Benarkah Teknologi 5G Picu Risiko Kanker ? - Male Indonesia
Benarkah Teknologi 5G Picu Risiko Kanker ?
Sopan Sopian | Digital Life

Teknologi nirkabel bergerak generasi kelima 5G akan menciptakan dunia nirkabel yang selalu aktif dan selalu terhubung. Teknologi ini akan menanamkan miliaran perangkat yang terhubung yang tanpa henti akan memancarkan dan menerima sinyal nirkabel untuk memuaskan pengguna di seluruh dunia.

Gambar oleh Elmira Ashirova dari Pixabay 

Sejauh ini, jaringan 5G memang baru diaktifkan di enam kota di Inggris, dan sudah berlangsung dari Mei 2019. Kemduian, 5G akan ada di mana-mana pada tahun 2020-an. Sejurus dengan hal itu bahaya kesehatannya pun mengintai. 

Sebagai permulaan, membuat 5G menjadi ada di mana-mana berarti membangun menara sel baru. Menara ini membawa semua risiko kesehatan yang terkait dengan paparan radiasi elektromagnetik yang berlebihan.

Hasil awal dari studi Program Toksikologi Nasional senilai 25 juta dolar yang dirilis pada 2016 menemukan hubungan antara radiasi ponsel dan kanker. Ditemukan juga peningkatan risiko paparan radiasi di luar apa yang dianggap aman oleh pemerintah AS.

"Saya tidak berpikir jelas bahwa ada risiko kesehatan. Tetapi juga tidak jelas bahwa tidak ada risiko kesehatan," ujar Leeka Kheifets, profesor epidemiologi di UCLA dilansir Medical Daily.

Menurut sebuah studi 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Health Physics, ledakan transfer data yang sangat cepat pada suatu perangkat sebagai akibat dari teknologi 5G dapat menyebabkan pemanasan jaringan kulit. Dampak ini akan dirasakan pada orang yang terpapar di bawah pedoman keselamatan saat ini.

Studi ilmiah lain yang diterbitkan pada 2018 menunjukkan gelombang milimeter frekuensi tinggi (MMW) daya 5G telah dikaitkan dengan implikasi kesehatan yang signifikan. Bukti menunjukkan bahwa MMW meningkatkan suhu kulit, mengubah ekspresi gen dan mendorong proliferasi sel dan sintesis protein yang terkait dengan stres oksidatif.

Jauh sebelum penelitian tersebut, kekhawatiran tentang keamanan perangkat seluler memang telah terjadi bertahun-tahun. Pada 2011, World Health Organization (WHO) mengungkapkan jika ponsel mungkin dapat memicu kanker. Akan tetapi sebagian besar penelitian belum menemukan hubungan antara sinyal frekuensi radio dari ponsel atau menara sel dan penyakit.

Secara khusus, ada kekhawatiran bahwa spektrum frekuensi tinggi yang dikenal sebagai panjang gelombang milimeter, atau mmWave, yang digunakan dalam penyebaran awal untuk membuat 5G dapat menimbulkan efek kesehatan yang merugikan bagi masyarakat.

Tak hanya itu, penyebaran 5G juga kabarnya membutuhkan lebih banyak menara sel kecil untuk ditempatkan lebih dekat ke tempat orang tinggal, bekerja dan pergi ke sekolah. Ini juga menambahkan kekhawatiran.

Dilansir dari laman Cnet, Federal Communications Commission Chairman, Ajit Pai mengatakan jika paparan sinyal RF pada ponsel, menara nirkabel, router Wifi aman.

"Bukti ilmiah yang tersedia sampai saat ini tidak mendukung efek kesehatan yang merugikan pada manusia karena paparan pada atau di bawah batas saat ini," kata Jeffrey Shuren, Direktur Pusat FDA untuk Perangkat dan Kesehatan Radiologis. *** (SS)

SHARE