Bento, Tradisi Menyulap Makanan dari Era Kamakura - Male Indonesia
Bento, Tradisi Menyulap Makanan dari Era Kamakura
Gading Perkasa | Relax

Bento adalah sejenis bekal makanan kotak yang sangat populer, tidak hanya di Jepang tapi juga di seluruh dunia. Awalnya bento hanyalah makanan yang dimasukkan ke dalam wadah menjadi bekal.

Photo: Christian Kadluba/flickr

Kini, banyak bento kreatif yang memasukkan seni artistik pada bekal makanan ini. Pertanyaannya, bagaimana asal-usul bento hingga dikenal seperti sekarang?

Seperti dikutip dari Japanese Style, kata bento dipercaya berawal dari kata dalam bahasa lokal Dinasti Song selatan, Cina. Yaitu biandang yang memiliki artian praktis. Kata ini masuk ke Jepang dan berubah menjadi bento cara penyebutannya.

Beberapa sejarawan percaya, istilah ini dicetuskan Nobunaga Oda pada abad ke-16 untuk menyebut makanan yang akan ia bagikan kepada orang-orang di istananya. Orang Jepang sudah menggunakan bento sejak lebih dari 1.000 tahun lalu.

Di era Kamakura (1185-1333), orang-orang menaruh makanan dalam sebuah tempat, yang dinamakan hoshi-ii ketika mereka ingin bekerja ataupun berburu. Bento pada era ini hanyalah wadah menaruh nasi yang dibungkus sebuah tas kecil.

Memasuki era Azuchi-Momoyama (1568-1600), bentuk kotak bento bersekat diproduksi. Bedanya, orang lebih sering menggunakan bento untuk memisahkan makanan saat ada pesta atau acara-acara besar ketimbang memakainya sebagai kotak bekal.

Baru pada era Edo (1603-1868), bento menjadi hal paling. Di mana orang mencari bento untuk dimakan ketika bepergian, upacara minum teh, kegiatan luar rumah, serta piknik. Isi dari sebuah bento di era ini umumnya adalah onigiri, chestnut, seafood, jamur, acar, serta rebung.

Di era Meiji (1868-1912), Jepang memiliki sistem rel kereta api yang berfungsi, dan orang memanfaatkan hal ini sebagai pasar baru dalam menjual bento. Muncullah ekiben atau bento stasiun. Isinya lobak, acar daikon, onigiri, serta umeboshi yang dibungkus daun bambu. Seiring waktu, varian menu bento dan ekiben juga bertambah.

Bento pun menjadi simbol kekayaan pada era Taisho (1912-1926). Ketika Perang Dunia I meletus, masyarakat Jepang mengalami kesulitan karena gagal panen di banyak daerah. Kepopuleran bento menurun drastis karena hanya orang kaya saja yang mampu membawa bento.

Memasuki era Showa dan Heisei, terutama pada tahun 1980-an, bento kembali naik daun berkat kemudahan memasak dengan oven, serta harga bahan pokok yang menurun.

Pasca abad ke-20, bento kian mudah dicari dan digemari karena kepraktisannya. Banyak yang kemudian mengikuti dan membuat bento khas negaranya sendiri. [GP]

SHARE