Kematian Seseorang Bisa Diprediksi dengan Cara ini - Male Indonesia
Kematian Seseorang Bisa Diprediksi dengan Cara ini
Gading Perkasa | Sex & Health

Tidak ada satu orang pun di muka bumi yang dapat memprediksi kematian seseorang. Hal itu selalu menjadi misteri dan perdebatan di dunia medis.

Photo: Pixabay

Namun tampaknya anggapan tersebut akan terbantahkan. Pasalnya, para ilmuwan tengah melakukan pengembangan sebuah tes darah baru yang bisa memprediksi kematian seseorang secara akurat.

Dalam sebuah tes di Jerman, para peneliti di Max Planck Institute for Biology of Ageing menemukan lebih dari selusin biomarker dalam darah yang dipercaya berpengaruh pada risiko kematian. Hasil ini ditemukan usai tes darah pada 44 ribu orang, serta analisis 14 faktor termasuk kekebalan dan glukosa.

Seperti dilansir dari LAD Bible, uji coba ini dinilai dapat memprediksi kematian seseorang dalam waktu 2 sampai 16 tahun ke depan. Tingkat akurasinya sendiri mencapai angka cukup meyakinkan, yaitu 83 %.

Kendati begitu, para peserta dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications ini cukup terbatas. Mereka berusia antara 18 hingga 109 tahun, keturunan Eropa, dan mendapatkan tes indeks massa tubuh, tekanan darah, kebiasaan merokok, dan lain-lain.

Dalam tes lanjutan selama 2 sampai 16 tahun berikutnya, ditemukan bahwa 5 ribu peserta telah meninggal dunia. Uji tersebut berhasil memprediksi risiko kematian secara lebih akurat.

Hanya saja, tes ini masih tidak bisa dikatakan sempurna. Ada banyak yang harus dilakukan sebelum tes ini dapat diterapkan dalam pengobatan standar.

“Biomarker memberikan kita wawasan penting tentang apa yang terjadi dalam kesehatan dan penyakit,” kata Dr. Amanda Heslegrave, peneliti di UK Dementia Research University College London, Inggris.

Heslegrave juga mengatakan, jumlah peserta yang besar memang berpengaruh pada data yang lebih akurat. Namun hanya satu kelompok etnis yang dilibatkan.

“Karena dibatasi oleh fakta bahwa itu hanya data Eropa, mungkin tidak berlaku untuk kelompok etnis lain tanpa studi lebih lanjut,” tutur Heslegrave.

Maka dari itu, meskipun studi para peneliti di Jerman merupakan langkah yang besar, tes semacam ini masih belum dapat diterapkan di dunia medis sehari-hari. [GP]

SHARE