Yokohama, Jejak Amerika di Negeri Sakura - Male Indonesia
Yokohama, Jejak Amerika di Negeri Sakura
MALE ID | Relax

Dulu, Yokohama hanyalah desa kecil yang dihuni para nelayan dan belum menjadi kota besar seperti sekarang. Kehidupan di kawasan ini perlahan berubah ketika Matthew C. Perry bersama armada dan kapal perang Angkatan Laut AS menginjakkan kakinya di kota tetangga, Kanagawa, pada 1853.


Photo: Pixabay

Mengutip dari National Geographic, lima tahun pasca kedatangan armada AS, Kanagawa ditetapkan sebagai pelabuhan pertama Jepang. Dengan begitu, orang-orang asing bisa tinggal dan berdagang di sana.

Sayangnya, Kanagawa saat itu menjadi salah satu pos penting dan jalanan utama sehingga pemerintah Jepang tidak suka ada orang asing bisa mengaksesnya dengan bebas. Sebagai gantinya, mereka kemudian mendirikan pelabuhan di Yokohama, yang terisolasi dari jalan raya.

Berjalannya waktu, Yokohama berkembang pesat menjadi salah satu pelabuhan utama dan pusat perdagangan di Negeri Sakura. Walau sempat hancur akibat gempa bumi dan kebakaran, serta korban serangan udara Sekutu selama Perang Dunia II, Yokohama bisa bangkit. Laju pembangunannya pun melesat pada 1950-an.

Perkembangan populasi meningkat setelah 1960. Dan pada 1980, Yokohama mengalahkan Osaka sebagai kota terbesar kedua di Jepang. Rekor ini pun masih bertahan hingga kini.

Yokohama juga merupakan ‘pintu masuk Jepang’. Sejak pelabuhan dibuka, kota ini sangat bersemangat menerima budaya dan informasi baru dari penjuru dunia. Yokohama, yang kerap disebut sebagai Hamakko, terbuka untuk mengadopsi segala hal baik.


photo: MaxPixel

Pemandangan anak muda bermain bola kaki di sekitar pelabuhan, atau mereka yang memotret suasana kota seolah menceritakan bagaimana Yokohama bertransformasi sebagai kota modern yang tetap memelihara nilai masa lalu.

Kota ini dapat dibilang sukses memadukan nilai-nilai sejarah dan modernitas. Bukan cuma museum, melainkan juga gedung-gedung tinggi di sana. Yokohama mengikuti perkembangan zaman, namun tidak lupa menghargai seni tradisional Jepang.

Salah satu bentuk kolaborasi masa lalu dan masa kini dari Yokohama adalah Red Brick Warehouse. Dulunya, bangunan ini berfungsi sebagai gudang penyimpanan barang-barang yang dibawa kapal dagang asing. Sekarang, ia dimanfaatkan sebagai kafe, restoran, toko, teater dan konser.

Tak tanggung-tanggung, bangunan berjuluk “Aka Renga Soko” ini juga menjadi salah satu tempat kencan paling populer di Yokohama.

Mengunjungi ‘Gudang Batu Bata Merah’ ini sangat menarik, karena mampu menghidupkan kembali sedikit masa lalu Yokohama. Jika berjalan di sekitar Red Brick Warehouse, Anda bisa merasakan sisa-sisa kehadiran orang Amerika di Jepang, sekaligus kehidupan warga lokal dulu. [GP]

SHARE