Hubungan Intim Tidak Aman Picu Infeksi Sifilis - Male Indonesia
Hubungan Intim Tidak Aman Picu Infeksi Sifilis
Gading Perkasa | Sex & Health

Hubungan intim harus dilakukan seaman mungkin. Entah itu dengan pasangan, atau wanita yang baru saja Anda kenal. Sebab bila tidak, penyakit berbahaya dapat mengintai Anda.

hubungan intim - male IndonesiaPhoto by Alena Shekhovtcova from Pexels

Beberapa waktu lalu, seorang pria diberitakan menderita infeksi sifilis yang menyerang susunan saraf pusat otak atau neurosifilis hingga membuatnya sulit berjalan dan berbicara.

Tiga bulan sebelum mengunjungi dokter, pria asal India ini mengalami tremor dan gerakan mata yang tidak terkontrol hingga ia kesulitan berbicara. Setelah diketahui infeksi sifilis di otak, dokter sempat kesulitan mengidentifikasi penyebabnya.

“Tiga bulan sebelumnya, ia mengalami tremor dan gerakan mata tak terkontrol hingga sulit berbicara dengan benar,” kata dokter tersebut, menurut laporan dalam British Medical Journal Case Reports (BMJ), seperti dilansir dari Fox News.

Dokter lalu melakukan MRI untuk mengetahui penyebab pasien menderita infeksi sifilis di otak. Dari MRI itu, ditemukan bahwa pria ini diduga melakukan hubungan intim secara tidak aman.

“Hasil MRI menunjukkan, infeksi sifilis pria ini disebabkan karena hubungan seksual yang berisiko atau riwayat infeksi genital sebelumnya,” demikian keterangan para dokter dalam laporan BMJ.

Tes lebih lanjut juga mengungkap bahwa pria tersebut positif terinfeksi bakteri treponema pallidum, sejenis bakteri penyebab sifilis, infeksi menular seksual yang muncul dengan luka kecil dan tidak terasa sakit.

Karena itu, dokter menentukan jika sang pasien menderita neurosifilis, infeksi langka akibat sifilis yang tidak diobati sejak awal.

“Neurosifilis biasanya berkembang sekitar 10 hingga 20 tahun setelah seseorang terinfeksi pertama kali. Jika orang sifilis dan menderita HIV tapi tidak diobati, sangat berisiko besar mengalami neurosifilis,” kata dokter.

Ada lima jenis neurosifilis, yakni asimptomatik, meningeal, meningovaskular, paresis umum dan tabes dorsalis. Dalam kasus ini, dokter mengatakan infeksi sifilis pria tersebut tidak masuk dalam kategori mana pun. Pasalnya, pasien tidak menunjukkan tanda-tanda neurosifilis yang umum, seperti mual, muntah atau leher kaku.

Akhirnya, pria itu hanya diberi obat antibiotik selama dua minggu dan menjalani fisioterapi sampai akhirnya pulih dan bisa berjalan normal lagi. [GP]

SHARE