The Upstairs: Kita Cuma Mau Bikin Musik yang Bagus - Male Indonesia
Interview
The Upstairs: Kita Cuma Mau Bikin Musik yang Bagus
Gading Perkasa | News

Dengan pakaian berwarna-warni dan mencolok, kacamata hitam, serta aksi panggung nyeleneh, The Upstairs telah menghibur para penikmat musik new wave sejak tahun 2001 silam. Nuansa fresh yang mereka hadirkan di awal 2000-an, membuat karier Jimi dkk terus melejit.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Selama berkarya di dunia musik, sedikitnya empat album telah mereka hasilkan, termasuk Katalika (2012), dan empat album mini. Lalu, kapan album baru The Upstairs dirilis? Buat Anda yang penasaran, langsung saja simak wawancara MALE Indonesia bersama band yang digawangi Jimi, Fisma, Ryan, dan Kubil di bawah ini.

Lagi mengerjakan proyek baru?
Jimi: Kita lagi sering manggung, dan bikin lagu baru. Masih aransemen di musik. Kayanya bakal rilis lagu satu demi satu. Mungkin terlalu lama ya kalau bikin album. Jadi daripada nungguin lama, mending bikin single aja. Gak fokus keluarin album.

Apa bedanya manggung di zaman dulu sama sekarang?
Fisma: Kalau dulu, karena fasilitasnya oke, ada pendingin ruangan jadi penonton gak kepanasan. Sekarang lebih banyak yang berkeringat penontonnya. Lebih sering street gigs, di outdoor.

The Upstairs sempat mendapat kritik karena merambah label mayor di album Energy (2006). Tanggapan kalian?
Jimi: Kita sih tidak terlalu peduli. Yang penting lagu jadi, kita juga senang. Cara menjualnya terakhir. Gak peduli mau indie, major, kolonel, sampai jenderal sekalipun, kita sudah memisahkannya. Waktu The Upstairs berdiri, memang ada gap seperti itu. Tapi kita mau bikin musik yang bagus, itu aja.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Konser paling rusuh yang kalian alami?
Fisma: After live concert, itu di Yogyakarta tahun 2004. Kita sampai kena denda jutaan karena ada beberapa fanbase yang mainin fire extinguisher di hotel tempat kita menginap. Waktu itu rusuh banget. Jadi kita kabur ke kamar, tidur. Pagi pas mau checkout, kita ditahan dan harus bayar denda.

Jimi: Cuma kalau kita perhatikan, ada beberapa kota yang berdarah panas. Penonton di Makassar dan Cirebon memang ekspresif. Di tengah main, ada yang berantem, kita sih tetap slow lanjut main.

Pernah dapat permintaan ‘aneh’ dari Modern Darlings?
Jimi: Kalau mereka sih under control lah. Ibaratnya permintaan mereka masih bisa dibilang wajar. Gak terlalu aneh.

Sebagai band yang seluruh anggotanya pria, siapa sih publik figur paling seksi menurut kalian?
Ryan: Ada model namanya Sarah McDaniel (Krotchy). Dia itu unik, bola matanya belang, hijau dan biru. Tapi bodinya seksi banget.
Fisma: Kalau gue yang lokal aja lah. Meriam Bellina. Hahaha.

Kubil: Sama produk lokal juga, Sophia Latjuba.

Jimi: Anaknya Sophia Latjuba, Manuella Natasha. Dia belum terlalu dikenal sih.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Ingin kolaborasi dengan musisi lain yang legend?
Jimi: Dari kita belum ada rencana ke arah sana sih. Inginnya sih sama Andy Ayunir. Ketemu di panggung sudah pernah.

Ada rencana bikin side project baru namun membawa konsep yang berbeda?

Jimi: Nggak ada. Fokus kita sejauh ini masih ke band kita. Sebenarnya, musik kita ini tak lekang oleh zaman. Memang semakin hari, sound yang kita adaptasi semakin banyak. Karena synthesizer sendiri ada masa kadaluarsanya.

Fisma: Kita juga melihat dinamika di pasar, apalagi selera musik orang berganti setiap harinya. Kita tidak mengganti musik, tapi mengikuti apa yang update. Audio pasti update, kalau pattern kan gitu-gitu aja. Siklusnya seperti itu.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Kalau aktivitas olahraga, rutin menjalaninya atau tidak?
Fisma: Kadang gue masih suka naik gunung. Terakhir di Kalimantan. Pakai motor lima jam ke pedalaman, terus jalan lagi tiga jam.

Ryan: Gue hobi banget olahraga. Malah bisa sampai tiap hari. Mau basket, futsal, jogging, yang penting sehat.

Cara kalian menjaga kesehatan sebelum dan sesudah manggung?
Fisma: Tidur yang cukup sebelum main. Gue senang aktivitas di luar, keliling di sekitar sungai, setidaknya satu bulan sekali.

Jimi: Sebenarnya gue juga gak terlalu sering olahraga. Sepeda ini adalah sarana untuk aktivitas harian. Benefit dari bersepeda, memang lebih terasa pas di panggung.

Photo: Gading Perkasa/ Male Indonesia

Obsesi masing-masing personel The Upstairs?
Jimi: Andaikan kita bisa main di Fuji Rock, pasti pulang akan bawa cerita, ‘The Upstairs kebanjiran di tenda sebelum konser’. Itu aja sih obsesi gue. Haha.

Fisma: Kalau gue inginnya ke Kanada. Di sana bisa mancing ikan.

Ryan: Pergi ke Amerika, ketemu model yang namanya Krotchy tadi.

Kubil: Ke Italia. Siapa tahu The Upstairs bisa konser di Colosseum Roma. [GP]

SHARE