3 Mitos yang Berkaitan dengan Percetakan 3D - Male Indonesia
3 Mitos yang Berkaitan dengan Percetakan 3D
MALE ID | Digital Life

Additive Layer Manufacturing atau yan lebih populer disebut dengan printer atau percetakan 3D, adalah proses di mana materi digabung di bawah kontrol komputer untuk membuat objek tiga dimensi, dengan material yang ditambahkan bersama-sama (seperti molekul cair atau butiran bubuk yang digabungkan bersama). 


Photo: splotramienny dari Pixabay 

Sebenarnya, proses pembuatan cetakan 3 dimensi ini masih sama dengan yang digunakan pada printer inkjet standar, yaitu printer membuat banyak lapisan cetakan warna agar membentuk sebuah objek agar terlihat seperti yang diinginkan. Yang membedakan dari keduanya yaitu printer 3D tidak menggunakan tinta melainkan bahan plastic molten wax dan lain sebagainya untuk membuat objek.

Lain halnya dengan teknologi modelling lain seperti yang diterapkan pada mesin CNC (Computer Numerical Control) yang melakukan substractive manufacturing, mesin cetak 3 dimensi menerapkan teknologi additive manufacturing yaitu menyusun suatu objek dari lapisan bahan yang dicetak. 

Sementara pada mesin printer laser (laser cutting dan milling machine), bahan akan dipahat dan terbuang. Mengutip laman Thenexweb, dibalik kecanggihan printer 3D ini, terdapat mitos yang berkembang. 

Semua Orang Bisa Mencetak Senjata Api
Desain untuk "senjata" yang dapat diproduksi pada printer 3D desktop pertama kali dibagikan di internet sekitar tahun 2013. Memang, sebagian besar ahli percaya senjata cetakan 3D mungkin lebih berbahaya bagi penggunanya daripada orang lain. 

Meskipun cetakan 3D bisa untuk mencetak sesuatu yang terlihat seperti pistol, tetapi mebuat sebuah pistol tidak cukup dengan printer 3D, karena masih membutuhkan komponen logam. Dan amunisi. Cetakan 3D bukan berarti bisa membuat semuanya.

Bisa Merusak Lingkungan
Beberapa orang khawatir bahwa, cetakan 3D bisa merusak lingkungan karena cetakan ini menghasilkan benda plastik. Sehingga akan menyebabkan masalah lingkungan. Sayangnya itu hanya mitos, pasalnya pencetakan 3D secara besar-besaran mengurangi pemborosan, dibandingkan dengan manufaktur tradisional “subtraktif” (pemotongan, pengeboran, dll). 

Kemudian bahan-bahan yang digunakan pun dapat terurai secara hayati. Misalnya, bahan nabati dapat digunakan untuk mengubah limbah makanan menjadi filamen untuk printer 3D. Pencetakan 3D menawarkan cara potensial menggunakan plastik daur ulang. Dan proyek-proyek seperti memulihkan habitat laut dengan mencetak 3D terumbu karang menunjukkan bagaimana kelestarian lingkungan dapat didukung oleh pencetakan 3D.

Menggantikan Pekerjaan Manusia
Selama bertahun-tahun, pencetakan 3D telah digambarkan sebagai pengganggu atau revolusioner. Seperti halnya teknologi dalam sejarah, istilah-istilah ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang kehilangan pekerjaan. Misalnya, bagi pengrajin kreatif. 

Pasalnya hal itu salah, karena printer atau cetakan 3D ini dapat membantu mengubah ide-ide cemerlang menjadi peluang bisnis dan karier. Pencetakan 3D juga telah memungkinkan pengusaha untuk membuat perangkat pemantauan berbiaya rendah yang memungkinkan petani kopi meningkatkan mata pencaharian mereka.

Kemudian untuk mereka yang bekerja di industri kreatif, melihat pencetakan dan desain 3D sebagai cara untuk memulai bisnis, menjadi kreatif kembali. *** (SS)

SHARE