Efek Rumah Kaca: Musik Kami Tidak Akan Bergeser! - Male Indonesia
Interview
Efek Rumah Kaca: Musik Kami Tidak Akan Bergeser!
Gading Perkasa | News

Siapa yang berani bernyanyi. Nanti akan dikebiri… Siapa yang berani menari. Nanti kan dieksekusi…” Begitulah penggalan lagu Efek Rumah Kaca berjudul ‘Jalang’, yang menggambarkan betapa sulitnya menyuarakan kebebasan di negeri sendiri.

Photo: Gading Perkasa/MALE Indonesia

Dari sekian banyak band di tanah air, Efek Rumah Kaca boleh dibilang merupakan salah satu band beraliran pop yang gemar mengangkat isu seputar keresahan sosial. Lantas, apakah mereka bakal tetap bersuara ‘lantang’ di karya selanjutnya? Simak wawancara eksklusif MALE Indonesia bersama mereka di bawah ini.

Kesibukan Efek Rumah Kaca?
Kalau lagi nggak ada jadwal main, paling kita ngurusin Kios Ojo Keos. Ada juga yang bantu teman di band lain. Si Airil (Poppie) freelance designer dan volunteer di Kios Ojo Keos.

Sudah punya tiga album selama berkarier, yang terakhir Sinestesia. Kira-kira apa yang menyebabkan proses pembuatan sebuah album memakan waktu lama?
Kita kan tidak mungkin nahan kalau sudah punya karyanya. Masalahnya, karya yang mau dikeluarkan belum ada. Jadi kreativitasnya seperti kurang. Pas muda, semangat dan kenyataan hidup yang dihadapi, dan inspirasi masih menggebu-gebu. Sekarang fokusnya terpecah, lebih sulit. Tapi kita tetap struggling, berusaha untuk bisa bikin musik sekuat mungkin.

Apakah bakal lahir album baru dalam waktu dekat?
Sebenarnya kita lagi rekaman, cuma belum selesai. Nanti kalau sudah jadi, pasti kita luncurkan ke pasar.

Tema yang diangkat masih seputar isu sosial, atau justru menyajikan tema baru yang berbeda dari tiga album sebelumnya?
Hampir sama seperti album-album yang lalu. Karena setiap lagu Efek Rumah Kaca adalah potret kehidupan kami bertiga. Jadi kayanya gak akan jauh bergeser, mungkin kita akan elaborasi di wilayah musik yang belum pernah dicoba. Kira-kira itu. Baru nanti kita bahas temanya seperti apa.

Berarti, kritik sosial tetap ada?
Ada di antaranya. Sebenarnya, lagu-lagu Efek Rumah Kaca bukan sosial politik doang. Karena setiap album, lagunya bermacam-macam. Menggambarkan kehidupan kita. Kita mengalami permasalahan sosial politik, pribadi, keluarga, dan lain-lain. Di album yang akan datang, sepertinya masih sama. Porsinya ada. Mungkin, karena band pop yang ngomongin sosial politik kenceng cuma sedikit, jadinya kita ter-highlight. Agak susah juga mengikuti selera pasar. Karena kalau boleh jujur, justru tema itu yang memanggil kita. Generasi muda juga ngomong tentang pemilu. Partisipasi mereka juga lebih tinggi dari tahun ke tahun. Awareness atau kesadaran terkait politik di generasi sekarang berbanding lurus dengan itu.

Persiapan setiap personel Efek Rumah Kaca menjelang konser?
Istirahat dulu, tidur. Konser di luar kota pun, kami jarang jalan-jalan. Paling kalau setelah manggung masih ada waktu kosong, baru kita jalan. Takut mainnya jelek, karena kita dari pagi sudah di bandara. Makanya kita istirahat, biar konsernya lancar. Ketika fisik tidak prima, tentu kepikiran. Grogi tetap ada, dan itu memacu adrenalin kita untuk tampil lebih bagus di atas panggung.

Pernah ribut sama penonton?
Ribut atau rusuh, untungnya nggak pernah. Perubahan karakter penonton memang terlihat. Misalnya, belakangan ini orang lagi senang crowd surfing. Jadi apa pun lagunya, hiburan mereka seperti itu. Malah di ‘Tiba-Tiba Suddenly Rekaman’ itu sangat berkesan buat kami. Konsepnya beda banget. Semua jadi vokalis. Kadang kalau kita bikin eksperimen itu asyik, karena kita gak bisa duga hasilnya kaya apa. Tetap dikonsep, tapi tidak lama. Apakah kategorinya spontan, ya kita gak tahu. Haha.


Photo: Gading Perkasa/MALE Indonesia

Kalian sempat ambil bagian di SXSW Amerika beberapa waktu lalu. Kira-kira, perbedaan apresiasi musik di luar negeri dengan dalam negeri seperti apa?
Kalau yang kita rasain di sana, tempat kita main malah nggak menyediakan alat. Kita sampai sharing peralatan dengan band lain. Bahkan waktu setting alat tidak ada yang menyiapkan. Secara produksinya, kita sama-sama. Tempat kita main cukup besar. Waktu kita bawain lagu kedua, penonton yang tadinya duduk minta mendekat ke panggung. Itu yang kita gak nyangka, bahwa mereka mau mendengarkan kita. Pengalaman lain yang agak unik, saat fotokopi poster untuk main malam itu, ada orang tanya ke kita. Dia akhirnya mencari tahu Efek Rumah Kaca dari Indonesia. Responnya humble. Dia juga mengusahakan datang di acara kita. Sampai segitu luar biasa respon dia. Kalau di New York, cari penonton berjuang banget. Sebuah klub bisa datengin 50 penonton itu sudah bagus, karena terlalu banyak acara. Kita benar-benar berebut untuk mendapat audiens. Kecuali dia sudah cukup terkenal, pasti penonton akan datang dengan sendirinya.

Aktivitas lain di luar bermusik, seberapa sering?
Jarang olahraga, paling mencoba menekuni yoga buat kesehatan. Berusaha menyempatkan diri membaca buku, setidaknya punya target dua buku selesai dalam sebulan. Belajar editing video juga. Mudah-mudahan berhasil.

Penggemar wanita kalian, apakah cukup banyak?
Rata-rata penggemar musik kami malah cowok. Apalagi yang sampai naik ke atas panggung. Sudah tua begini, apa iya masih bisa menggaet milenial cewek. Hahaha. Tapi sejauh mata memandang, kebanyakan yang nonton cowok. Paling beberapa aja kelihatan di bagian depan. Kalau antre foto, paling 3 dari 10 itu cewek.

Pernah dapat permintaan yang ‘aneh’ dari penggemar?
Banyak banget. Ada yang minta tanda tangan di karya orang lain, minta motivasi. Itu sih aneh menurut kita, gak ada relevansinya. Bingung mau respon apa.

Efek Rumah Kaca sudah manggung di dalam negeri maupun luar negeri. Terus, di masa mendatang kalian bakal seperti apa?
Kita bergerak berdasarkan peluang. Dan tidak pernah punya mimpi khusus. Seperti di SXSW kemarin, giliran ada peluang, kita berusaha keras untuk mencapainya. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, asalkan bisa terus berkarya. Cara kita menghasilkan karya, menambah pengetahuan, baca buku, dengarkan musik, lihat fenomena, asah kemampuan. Memperkaya diri sendiri agar dapat membuat karya lebih bagus lagi. [GP]

SHARE