Berintiman Sambil Tidur adalah Gangguan Seksual - Male Indonesia
Berintiman Sambil Tidur adalah Gangguan Seksual
Sopan Sopian | Sex & Health

Ada beberapa orang yang ternyata mengalami mimpi erotis seakan-akan nyata telah melakukan hubungan seks atau masturbasi? Pada sebagian orang, mimpi tersebut sebatas meningkatkan gairah. Bahkan tidak hanya sekadar mimpi, namun memang benar-benar melakukannya. Kondisi ini dikenal dengan sexsomnia.

Photo by Pixabay from Pexels

Sexsomnia adalah kelainan tidur yang jarang terjadi namun menyebabkan seseorang melakukan hubungan seks atau bermasturbasi saat tidur. Sexsomnia masih menjadi bagian parasomnia yaitu aktivitas yang mengganggu, abnormal, dan kebiasaan yang terjadi antara dan selama tahap tidur nyenyak. Orang yang mengalami parasomnia biasanya berjalan sambil tidur atau makan sambil tidur.

Laman Health menjelaskan, sexsomnia lebih dari sekadar mimpi erotis. Orang-orang yang mengalami gangguan ini akan sering mengalami masturbasi atau memulai hubungan seksual dengan orang yang tidur di sampingnya.

Menurut sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam jurnal Sleep, pria lebih mungkin mengalami sexsomnia daripada wanita. Dalam studi lain di tahun 2016 dikatakan, saat mengalami sexsomnia, pria lebih mungkin untuk mencoba melakukan hubungan seksual dengan pasangan, sedangkan wanita dengan cenderung masturbasi.

Studi lain menegaskan sexsomnia adalah perilaku yang amnesik alias terjadi dalam keadaan bingung. Ada yang mengalaminya saat setengah terjaga. Tapi ada pula yang benar-benar lupa dengan semua yang terjadi. Kondisi ini menunjukkan sexsomnia dapat terjadi bersama dengan parasomnia lainnya.

Pemicu Sexsomnia
Pada dasarnya apa pun yang mengganggu pola tidur normal dan sehat seperti minum alkohol atau mengonsumsi kafein terlalu dekat dengan waktu tidur dapat membawa masalah. Menurut konsultan tidur, Alex Dimitriu, MD, jadwal tidur yang tidak teratur atau tidak cukup tidur dapat menyebabkan sexsomnia.

Begitu juga dengan sleep apnea, kejang, atau kondisi yang disebut gangguan perilaku REM. Penyebab lainnya adalah depresi, kecemasan, dan kurangnya aktivitas seks. Sementara menurut profesor psikiatri, Gail Saltz, MD, sexsomnia dapat fiperburuk oleh obat-obatan tertentu, termasuk banyak obat psikiatrik. Menjadi sangat stres juga dapat menjadi faktor.

Cara Menangani Sexsomnia
Berbicara tentang perawatan, sayangnya hingga saat ini belum ada obat untuk sexsomnia. Tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau bahkan menghentikannya sepenuhnya. 

Bantuan bisa datang dari orang lain yang tidur bersama dengan orang yang mengalami sexsomniac. Ia bisa pergi menjauh atau tidak menanggapi saat sexsomnia kambuh.

"Perawatan harus dimulai dengan mengoptimalkan dan menghilangkan pemicu. Jika perilaku ini berlanjut, maka diskusi dengan dokter dan konsultasi dengan spesialis tidur akan menjadi langkah berikutnya," ujar Dimitriu.

Tapi sebenarnya, sexsomnia memiliki manfaat seperti memberikan kualitas tidur yang lebih baik, mengurangi tingkat stres, mengurangi konsumsi narkoba dan alkohol di malam hari, serta melakukan lebih banyak seks secara sadar.

"Perilaku ini lebih tentang perilaku manusia primitif karena stimulasi otak acak daripada sesuatu tentang pribadi. Bagaimanapun, seks adalah salah satu dorongan biologis terkuat mamalia. Memutuskan untuk mengobati sexsomnia atau tidak bisa menjadi masalah secara naluriah," jelas Satz. *** (SS)

SHARE