Akibat Dari Rasa Malu Memiliki Mr. P Kecil - Male Indonesia
Akibat Dari Rasa Malu Memiliki Mr. P Kecil
Sopan Sopian | Sex & Health

Ukuran penis sering dianggap berkorelasi dengan kejantanan pria. Karena itu, ada sebagian pria yang merasa ukuran penisnya kecil menjadi tidak percaya diri. Pada tahap lanjut, beberapa pria yang selalu merasa penisnya di bawah ukuran normal, padahal tidak, itu dapat menderita sebuah penyakit psikologis.

Gambar oleh Darko Djurin dari Pixabay 

Penyakit psikologis ini adalah penyakit mental yang diberinama penis dysmorphia. Hal ini timbul karena kekhawatiran terlalu besar terhadap ukuran penisnya sendiri. Sama seperti dismorfik tubuh pada umumnya, pria yang terkena penis dysmorphia bisa sangat tertekan karena ukuran Mr P. Bahkan mereka bisa menghindar dari lingkungan sosialnya.

“Pria yang menderita penis dysmorphia secara kompulsif mengukur diri mereka berulang kali, menghindari kencan, dan mempraktikkan teknik pembesaran Mr P di rumah atau bahkan mencoba operasi pembesaran,” ujar terapis seks, Stephen Snyder dalam laman HuffPost.

Penyebab Timbulnya Dysmorphia
Pria yang mengalami penis dysmorphia tidak akan pernah puas dengan ukuran Mr P-nya walaupun mungkin telah melakukan operasi pembesaran. Bahkan meskipun mereka mendapat pujian dari pasangannya, hal itu cenderung diabaikan. 

Sebagian besar alasannya karena pornografi. Mereka bisa jadi terlalu banyak menonton atau melihat hal-hal berbau pornografi dimana banyak menunjukkan pria lain yang memiliki ukuran Mr P besar.

Fakta ini diperkuat oleh paparan urolog Aaron Spitz. Dalam bukunya ia mengatakan, sekira 40% pria yang datang ke kantor urologis untuk melakukan operasi pembesaran Mr P mengaku mendapatkan ide tersebut dari film porno. Padahal ukuran Mr P mereka normal.

"Masalah besar dengan pornografi adalah meskipun sebagian besar pria secara intuitif tahu ukuran Mr P di film tidak nyata, beberapa pria memiliki kerangka referensi lain untuk membandingkan dirinya dengan orang lain," ucap Spitz.

Dirinya menambahkan, pria sebaiknya berbicara dengan dokter atau terapis sebelum menjalani operasi pembesarab. Sebab secara umum apabila tubuh sehat dan berfungsi dengan baik, maka tidak ada alasan untuk melakukan operasi.

Terlebih pria yang memiliki penis dysmorphia sulit untuk diketahui karena mereka jarang mencari bantuan dari terapis mental.

"Pengamatan diri secara kompulsif dan pengukuran cenderung membuat kecemasan menjadi lebih buruk. Oleh karenanya sangat penting untuk mencari bantuan dari terapis. Hal yang paling penting adalah menerima ukuran bentuk tubuh dan menjaganya tetap sehat,” jelas Spitz. *** (SS)

SHARE