Haykal Kamil Lebih Suka Dipanggil Creativepreneur - Male Indonesia
INTERVIEW
Haykal Kamil Lebih Suka Dipanggil Creativepreneur
MALE ID | News

Masih ingat dengan Haykal Kamil? Dengan melihat foto ini, tentu Anda ingat siapa dia. Haykal Kamil memang telah lama vakum dari dunia entertainment, kini ia lebih fokus pada bisnis-bisnisnya yang semakin berkembang dan bertambah.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Haykal sendiri mulai mengawali karier keartisannya melalui beberapa peran antagonis sejak usianya masih kecil. Salah satu yang paling diingat adalah perannya sebagai seorang anak manja dan juga bandel dalam sinetron Bidadari bersama Marshanda dan menjadi kaka dari Dea Imut.

Beberapa sinetron lain yang pernah dibintanginya yakni Amelia, Bayangan Adinda, Arung Dan Si Kaya, Kiamat Sudah Dekat, sampai Cantik-Cantik Magic. Kemudian untuk debut aktingnya di layar lebar dimulainya pada 2009 melalui sebuah film arahan kakak iparnya, Hanung Bramantyo, dengan judul Perempuan Berkalung Sorban.

Di tahun 2010, Haykal kemudian memutuskan untuk mengurangi aktivitasnya di dunia entertainment dan lebih fokus pada pendidikan. Meski sempat balik untuk memerankan beberapa peran sampai 2015, tapi akhirnya memutuskan untuk berhenti dan fokus mengurusi bisnisnya.

Ditemui di tempat kerjanya di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Haykal Kamil banyak cerita soal perjalanan binsisnya. Tak tanggung-tanggung, diusianya yang masih muda, Haykal memiliki lebih dari tiga lini bisnis. Seperti apa ceritanya?

Photo: Sopian/Male Indonesia

Berhenti dari Main Sinetron dan Bangun Bisnis Fashion
Anak ke-4 dari 7 bersaudara ini, adalah salah satu bagian dari keluarga yang hampir keseluruhannya publik figur, sebut saja kakak-kakaknya, yakni Tasya Nur Medina (influencer), Zaskia Adya Mecca (selebriti), dan Tania Ray Mina (selebriti).

Begitu juga dengan adik-adiknya seperti Marsha Natika (selebriti), Rifqa Amalsyta, dan Alwin Kamil (selebriti). Belum lagi ditambah kakak iparnya yang juga masih aktif di dunia entertainment, yakni Hanung Bramantyo dan aktor Ferry Ardiansyah. 

Apa enaknya hidup di keluarga yang hampir seluruhnya publik figur?
Ada senang dan enggak-nya pasti. Yang pasti dulu enggak bisa badung aja. Terus bagusnya jadi publik figur itu bisa ngerem. Jadi kalau yang aneh-aneh aku enggak ikutan.

Segala sesuatu memang bisa dilihat dari dua sisi ya, bagi sebagian orang memang tidak memiliki kebebasan, tapi buat saya itu bisa menjadi rem dari hal-hal negatif, sehingga saya bisa menjaga diri karena saya sudah bangun karier dari sini, jadi saya harus bisa jaga nama baik keluarga, nama baik saya sendiri.

Kenapa berhenti dari dunia entertainment dan milih bisnis?
Entertainment itu persaingannya cukup ketat. Dulu mungkin orang kenal Haykal, besoknya kenal Aliando Syarief, terus besok lagi ada Farel, dan lain sebagainya. Pergantiannya sangat cepat sekali. 

jadi memang untuk bisa bertahan di industri ini harus punya keunikan atau punya sensasi. Untuk membuat sensasi setiap saat, saya tidak memungkinkan. Unik oke, tapi membangun keunikan itu perlu waktu dan karakter yang kuat. terus saya berpikir, sebenarnya hidup saya mau ke mana.

Terus?
Jadi dulu main sinetron karena orang tua yang nyuruh. Tapi ketika lulus kuliah saya berpikir, memang ini yang saya inginkan? Apakah ini yang saya perlukan untuk kehiduapan saya? Karena saya pikir saya harus mencoba hal lain.

Sinetron, kalau nanti tertarik lagi, mungkin bisa dicoba lagi. cuman kalau hal lain, seperti misalnya bisnis, kayaknya kalau tidak sekarang, saya akan kehilangan waktu untuk nyoba. Jadi saya pikir kayanya ini kesempatan bagus untuk mencoba hal baru.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Bisnis kaos jadi bisnis pertama waktu itu, betul?
Waktu itu, alasan kenapa kaos, sesimpel di mana waktu itu yang saya ngerti dunia perkaosan. Jadi dulu selain akting, yang bisa dijadiin duit itu adalah kaos.

Tujuannya buat apa bisnis kaos?
Waktu itu, pas kuliah di kampus bisnis, di Binus (Universitas Bina Nusantara), enggak sadar selama ini ternyata membiayai hidup sendiri. Karena orang tua pembisnis, jadi ada naik-turunnya. Suatu waktu lagi turun, dan aku enggak ada tabungan buat bayar kuliah.

Saat itu cuma ada dua pilihan, antara balik lagi syuting atau mulai bisnis. Akhirnya pas mau mulai syuting, karena persaingan industri entertainment yang ketat, nyoba casting sana sini, enggak dapat. 

Jadi akhirnya memutuskan jualan baju. Karena pengalaman dari SMA pernah jualan baju disuruh senior. Akhirnya jualan baju untuk konser. Karena enggak punya duit juga, ajak teman dan gabung sama temen, akhirnya bikinlah brand Kals Clothing yang fokusnya jual baju konser.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Jadi tujuannya buat bayar kuliah? Bisa Kebayar dari jualan kaos?
Bisa. karena power of kepepet. Dulu jualannya ngemper di pinggir jalan. Kemudian berhenti karena ternyata jualan baju konser itu ada hak ciptanya. Karena setiap nama, setiap karakter, itu punya hak cipta sebenernya.  dan kalau bisnis saya semakin besar, labelnya pasti akan sadar kan.

Terus menurutku, ini enggak bisa long term, sedangkan bisnis yang baik itu kan harus bisa berkelanjutan. Jadi aku pikir enggak bisa nih jualan baju konser nih. Aku harus coba cari yang lain, akhirnya menemukan fashion muslim.

Miliki Bisnis Fashion, Kuliner, Hingga Town House
Haykal bukan tipe pria yang bisa mendepositkan tabungannya. Dia lebih senang jika uang hasil bisnis sebelumnya terus diputar dengan membuat bisnis-binis lainnya. Seperti kuliner hingga town house.

Awalnya di fashion muslim bagaimana?
Ikut ngembangin Meccanism. Brandnya kakak, Zaskia Adya Mecca dan Tasya Nur Medina. Aku diajak karena dianggap kuliah bisnis dan pernah jualan kaos, jadi tahu cara jualannya. Disuruh jadi manager apalah, jabatannya belum jelas waku itu buat ngurusin bisnisnya.

Tapi enggak menyangka, selam tiga bulan aku pegang, bisnisnya booming luar biasa. Jadi Zaskia dulu kan cukup dikenal sebagai publik figur yang pertama berhijrah. Dan pas dia jualan baju, luar biasa animo dari masyarakat.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Pernah dipecat waktu itu, bagaimana ceritanya?
Waktu itu ada keanehan, bisnisnya ketika barang datang dari penjahit langsung dibayar tanpa dihitung, terus ada temennya ngambil enggak dicatet. Main silahkan aja gitu. Terus saya bilang, ini enggak bisa kaya begini nih (cara jualannya), ini harus dicatat semuanya, harus ada pengelolaannya. 

Dari sana, kaka terus bilang, kok saya yang punya duit, lu yang ngatur gua. Marah dia. akhirnya tiga bulang kemudian, aku dipecat. Waktu itu kakak memang bilang, bahwa kita disini maunya bisnis happy-happy, enggak mau ribet, keluar barang ribet, dan lain sebagainya. Tapi akhirnya sistem yang aku pakai waktu itu, masih dipakai sampai saaat ini.

Setelah itu bikin lini bisnis sendiri kan?
Awalnya waktu itu, Mas Hanung Bramantyo nawarin kerja sama untuk bikin film. Film Hijab. Setelah dieksplor, menarik juga. Akhinya aku coba jadi produser. Dan dari situ, aku mempelajari fashion muslim itu luar biasa. Karena beluma ada pemain besar di dalamnya. Masih banyak peluang, dan aku rasa ini satu hal yang masih menjanjikan.

Terus selesai syuting film, aku ngomong ke Zaskia, Kak boleh enggak, aku bikin usaha, tapi aku cuma minjem nama kamu aja. Jadi aku yang jualan, kamu yang di depannya, fotonya pakai foto kamu. Tapi soal management, kamu jangan ikut campur, akhrinya deal. Saya bikin perusahaan baru namanya Kals Corpora, disitu brandnya ada BIA sama ZM (Zaskia Mecca). 

Waktu itu modalnya berapa?
Modalnya waktu itu Rp 15 juta kalau engak salah. Jadi kita cuman berpikir kekuatan sosial media itu luar biasa, kekuatan penokohonan Zaskia juga, dan aku tahu gimana cara jualan. Jadi aku rasa formula yang pernah aku lakukan masih bisa dipakai.

Jujur modal Rp 15 juta waktu itu tidak terlalu dipikirkan, karena masih syuting, jadi perputaran uangnya lumayan. Jadi udahlah sekalian investasi lagi.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Kenapa dari bisnis fashion bisa ke Kal's Chicken yang ranahnya kuliner?
Karane aku suka makan ayam. Dan waktu itu ada partner yang datang nawarin diri untuk mengelola. Tapi disni juga menjadi pembelajaran menarik. Karena waktu itu ngeliatnya indah-indah aja. Cukup menginvestasikan uang aja. Karena waktu itu masih fokus di fashion

Jadi aku percayaain, tapi ternyata ngejalanin bisnis kalau aku lepas tangan engak semanis itu ternyata. Jadi perjalanan Kal's Chicken lebih berat yang saya pikirkan. Ketika dia jadi partner, banyak yang enggak sesuailah, salah satunya kaya harga yang di-markup dan beberapa lainnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengelola sendiri saja.

Beratnya di mana waktu itu?
Ketika aku kelola sendiri ternyata pusingnya luar biasa. Karena biasanya ngurusin kaos yang tidak ada kadaluarsanya, ini makanan yang hari ini digoreng kalau enggak laku langsung jadi basi. Wah, sebuah bisnis yang sangat berbeda ternyata.

Bisnis mana yang dirasa paling berat?
Yang paling berat adalah bikin town house. di daerah Jaga Karsa.

Beda lagi, mau bikin kerajaan bisnis?
Enggak, aku ini orangnya suka kesibukan. Aku enggak suka menyimpan uang di deposito, yang uangnya diem dan muter sendiri. Tapi aku lebih suka uang itu dikelola sendiri. 

Town house ini kerja sama bareng Mas Hanung. Mas Hanung yang beli tanah, aku yang bangun. Sudah ada tiga unit yang dibangun. Pas bikin ini, aku sempet jual mobil dan kemana-mana pakai motor.

Photo: Sopian/Male Indonesia

Kenapa bisa sampai jual mobil?
Ketika aku bangun town house itu, untuk pembangunan aku tidak punya uang lagi. Aku waktu itu cuma punya satu mobil. Posisinya waktu itu aku belum nikah. Mikirnya waktu itu, kalau enggak diselesain, pembangunannya akan membengkak.

Maksudnya seperti kalau bangun rumah mangkrak, besinya jadi karatan, jadi gak bagus segala macam. Jadi saya waktu itu memutuskan keputusan ekstrem, jual mobil.

Dari banyaknya bisnis, apa yang ingin dicapai sebenarnya?
Sebenarnya dulu diajarin sama orang tua itu selalu berdoa untuk bisa menjadi jalan rezeki bagi orang banyak. Mungkin jalan rezekinya lewat usaha. Mungkin ini doa aku yang dulu, yang diajarkan orang tua, dijawabnya dengan cara seperti ini. 

Lebih suka disebut sebagai artis atau pengusaha?
Aku lebih suka dipanggil atau dikenal sebagai creativepreneur. Alasannya, karena stigma orang ketika bisnis selalu bilang modal itu selalu uang, padahal setelah aku buktikan sendiri, modal itu bukan selalu uang, tapi kreativitas juga sebenarnya adalah modal. 

Banyak orang yang punya uang besar tapi dia tidak tahu mau ngapain. Ada orang yang punya ide  mau ngapain, tapi enggak punya uang. Dan gimana kita bisa mengkombinasikan ini semua, aku rasa bsia menjadi sesuatu yang luar biasa. Jadi saya merasa cukup bangga menyebut diri saya sebagai creativepreneur. *** (SS)

SHARE