Usaha Java Jive di Industri Musik Digital - Male Indonesia
Usaha Java Jive di Industri Musik Digital
MALE ID | News

Mempertahankan keutuhan sebuah band selama puluhan tahun bukanlah hal yang mudah. Begitu juga yang dirasakan oleh Java Jive, grup band legendaris Indonesia yang sudah berdiri sejak 1989. Perselisihan dan perbedaan pendapat akan selalu ada.

Java Jive yang digawangi Capung (gitaris), Noey (bassist), Tony (keyboardist), Edwin (drummer), Fatur (vokalis), dan Danny (vokalis) merasa bersyukur selama 27 tahun berkarier masih bisa bersama.

"Keunikan dari Java Jive itu tidak akan ada kalau kita main sendiri-sendiri. Alhamdulilah, 27 tahun kita bersama bukan hal yang mudah, mulai dari tahun 1993 kita remakan. Bahkan lebih jauh lagi sabil kuliah, nyanyi di cafe-cafe, sambil terus merintis sampai puncaknya, jadi ini benar-benar sesuatu yang luar biasa," terang Fatur.

Danny pun tidak bisa memungkiri bahwa ada masa di mana naik turun dalam sebuah band. Apalagi Java Jive, di mana sudah melewati masa mulai dari single sampai memiliki keluarga. "Saat kita mulai berkeluarga, prioritas kehidupan mulai bergeser, apakah kita mau bergeser ke keluarga atau pemain band," kata Danny.

Pada peralihan masa itu, tambah dia, memang ada yang memilih untuk ke keluarga ada juga yang cuek, ada juga yang tetap ngeband. Tetapi bukan menjadi sebuah beban.

"Kita memberi kebebasan. Setelah lama kemudian ada kekangenganan, bahwa kita ini anak band, kangen juga sama perosonil yang sudah seperti saudara, di mana ngeband adalah investasi kita sekian tahun, dari situ kita tetap jalan," jelas Danny.

Meski sempat ada masa peralihan, Fatur menuturkan bahwa di dalam Java Jive tidak ada pemecatan. "Pasti ada yang berantem, beda pendapat, tapi kita menyikapinya dengan cooling down. Daripada main pecat, lebih baik kita break saja. Karena kita sadar, kita punya kemampuan dan kekurangan masing-masing," timpal Fatur. 

"Enam bulan kita break, nanti juga bakal kangen lagi, nanti saling menghubungi, ayo ngeband lagi," tambahnya.

Usaha Bertahan di Industri Musik Digital
Selian itu, Java Jive juga menyadari akan perubahan dalam industri musik hari ini. Danny mengakui bahwa industri musik Indonesia kini telah berubah. Di mana, industri musik sekarang tidak ada lagi margin untuk fisik (kaset).

"Jadi, bukan untuk men-judge, tapi memang industri musik sekarang ini untuk generasi sekarang. Karena jarang dari generasi kami beli musik dari iTunes atau platform digital lainnya," ucap Danny, vokalis Java Jive di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Danny juga mengungkapkan, untuk bisa bertahan di industri musik digital dan diterima oleh generasi sekarang, Java Jive berusaha mengikuti alurnya. Mulai dari media sosial sampai YouTube.

"Kita berusaha waktu itu bergabung dengan ikon milenial dengan followes banyak, tapi ternyata treatment mereka menyamakan kita seperti di label dulu. Kita juga pernah di sodorkan kontrak, dan lebih kejam dari 27 tahun lalu," cerita Danny sambil tertawa.

Kendati seperti itu, kata Danny, Java Jive bukan berarti ingin diistimewakan, tapi hanya ingin berkolaborasi dengan baik, di mana Java Jive punya materi, sejarah, dan generasi sekarang punya followers. "Kita bangun konten yang bagus. Kita sudah berusaha seperti itu," jelas Danny.

Untuk menjawab persoalan seperti itu, Danny menambahkan, jawabannya yakni dengan mengeluarkan single. Bahkan, single juga menjadi jawaban moral Java Jive yang hidup dari musik. "Selama kamu dihidupi oleh musik, harus terus bermusik dong. Dan Java Jive dikenal sebagai recording artist, kami terus berusaha, minimal mengeluarkan single," ungkap Danny.

Untuk single lagu sendiri, Fatur menambahkan, bahwa Java Jive sudah rutin setiap dua tahun menciptakan single. Hal itu sudah berjalan sejak lima tahun belakang. "Kita berusaha adjusting dengan zaman sekarang," tandas fatur. *** (SS)

SHARE