (Sahabat Ralali) dalam menemukan ribuan produk untuk memulai usaha dan memenuhi kebutuhan usaha. "Kami fokus ke usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)," ucap pria yang akrab disapa Aditya itu.

Kemudian untuk mendalami misi pelanggannya, kata Aditya, pada 2018 lalu Ralali kemudian memperkenalkan Business Innovation Group (BIG), pasar segmentasi vertikal yang menggunakan BIG data untuk menyediakan solusi spesifik dalam pemenuhan kebutuhan usaha UMKM sesuai segmentasi usaha, seperti keuangan atau insurtech

BIG mencakup usaha kuliner dan jasa makanan (BIG Resto), usaha perkantoran (BIG Office), usaha otomotif (BIG Auto), usaha bahan bangunan (BIG Home), usaha kebutuhan FMCG (BIG Mart), usaha retail (BIG Market) dan usaha jasa agent berbasis pekerjaan (BIG Agent).

Bekerja Sebagai Sales
Joseph Aditya sebenarnya lulusan Bachelor of Commerce (Bcom) pada Bidang Studi Marketing Management and International Business dari Deakin University, Australia. Meskipun sudah jauh-jauh kuliah di negeri orang, sepulangnya ke tanah air, ia hanya mendapatkan upah sebesar Rp 2,5 juta sebagai sales di PT Tridinamika Jaya Instrument.

Pada tahun 2010, Joseph Aditya berperan dalam mendirikan Tridinamika.com untuk membantu memamerkan produk perusahaan tempat berkerjanya kepada pelanggan. Setelah delapan tahun bekerja, Aditya mampu meningkatkan kariernya menjadi direktur pengelola di perusahaannya.

Tiga tahun kemudian, PT Tridinamika Jaya Intrument mendekati kebangkrutan. Perusahaan di mana ia bekerja mengalami kalah tender pengadaan barang, dengan produk -produk yang lebih mahal. Banyak pemegang saham yang menjual sahamnya lalu pergi dari perusahaan.

Kejadian tersebut membuat Aditya melihat peluang untuk menciptakan mekanisme penjualan, pemasok, dan pengadaan barang online dengan sistem kebijakan harga transparan, yakni Ralali.com (2013). Selama satu tahun menggunakan dana sendiri, pada 2014 Aditya mendapat suntikan dana dari modal ventura asal Singapura, East Ventures.

Dana tersebut digunakan untuk membuat tiga kantor cabang di Serpong, Jelambar, dan Glodok. Dari sana, setiap tahunnya, Ralali terus mendapatkan suntikan dana mulai dari Beenoz Plaza, Cyber Agent Ventures, Yahoo Jepang, hingga Digital Garage.

Kendala dan Culture Perusahaan
Kendala akan selalu ada dalam setiap fase pengembangan sebuah perusahaan. Begitu juga dengan apa yang dibangun Aditya. Menurutnya kendala yang dihadapi tidak bisa dibahas secara umum, karena tiap fase dan tiap tahunnya memiliki challenge-nya masing-masing.

"Sekarang sudah mulai growing, sudah mulai bersar, challenge-nya adalah di internal, itu me-manage tim. Kalau untuk keluar, itu bagaimana cara mengedukasi market bahwa Ralali memiliki banyak pruduk dan dikenal market dengan baik," tutur Aditya.

Misalnya untuk jasa agent berbasis pekerjaan (BIG Agent) sendiri. Karena ini adalah aplikasi tersendiri, jelas Aditya, jika tidak berhati-hati dampaknya lebih besar daripada Ralalinya. "Nah, jadi ini bagaimana caranya berintegrasi dengan baik," tambahnya.

Selain kendala, diceritakan Aditya, perusahaannya memiliki culture yang unik untuk membangun sebuah inovasi produk di dalamnya. Setiap Ralalian (sebutan untuk internal Ralali), bisa me-launching produk sendiri, seperti membuat produk, membaut marketing, dan lain sebagainya. Asalkan tidak lepas dari misi awal.

"Misi awal kita adalah membantu para UMKM untuk bisa growing. Jadi kita bekerja pakai misi. Jadi saya bukan atasan, semua temen-temen mengacu pada misi. Jadi apapun yang mau kamu lakukan, kembali pada misi tidak? Kalau kembali ke misi awal, di Ralali cukup enak juga, kita tidak melarang untuk launching produk. Pruduk itu bergerak sendiri," pungkasnya. *** (SS)

SHARE