The Angels Percussion Lestarikan Musik Etnik - Male Indonesia
Interview
The Angels Percussion Lestarikan Musik Etnik
Gading Perkasa | News

Karier Uzie dan Ochy di The Angels Percussion bisa dibilang cukup melesat di industri musik tanah air. Mereka telah malang melintang di berbagai event musik, baik dalam maupun luar negeri.

Berbekal kreativitas dan ketekunan berlatih, The Angels Percussion selalu menyajikan sesuatu yang menarik di atas panggung. Namun, bukan perkara gampang memadukan dua permainan drum menjadi satu kesatuan yang harmonis.

Lalu bagaimana cara mereka melakukannya? Simak wawancara tim MALE Indonesia bersama The Angels Percussion di bawah ini.

The Angels Percussion dibentuk di Bandung. Pernah membayangkan kalau kalian bisa sampai seperti sekarang?
Jujur nggak kebayang bakal sepanjang ini karier The Angels Percussion. Karena kita dibentuknya gak disengaja. Waktu itu ada dua DJ cari drummer untuk band sekitar 2007. Kita diajak manggung lagi. Karena memang saat itu lagi booming Safri Duo. Dari situ, kita mikir, bolehlah project ini diterusin.

Sempat konsultasi sama drummer ternama seperti Gilang Ramadhan, Teddy Sujaya sebelum membentuk The Angels Percussion?

Kita pernah satu event sama Mas Gilang, konsepnya kaya junior dan senior. Dia lihat kita perform, dan mau memproduseri kita. Cuma konsep seperti kita ini belum ada di Indonesia. Label juga bingung. Kita sebenarnya sudah terpikir ingin bikin musik elektronik, cuma ada unsur etnik di dalamnya.

Berarti, ide memasukkan unsur etnik sudah ada sejak lama?
Sudah, dan memang awalnya kita nggak pakai playback. Main solo berdua aja.

Memadukan unsur modern dan tradisional pastinya tidak mudah. Bisa diceritakan proses kreatifnya?
Prosesnya berjalan begitu saja. Kita jalan ketemu featuring, pelajari musiknya juga. Misalnya musik Kalimantan, kita belajar bagaimana ketukannya. Akhirnya, kita mix dengan musik elektronik. Selama kita suka musik etnik negara kita sendiri, prosesnya gak terlalu susah.

Unsur musik tradisional yang paling mudah masuk ke gaya bermain The Angels Percussion?
Musik Bali sih. Karena memang konsep dance music ada aura minornya, kaya Bali ada sedikit unsur dark, jadi cocok.

Boleh dibilang, Uzie yang mendirikan The Angels Percussion. Lantas pertimbangannya memilih Ochy apa? Atau memang Ochy sendiri?
Berawal dari komunitas, kebetulan aku sekolah musik di tempat Mas Gilang juga, Indonesian Drummer. Yang terbilang aktif itu aku sama kak Uzie. Kenal tahun 2010. Waktu itu The Angels Percussion lagi banyak job, nah aku ikut bantuin sebagai salah satu additional.

Perbedaan mencolok dari Uzie dan Ochy apa sih?
Uzie: Kalau aku sensitif, sementara Ochy cenderung cuek. Agak galak, dan sedikit perfeksionis untuk urusan kerjaan.

Ochy: Uzie sendiri lebih emosional, tapi ngemong.

Tadinya musik kalian beraliran trance. Tapi sekarang, beat-nya diturunkan sedikit. Pertimbangan paling mendasar perubahan musik kalian itu apa?

Capek sih. Dulu 140 Bpm, sekarang turun sekitar 130 Bpm. Waktu kita baru berdiri, lagi booming DJ Tiesto kolaborasi sama Safri Duo. Kita pun mencontoh dari mereka. Tapi lama-lama capek juga tempo 140. Akhirnya kita turunin sampai 128. Apalagi kita sekarang juga masuk merambah acara gathering, gedung perkantoran, mall, wedding.

Berarti bisa dibilang mengikuti keinginan pasar?
Kita mengikuti pendengar juga. Nggak terlalu idealis juga. Dulu orang suka musik EDM, kita main di EDM. Sekarang, musik tradisional Indonesia yang lagi naik daun.

Kalian sudah banyak berkolaborasi dengan musisi papan atas tanah air. Cita-citanya, mau kolaborasi sama siapa?
Uzie: Inginnya sama System Of A Down.

Ochy: Kolaborasi langsung sama Mas Gilang, karena kebetulan dia guru aku. Sudah bilang sih, tinggal realisasinya aja. Hahahaha.

Kenapa bikin grup yang isinya hanya dua orang?
Mungkin karena konsep awalnya mengikuti Safri Duo. Mereka juga berdua. Kalau lebih dari dua orang, agak susah membagi part-nya. Sempat bikin project sampai 10-20 orang, ribet sih.

Faktor yang bikin sebuah album begitu lama rilis?
Terlena dengan pekerjaan. Banyak event, kita manggung, dan pulang. Terus begitu. Awal 2019, kita berpikir harus buat sesuatu. Kita ingin ada karya yang bisa didengarkan, tidak hanya opening art.

Lebih suka materi idealis atau komersial untuk album pertama nanti?
Mau keduanya dimasukkan. Bagaimana pun idealisnya musik etnik, harus bisa dinikmati. Karena, banyak musik etnik luar negeri mendunia. Kenapa enggak kita juga bikin seperti itu. Ada 1-2 lagu yang idealis pastinya.

Agar musik kalian bisa komersial, caranya seperti apa?
Barangkali kolaborasi dengan gitaris atau synthesizer. Banyak caranya.

Sekarang banyak sekali drummer wanita. Bagaimana kalian menjaga stamina?
Uzie: Kita olahraga. Kalau aku seringnya nge-gym. Sementara Ochy running. Kita sudah terbiasa main, jadi satu atau dua jam enggak berasa. Paling istirahat kalau capek banget, sama banyak minum air putih.

Cara Uzie dan Ochy membagi part dalam sebuah lagu, sehingga tidak ada salah satu yang mendominasi?

Ochy: Pada dasarnya kita beda part. Aku ke layer drum, kalau kak Uzie lebih kepada sound perkusi. Walaupun beat-nya sama, sound pasti berbeda.

Dengan penampilan kalian yang agak seksi, mengundang perhatian pria dan mungkin ada yang ingin kenal. Pernah mengalaminya?
Selama belum disentuh, it’s okay. Mungkin kalau sudah sampai dirangkul, kita pastinya risih dan agak menjauh. Lihat dari action mereka seperti apa. Tapi sejauh ini, gak ada yang negatif.

Sudah pernah coba mendekati produser untuk proyek soundtrack film?
Sempat mengisi perkusi di salah satu film. Asyik sih, cuma lebih asyik main di panggung karena kita jadi diri sendiri.

Kalau kolaborasi dengan musik dangdut?
Sering banget. Itu mudah sekali masuknya.

Di waktu senggang, apa saja kegiatan yang kalian berdua lakukan?
Ochy: Kita olahraga bareng. Karena dulu rumahnya berdekatan. Sekarang masing-masing punya kegiatan. Paling cobain masakannya kak Uzie, sesekali ke rumahnya dia.

Ketika musik elektronik mengalami fase penurunan, bagaimana kalian bertindak? Main film, sinetron, atau berganti aliran musik?
Sebenarnya kita bisa masuk ke mana saja, karena perkusi aliran musiknya luas. Baik dangdut, pop, reggae. Intinya, kita bisa ke aliran musik yang challenging. Ketakutan kita justru kehilangan ide. Kalau untuk main film, paling dagelan atau lawakan. [GP/Photo: The Angels Percussion doc.)

SHARE