Fakta Tentang Mikroplastik dalam Air Kemasan - Male Indonesia
Fakta Tentang Mikroplastik dalam Air Kemasan
MALE ID | Sex & Health

Sebelumnya, sebuah penelitian dari State University of New York of Fredonia mengungkap bahwa air minum kemasan di dunia termasuk Indonesia terkontaminasi partikel plastik super kecil atau mikroplastik. 

Gambar oleh congerdesign dari Pixabay 

Studi terbaru itu menguji 250 botol air minum kemasan dari beragam merek di antaranya dari Brasil, China, India, Indonesia, Thailand, dan Amerika serikat. Hasilnya, partikel mikroplastik ditemukan pada 93 persen sampel air minum terkenal seperti Aqua, Aquafina, Evian, dan Nestle Pure Life. Merek-merek itu beredar di Indonesia.

Hasil penelitian itu belum bisa menjelaskan risiko kesehatan dengan jelas. Hanya saja mereka sempat mengungkapkan bahwa ada kemungkinan mikroplastik bisa menyebabkan berbagai penyakit. 

"Ada hubungan dengan peningkatan jenis kanker tertentu, menurunkan jumlah sperma, ADHD, dan autisme," kata Sherri Mason, kepala penelitian dari State University of New York of Fredonia dikutip dari AFP

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tingkat mikroplastik dalam air minum tampaknya tidak berisiko. Kesimpulan itu dapat dari hasil penelitian yang dilakukan dengan cepat dan masih diperlukan lebih banyak penelitian mengenai pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan. 

Mikroplastik terbentuk ketika bahan-bahan buatan manusia terurai menjadi partikel-partikel kecil yang lebih kecil dari sekitar lima milimeter, meskipun tidak ada definisi ilmiah yang ketat.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan, WHO mengatakan bahwa plastik sangat kecil itu "ada di mana-mana di lingkungan". Mikroplastik yang ditemukan dalam air minum, termasuk keran dan botol, kemungkinan besar berasal dari sistem pengolahan dan distribusi.

"Tapi, hanya karena kita menelan mikroplastik, tidak berarti itu memiliki risiko terhadap kesehatan manusia," kata Bruce Gordon selaku koordinator Air, Sanitasi, dan Kebersihan WHO, seperti dilansir laman NBC News.

"Kesimpulan utama adalah, saya pikir, jika Anda seorang konsumen yang minum air botolan atau air ledeng, Anda tidak perlu khawatir," ungkap Gordon.

Gordon mengakui, bagaimanapun, bahwa data yang tersedia "lemah" dan bahwa lebih banyak penelitian diperlukan. Dia juga mendesak upaya yang lebih luas untuk mengurangi polusi plastik.

Laporan ini adalah tinjauan pertama WHO untuk menyelidiki potensi risiko kesehatan manusia dari mikroplastik. Manusia disebut telah secara tidak sengaja mengonsumsi mikroplastik dan partikel lain di lingkungan selama beberapa dekade tanpa ada tanda-tanda bahaya.

Andrew Mayes, seorang dosen senior dalam bidang kimia di Universitas East Anglia di Inggris yang tidak berpartisipasi dalam laporan WHO, setuju bahwa plastik mikro dalam air tampaknya tidak menjadi masalah kesehatan untuk saat ini.

"Tapi saya tidak ingin orang pergi dengan gagasan bahwa plastik tidak lagi penting karena mereka mungkin merusak lingkungan," kata Meyes.

Dia mengatakan, diperlukan langkah-langkah yang lebih kuat untuk mengurangi plastik. Apalagi, jenis bahan ini menyebabkan stres pada organisme kecil. "Mikroplastik bisa melakukan banyak kerusakan dengan cara yang tidak terlihat," jelasnya.

Bahkan jika kita menghentikan (menambahkan) plastik ke lingkungan saat ini, plastik mikro akan meningkat ketika potongan-potongan yang lebih besar membelah menjadi potongan-potongan yang lebih kecil. WHO menyerukan analisis lebih lanjut tentang mikroplastik di lingkungan dan potensi signifikansi kesehatannya.

Gordon mengatakan bahwa meskipun WHO akan terus memantau tingkat mikroplastik dalam air, risiko kesehatan terbesar dalam air minum masih seputar bakteri yang menyebabkan tipus dan kolera. "Ini adalah hal-hal yang menyebabkan penyakit langsung dan dapat membunuh satu juta orang," tuturnya. *** (SS)

SHARE