Kopi Kenangan, Dari Indonesia untuk Dunia - Male Indonesia
Startup
Kopi Kenangan, Dari Indonesia untuk Dunia
Gading Perkasa | Works

Bisnis kopi dapat diibaratkan seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi, bisa memperoleh keuntungan secara signifikan. Sementara di sisi lain, tidak mudah bertahan di industri kopi dengan semakin banyaknya pesaing.

Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Hal itu yang dirasakan oleh James Prananto, COO dan Co-Founder Kopi Kenangan. Menurutnya, dalam bisnis kopi, sangat penting untuk mempertahankan kualitas rasa sehingga meningkatkan trust konsumen terhadap sebuah produk.

“Sampai 2016, untuk dapat kopi yang berkualitas cukup sulit. Karena rata-rata kopi seperti Starbucks dan Coffee Bean harganya tinggi. Saya pun berpikir, mengapa tidak ada yang bermain di middle class dengan kualitas bagus. Ini yang jadi alasan mengapa Kopi Kenangan Hadir,” ujar James Prananto, COO dan Co-Founder Kopi Kenangan.

James melanjutkan, nama Kopi Kenangan sendiri diambil agar produk miliknya bisa dinikmati oleh setiap orang Indonesia.

“Awal didirikan, kita melihat lagi banyaknya coffee chain dari luar negeri. Kenapa tidak ada coffee chain besar dari Indonesia. Sewaktu kita lagi cari nama, kata ‘kenangan’ itu buat kita relatable, setiap orang punya kenangan. Jadi produk kita relatable untuk semua kalangan.”

Menu yang dihadirkan di Kopi Kenangan juga terbilang unik. Sebut saja Kopi Kenangan Mantan, Kopi Mantan Menikah, Kopi Kenangan Masa Lalu, Kopi Kekasih Gelap, dan Kopi Lupakan Dia. Sedangkan jumlah karyawan untuk store level di Kopi Kenangan mencapai 1.000 orang, ditambah head office sekitar 60 orang.

“Pemilihan nama menu yang nyeleneh, lebih kepada Indonesia. Itu kan tipe orang kita bercanda. Kita juga terinspirasi dari campaign salah satu perusahaan air minum,” ujar dia.

Disebutkan James, keunggulan kopi susu di Kopi Kenangan terletak dari bahan utamanya. “Di sini, kita pakai ingredients susu premium yang dipakai oleh coffee chain kelas atas. Kita peduli dengan quality. Gula aren kita beli bahannya lalu diproses sendiri agar rasanya pas.”

“Mesin kopi dan grinder yang kita pakai kualitasnya juga terjamin. Sedangkan penyedia kopi lain, banyak dari mereka tidak punya mesin kopi. Hanya menggunakan tangan, sehingga konsistensi rasa tidak dapat. Yang mau kita beritahu adalah, mesin kopi di Kopi Kenangan berstandar internasional, tapi harganya jauh lebih terjangkau.”

Hampir semua bahan pembuatan kopi di bisnis milik James berasal dari tanah air. Merupakan perpaduan antara robusta dan arabika. Alasannya, suplai bahan lebih mudah ketimbang impor dari luar negeri, serta low price.

“Memang kita ingin membawa nama Indonesia. Dari Indonesia untuk dunia. Tahun 2020, kita akan expand ke Asia Tenggara. Kira-kira kwartal satu atau kwartal dua,” ucapnya.


Photo: Gading Perkasa/Male Indonesia

Kopi Kenangan, kata James, dikhususkan bagi mereka yang menyukai kopi non specialty. “Karena kopi-kopi specialty lebih diapresiasi biji kopinya. Kalau kita lebih kepada orang yang mau minum kopi dengan rasa manis. Simpel, rasanya pas. Dari awal kita buka usaha ini, kita ingin raih mass market, bukan niche market.”

Sukses yang diraih oleh James bukan tanpa hambatan. Ia mengakui, di awal bisnisnya, ada rintangan yang harus dihadapi.

“Dulu, kesulitan membuka kios kecil adalah bagaimana orang tahu brand kita. Kedua, apakah mereka mau beli atau tidak. Dengan adanya Instagram dan layanan ojek online, satu bulan setelah kita buka, orang pun tahu brand kita. Teknologi turut berperan untuk perkembangan Kopi Kenangan,” aku James.

“Tantangan terbesar mengelola bisnis ini adalah maintain quality. Sebanyak 96 outlet Kopi Kenangan di Indonesia, semua harus punya rasa dan service yang sama. Hire tim yang tepat untuk manage seluruh outlet. Kalau cuma buka satu outlet per bulan, it’s easy. Kita biasanya buka 15-20 outlet per bulan,” akunya lagi.

Di luar usahanya sekarang, James belum mempunyai rencana untuk membuka bisnis kopi specialty. Ia ingin produk buatannya lebih bersahabat bagi masyarakat di segala penjuru tanah air.

“Ada unit bisnis baru yang sedang kita kembangkan, tapi bukan di kopi specialty. Karena yang bisa afford untuk niche coffee sendiri tidak banyak di Jakarta. Padahal niat kita, sebisa mungkin produk kita dikonsumsi dari Sabang sampai Merauke.” [GP]

SHARE